Bingkai Kehidupan

Undangan dari Susan kuterima di kantor menjelang pukul tiga, ketika aku keluar dari ruang rapat. Rencana menyeduh kopi untuk mengusir kantuk segera terlupakan. Perhatianku tersita pada amplop yang didesain sangat bagus itu.

Saat kubuka sampul plastiknya, telepon di mejaku berdering.
Aku mengangkat telepon tanpa menghentikan upayaku mengeluarkan art-carton yang dicetak dengan spot ultra violet pada tulisan "Bingkai".

"Selamat siang, dengan Dudi, Auto Suryatama," sambutku automatically.

"Hai, tumben kamu ada di tempat!"
Seru suara dari seberang.

"Maaf, siapakah ini?"

"Susan! Kamu lupa suaraku? Padahal baru dua bulan yang lalu kita bertemu. Tak hanya bertemu, karena sepanjang dua malam kita bersama-sama." Ada nada gemas yang merasuk ke telingaku. "Sorry, aku telepon ke kantor. Hp-mu tidak aktif."

"Astaga!" Aku tertawa dan meminta maaf. Bukan tidak aktif, lebih tepat: nomornya berbeda. "Aku baru saja menerima sebuah undangan, jadi konsentrasiku bercabang. Tampaknya ini undangan darimu! Jadi rupanya kamu serius dengan rencana itu?"

"Tentu! Kenapa tidak? Kamu pasti ingat cita-citaku sejak SMA. Sudah sejak lama aku bermimpi bisa tinggal di Ubud. Tapi tidak mungkin aku terus-terusan berlibur membuang uang di sana. Jadi kuputuskan untuk mendapatkan kepuasan batin sekaligus finansial�"

"Aku harus bertepuk tangan untuk kegigihanmu. Hebat!"

"Ini juga karena ada bara cinta yang terus-menerus membakar."

Aku terkesiap mendengarnya.

"Cintamu, Dudi!" sambung Susan.

Entahlah: seharusnya aku melonjak gembira atau terkesiap waspada mendengar ucapannya yang demikian mantap? Tentu agak mengherankan jika seorang gadis Solo memekikkan kata itu, bukan membisikkan, yang mudah-mudahan tidak sedang antre di depan kasir supermarket.

"Dudi, kenapa kamu diam saja?"

"Oh, sorry! Sebenarnya aku mau melonjak-lonjak, tapi tentu salah tempat. Di depan mejaku sudah ada yang menunggu, mau membicarakan pekerjaan�"

"Oke, Sayang. Aku akan meneleponmu lagi nanti. After office hour, ya!"

Gagang telepon masih di telinga, menunggu Susan memutuskan hubungan. Bahkan setelah hubungan telepon terputus, seperti masih kudengar nada gembira Susan di telinga. Rembes ke dalam hati. Aku menghela napas seperti keluar dari ruang yang pengap, dan kusandarkan punggungku ke kursi yang lentur. Tak ada siapa-siapa di depanku. Jadi, aku tadi berdusta. Maafkan aku, Susan. Ternyata aku telah banyak berdusta. Tapi, percayalah, kasih sayangku kepadamu begitu jujur.

***

Seingatku tadi Ratih minta dibawakan kue, karena malam ini sepupunya akan datang. Sambil meluncur pulang aku merencanakan singgah di sebuah bakery. Ada toko kue langganan sebenarnya, tapi di tengah perjalanan aku terpikat pada kerumunan yang mengundang selera untuk mampir. Selintas kulihat, di kiri dan kanan tempat ramai itu juga ada kafe dan kedai roti. Jadi tak terlampau salah jika aku sejenak berhenti dan mencari tempat parkir. Untung Swift yang kukendarai bukan tipe mobil besar, sehingga mudah mendapatkan tempat.

Rupanya sedang berlangsung seremoni pembukaan sebuah galeri, yang ditandai dengan pameran karya para pelukis muda Surabaya. Kulihat sepintas, ada Joko Pekik di ruang benderang itu: ikut berpameran atau hanya diminta pidato? Entahlah! Yang terbayang olehku adalah peristiwa serupa, yang akan berlangsung minggu depan di Ubud. Dan di tengah lingkaran para tamu, kuangankan si anggun Susan, dengan rambut dibiarkan terurai, bak burung merak yang tersenyum lebar memperkenalkan galerinya.
Apa namanya tadi? Bingkai!

Aku turun dari mobil, melenggang masuk dalam kerumunan. Siapa pemilik galeri ini? Kalau Ratih tahu, tentu ingin juga "cuci mata" di sini, apalagi dia sedang keranjingan mengapresiasi seni lukis, gara-gara pernah diminta oleh majalah untuk menulis liputan pameran di Balai Pemuda.
Waktu itu dia mengeluh, karena tak tahu harus mulai dari mana untuk menilai lukisan.

"Aku ini bisanya cuma menulis cerpen, kenapa disuruh membuat apresiasi lukisan, bagaimana sih?!�

Aku nyaris terpingkal melihat dia mencak-mencak. Tapi rasa ingin tahu dan semangat belajarnya cukup tinggi, sehingga waktu itu, selang sehari dia bisa bertemu dengan beberapa pelukis. Bahkan hari berikutnya dia berhasil membuat janji dengan seorang kurator untuk berbincang-bincang. Seharusnya kini ia berterima kasih kepada majalah wanita di Jakarta yang pernah memintanya untuk melakukan itu. Karena sekarang pikirannya lebih sensitif terhadap seni lukis dan grafis.

Sepuluh menit kuhabiskan waktu di galeri yang berinterior minimalis. Meskipun tampaknya tidak perlu menunjukkan undangan, tapi aku tentu bukan tamu yang dimaksud.
Selanjutnya aku masuk ke kedai roti di sisi kanan, dan memenuhi pesanan Ratih.

Sepanjang sisa jalan pulang, yang kupikirkan adalah cara pergi ke Bali. Meskipun Surabaya tak terlampau jauh dari Bali, rencana ke sana di luar tugas kantor tentu akan memancing keinginan Ratih untuk ikut. Itu tak boleh terjadi! Tidak mungkin mempertemukan dua perempuan yang kusayang itu dalam satu ruang dan waktu. Bukan khawatir akan menjadi gagasan buruk sebuah novel bagi Ratih, tetapi pasti menyebabkan tiupan badai yang kemudian merubuhkan perkawinan.

Jadi, mesti ada perjalanan dinas ke Bali! Barangkali, agar tidak terlampau mencurigakan, isu itu harus kuembuskan ke telinga Ratih sejak dini. Nanti malam, sebelum bercinta. Dengan demikian, tidak terkesan sebagai kepergian mendadak. Tapi� astaga, bukankah benak perempuan sering dihuni oleh akal yang fantastik? Bisa jadi, karena waktunya masih lama, Ratih membongkar tabungan dan berinisiatif untuk ikut. Dengan cara itu, biaya penginapannya gratis, bukan?

Keringat mengembun di keningku. Tiba-tiba pendingin udara dalam mobil terasa tak sesejuk biasanya. Mungkin sebaiknya kusampaikan sehari menjelang keberangkatan. Sambil pura-pura mengeluh: kenapa perusahaan tidak pernah mempertimbangkan karyawan, seenaknya saja menugaskan keluar kota tanpa perencanaan yang matang. Aha, aku tersenyum membayangkan reaksi Ratih, yang akan menghibur dengan: "Ya sudahlah, namanya juga tugas. Tentu ada hal yang bersifat urgent di sana." Seraya mengelus pipiku. Dan aku akan memeluknya dengan manja seperti bayi.

Tapi tarikan pipiku berubah. Senyumku beralih rasa cemas. Bagaimana jika Ratih justru menyikapi dengan kalimat seperti ini: "Ya sudah, biar tidak suntuk di sana, aku ikut menemani.
Malamnya kan bisa jalan-jalan ke kafe di Legian atau Kuta."

Belokan terakhir menjelang tiba di rumah mendadak terasa tidak nyaman. Padahal tak ada polisi tidur di situ. Tapi aku berharap jarak yang kutempuh masih panjang dan perlu beberapa lampu merah. Agar sempat mengatur strategi yang paling masuk akal. Namun pikiran itu tercerabut sewaktu telepon selularku bergetar. Susan!

"Hai, aku lupa meneleponmu! Tadi ada kawan yang tanya ini-itu soal acara di Ubud. Biar murah aku menggunakan event organizer milik teman SMP-ku."

"Oh, no problem. Kebetulan aku sudah di jalan raya."

"Ya sudah, aku paling benci melihat orang mengemudi sambil telepon. Sampai besok, ya. Mmmuah!"

Rasanya pipiku jadi basah oleh sentuhan bibirnya. Kuembuskan napas keras-keras dan mengharap rasa nyaman masuk ke dalam hati. Pagar rumah sudah di depan mata. Langit mulai gelap, lampu-lampu teras di kompleks perumahan sudah menyala. Dan seperti biasa, pembantu segera menarik-geser gerbang besi yang warnanya sudah mulai pudar. Aku memarkir mobil ke carport.

"Ingat pesananku?" Ratih menyambut di pintu.

"Tentu, Cantik." Kuangkat tinggi-tinggi oleh-oleh titipannya.

"Terima kasih." Dipeluknya aku, meskipun aroma tubuhku tak sesegar tadi pagi. Lalu jemarinya membuka dasi dari leherku. Mudah-mudahan itu bukan caranya mencari harum parfum lain yang mungkin menempel di bajuku.

Yang tak ingin terjadi adalah: Ratih menemukan undangan Susan. Aku mesti menyimpannya di tempat yang jauh dari jangkauan Ratih.

***

Aku akan datang sehari sebelum grand opening Galeri Bingkai, yang ternyata letaknya tak jauh dari Galeri Rudana. Tempat yang sungguh rupawan dan sesuai dengan selera Susan. Dia seorang pemilih yang baik. Dia pula yang memilihkan hotel ketika aku bertugas ke Solo.

"Kamu harus menginap di Lor In," usulnya. Karena tempat itu memiliki banyak taman yang khas gaya Bali. Walaupun, ketika sudah melebur di kamar tidur yang luas, nyaris tak berbeda dengan hotel lain. Ingatanku justru selalu tersangkut pada rambut Susan yang berulang kali memenuhi wajahku. Biasanya kesibukan yang membuat tubuh kami lembab itu akan berakhir dengan aroma terapi di seluruh kamar mandi. Harum cendana memenuhi bath-tub.

"Cantik, akhir-akhir ini kamu begitu sibuk." Aku menelepon Ratih dari kantor.

"Ya. Dalam seminggu ini aku harus sudah selesai memeriksa dan memberikan persetujuan pada calon bukuku sebelum naik cetak. Kenapa?"

"Besok aku tugas ke luar pulau. Ke Lombok, tapi mungkin singgah di kantor cabang Bali dulu. Aku belum sempat membereskan kopor, bisa minta tolong?"

"Oke, tak masalah. Kok mendadak? Berapa hari?"

"Baru kudapat surat tugasnya tadi siang. Sekarang aku harus mengambil tiket sendiri ke agen. Sekitar tiga-empat hari, tergantung bagaimana kondisi network di Lombok."

"Ya sudah, jangan malam-malam pulangnya.
Kamu perlu istirahat malam ini."

Tentu tidak akan larut malam, karena sebenarnya tiket sudah kupegang. Tapi yang penting aku tahu, Ratih begitu sibuk membaca ulang naskahnya yang sudah di-setting.

Rasanya tadi Ratih mengingatkan agar aku cukup istirahat malam ini. Tetapi yang dilakukan berbeda dengan sarannya. Ia menandai halaman buku yang sedang dibaca, menyurutkan lampu kamar hingga temaram, lalu masuk ke bawah selimutku. Cumbuannya selalu dimulai dari bibir. Mungkin untuk mengingatkanku bahwa ia sesungguhnya tak hanya cerewet, tapi juga cekatan ketika pekerjaan larut malamnya dilakukan tanpa kata-kata.

Sorot kedua matanya yang sedikit sipit kelihatan begitu sejuk dalam pandanganku, hidungnya yang putih mancung mendengus pelan, dan bibirnya yang ranum kemerahan terlihat basah setengah terbuka, duh cantiknya. Kukecup lembut bibir Ratih yang setengah terbuka. Terasa begitu hangat dan lunak. Kupejamkan kedua mataku menikmati kelembutan bibir manisnya. Kukecup wanitaku itu dan kuresapi segala kehangatan yang dia berikan. Kuraih tubuhnya yang berada di atas tubuhku dan kubawa ke dalam pelukan.

"Apa yang akan kau berikan padaku sebagai kenang-kenangan?" bisiknya lirih setengah kelihatan malu.

Kedua tanganku yang memeluk pinggang rampingnya, terasa sedikit gemetar memendam sejuta rasa. Dan tanpa terasa jemari kedua tanganku telah berada di atas pantatnya yang bulat, sekal dan padat.
Lalu perlahan kuusap mesra sambil kuberbisik, "Kamu pasti tahu apa yang akan kulakukan. Akan kupuaskan nafsumu, Cantik." bisikku pelan. Jiwaku telah terlanda gairah.
Kuelus-elus seluruh tubuhnya, ahh.. mulus sekali. Dengan sedikit gemas kuremas-remas kedua belah pantatnya yang terasa kenyal dan padat.

"Oouuhh..." Ratih mengeluh lirih.

Aku berusaha menahan diri untuk tidak bersikap over atau kasar terhadapnya, walau nafsu seks-ku saat itu terasa sudah diubun-ubun. Aku ingin memberinya seks yang penuh dengan kelembutan dan kemesraan. Dengan gemas, aku kembali melumat bibirnya. Kusedot dan kukulum bibir tipisnya secara bergantian, atas dan bawah. Kecapan-kecapan kecil kami terdengar begitu indah, seindah cumbuanku pada bibir Ratih. Kedua jemariku masih terus mengusap-usap sembari sesekali meremas pelan kedua belah pantatnya yang bulat dan kenyal. Oooh, terasa begitu nikmat. Kurasakan kedua lengan Ratih telah melingkar di leherku dan jemari tangannya kurasakan mengusap mesra rambut kepalaku.

Batang kejantananku terasa semakin membesar, apalagi karena posisi tubuh kami yang saling berpelukan erat, membuat batang kejantananku yang menonjol dari balik celana jadi terjepit dan menempel keras di perut Ratih yang empuk.

Sejenak, kulepaskan pagutan bibirku pada bibirnya. Kupandangi wajah cantiknya yang tersenyum manis padaku. Kuturunkan kepalaku sambil terus menjulurkan lidah di permukaan perutnya yang langsing dan terus turun sampai ke daerah yang paling kusukai.

"Ohhhhhh... Apa yang akan kau lakukan.. akhhhhh.." desis Ratih sambil memejamkan mata menahan kenikmatan yang dirasakannya. Beberapa saat kemudian tangan itu malah mendorong kepalaku semakin ke bawah dan...

"Nyam-nyam..." langsung kesergap dan kujilati kemaluannya. Kuserang bukit kecil yang berwarna merah merangsang itu dengan lidahku. Kusibakkan kedua bibir kemaluannya dan, "Creep.." ujung hidungku kupaksakan masuk ke dalam celahnya yang sempit yang sudah sedari tadi becek itu.

"Aaahh.. kamu nakal," jeritnya cukup keras. Terus terang, kemaluan Ratih adalah vagina terindah yang pernah kucicipi. Bibir kemaluannya yang merah merekah dengan bentuk yang gemuk dan lebar itu membuatku semakin bernafsu saja. Bergiliran kutarik kecil kedua belah bibir kemaluannya dengan mulutku.

"Ooohh... lidahmu! Oooh... nikmatnya!" lirih Ratih sambil menggelinjang.

Sementara aku asyik menikmati bibir kemaluannya, ia terus mendesah merasakan kegelian, persis seorang gadis perawan yang baru merasakan seks untuk pertama kali. Memang begitu tabiat Ratih kalau vaginanya kukerjai.

"Ahh.. sayang, aku ingin cicipi punya kamu juga," katanya seperti memintaku menghentikan tarian lidah di atas kemaluannya.

"Ahh.. baiklah. Sekarang giliranku, Cantik." Aku pun berdiri dan mengangkang di atas wajahnya yang masih berbaring.

Ratih langsung meraih batang kemaluanku dan sekejap terkejut menyadari ukurannya yang sudah begitu besar. �Cepet banget!� bisiknya lirih sambil menjulurkan lidahnya ke arah kepala penisku yang sudah memerah. "Ini nggak akan cukup masuk ke- aahhhhh... mmhhmm.. nggmmmmm..!!!" belum lagi kata-kata isengnya keluar aku sudah menghunjamkan burungku dalam-dalam dan, "Croop.." langsung memenuhi rongga mulutnya yang mungil itu. Matanya menatapku dengan pandangan lucu, sementara aku sedang meringis merasakan kegelian yang justru semakin membuat senjataku tegang dan keras.

"Aduh... enak banget, Cantik! Ooohh... nikmatnya! Ooohh..." rintihku menikmati sedotan dan kocokannya pada batang kemaluanku yang keluar masuk di mulutnya dengan lancar. Tangan kananku meraih payudaranya  yang menggelayut besar dan bergoyang-goyang kesana kemari, sementara  tangan kiriku memberi rabaan di punggungnya yang halus. Sesekali Ratih menggigit kecil kepala kemaluanku yang semakin membengkak dan membesar.

"Mmhh... hmmhh..." hanya itu yang keluar dari mulutnya seiring telapak tanganku yang meremas keras daging empuk di depan dadanya.

"Sluppp..." Ratih mengeluarkan penisku dari mulutnya.
Aku langsung turun dan menyergap pinggulnya, dan lagi-lagi kuserbu daerah selangkangannya yang sedikit berbulu itu. Kusedot cairan kewanitaannya yang sepertinya sudah membanjir di bibir kemaluannya.

"Aoouuhh... aku nggak tahan lagi, sayang. Ampuun! Hhhmmm... masukin sekarang juga, ayoo...!" pinta Ratih sambil memegangi pantatku.

Segera kuarahkan batang kemaluanku ke selangkangannya yang tersibak indah itu. Kutempatkan penisku tepat di depan liang kemaluannya yang sudah terbuka lebar, pelan kutempel bibir kemaluannya dan kudorong pinggulku.

"Ngghhhggg.. Aaahhhhhh.. Ooohh... masuuk! Aduh, besar sekali, sayang, oogghhhhhhh.." Ratih merintih, wajahnya memucat seperti orang yang kehabisan darah.

Aku tahu kalau itu adalah reaksi dari bibir kemaluannya yang terlalu rapat untuk ukuran burungku. Buah dadanya yang membusung besar langsung kuhujani dengan kecupan-kecupan pada kedua putingnya secara bergiliran, sesekali aku juga berusaha mengimbangi gerakan turun naiknya diatas pinggangku dengan cara mengangkat-angkat dan memiringkan pinggul hingga membuatnya semakin bernafsu, namun tetap menjaga ketahananku dengan menghunjamkan kemaluanku pelan-pelan.

Tangannya menekan-nekan kepalaku ke arah buah dadanya yang tersedot keras sementara burungku terus keluar masuk semakin lancar dalam liang senggamanya yang terasa sedah semakin banjir dan amat becek itu. Puting susunya yang juga merupakan titik nikmatnya kugigit kecil hingga Ratih berteriak kecil merintih menahan rasa nikmat yang sangat hebat

Puas memainkan kedua buah dadanya, kedua tanganku meraih kepalanya dan menariknya ke arah wajahku, sampai disitu mulut kami beradu, kami saling memainkan lidah dalam rongga mulut secara bergiliran. Setelah itu lidahku menjalar liar di pipinya, naik ke arah kelopak matanya, melumuri seluruh wajah cantik itu dengan air liurku, dan menggigit daun telinganya. Genjotan pinggulnya semakin keras menghantam pangkal pahaku, burungku semakin terasa membentur dasar liang senggamanya.

"Ooohh.. aaaahh.. aahhhhh..
geli, mass! Ooohhhhhh... tapi enak!" desah Ratih tak henti-henti.

"Yah, aku juga enak, Cantik. Rasanya nikmat sekali, yeaahh.. Genjot yang keras, sayang. Tubuhmu nikmat sekali. Ooohh... enaakk..
oohhhh.." kata-kataku yang polos keluar begitu saja tanpa kendali. Tanganku yang tadi berada di atas kini beralih meremas bongkahan pantatnya yang bahenol itu. Setiap ia menekan ke bawah dan menghempaskan kemaluannya tertusuk burungku, secara otomatis tanganku meremas keras bongkahan pantatnya. Secara refleks pula vaginanya menjepit dan berdenyut seperti menyedot batang kejantananku.

Sepuluh menit setelah itu, goyangan tubuh Ratih terasa menegang, aku mengerti kalau itu adalah gejala orgasme yang akan segera diraihnya.

"Mas.. aahhh aku nggak... kua... aahhhhhhhhhhhhh.." jeritnya.

"Tahan, Cantik. Tunggu aku dulu. Hggggg.. oohhhhh... enaknya! Tahan dulu.. jangan keluarin dulu.." Tapi sia-sia saja, tubuh Ratih menegang kaku, tangannya mencengkeram erat di pundakku, dadanya menjauh dari wajahku hingga kedua telapak tanganku semakin leluasa memberikan remasan pada buah dadanya. Aku sadar sulitnya menahan orgasme itu, hingga aku meremas keras payudaranya untuk memaksimalkan kenikmatan orgasmenya.

"Ooo.. ngghhhh.. aahhhhh.. sayang, oohhhhh... enak banget! Aku keluaar.. oouugghhhhhhhhhhhhh..." teriaknya panjang mengakhiri babak permainan itu.

Aku merasakan jepitan kemaluan Ratih disekeliling burungku mengeras dan terasa mencengkeram erat sekali, desiran zat cair kental terasa menyemprot enam kali di dalam liang kemaluannya sampai sekitar sepuluh detik kemudian ia mulai lemas dalam pelukanku.

Sementara itu, makin kupercepat gerakanku, makin terdengar dengan jelas suara gesekan antara kemaluanku dengan vaginanya yang telah basah oleh cairan.

"Aaakhhhhh.. enakk!" desah Ratih sedikit berteriak.

"Cinta, aku juga mau keluar.
Aarrgghhhhh.." desahku.

"Keluarkanlah, sayang." balasnya.

"Ughh.. aagghhhhh..." teriakku agak keras saat spermaku yang kental keluar dan menyembur di dalam kemaluan Ratih.

Kelelahan, kami menikmati sisa-sisa orgasmo yang masaih melanda dengan berpelukan erat dan saling berciuman tanpa ada berani bersuara. Sebelum tertidur, Ratih membiarkan wajahku menyusup ke lehernya.
Ke dekat urat nadinya. Setidaknya ia tahu bahwa napasku terembus penuh cinta. Tetapi besok, begitu tiba di Denpasar, kutelepon Ratih seperlunya, selanjutnya aku akan menggunakan nomor lain. Hanya Susan yang tahu nomor itu. Bagaimanapun, berdusta itu mendebarkan!

***

AKU memarkir mobil yang kupinjam dari kantor cabang di Bali. Senja baru saja lenyap. Aku langsung check-in dan menunggu di kamar hotel setelah sebelumnya aku memberitahu Susan bahwa aku sudah sampai. Tapi sampai  3 jam aku menunggu, Susan tidak muncul-muncul.  

Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, ketika tiba-tiba ada ketukan halus dari pintu kamarku. Dengan berdebar-debar aku pun bergegas mengintip dari pintu, ternyata Susan! Ketika aku bukakan pintunya, Susan langsung bergegas masuk meninggalkan aku di depan pintu sambil terbengong-bengong. Hari itu dia menggunakan kaus hitam berkerah rendah dilapisi dengan blazer coklat tua, dengan rok panjang hitam bercorak pudar.

�Nggak capek, sayang?� sapa Susan sambil membuka blazernya.

Tanpa menjawab, aku mengecup mesra pipi wanita cantik itu. �Aku kangen,� bisikku dengan tangan melingkar di payudaranya yang besar dan meremas pelan.

�Ughh,� Susan merintih. �Aku mandi dulu ya,� dia menyingkirkan tanganku dan beranjak ke kamar mandi. �Tunggu disitu, jangan kemana-mana.� bisiknya dengan kerling mata nakal.

Aku menunggu sambil menonton TV, kulepas kaos dan celanaku. Aku cuma memakai celana dalam saja biar Susan tahu kalau aku sudah siap tempur.

Susan keluar dari kamar mandi dengan mengenakan baju tidur model handuk. �Sudah nggak sabar, ya?� tanyanya sambil tersenyum manis.

Aku mengangguk, �Sekamar dengan bidadari seperti kamu, siapa sich yang tahan.� kuraih tubuhnya dan kutarik ke pelukanku.

�Auw!� Susan memekik kaget. Saat aku ingin mencium bibirnya, Susan menarik diri. �Pijat aku dulu, ya. Badanku capek.� pintanya dengan wajah memelas.

Aku tidak sampai hati untuk menolaknya, jadi... �Dimana yang sakit?� aku bertanya.

"Sini, leher dan punggung aku.� Susan menunjuk bagian belakang tubuhnya.

Aku segera berdiri, sementara Susan duduk di kasur. Aku mulai memijat lehernya yang mulus dan putih bersih, kutekan dengan lembut. Merasakan kulitnya yang halus membuatku makin terangsang, apalagi ketika Susan menurunkan kerah baju tidurnya sedikit ke bawah hingga aku bisa mengintip belahan payudaranya yang cukup besar karena rupanya Susan tidak mengenakan apa-apa lagi di balik tubuhnya yang sintal. Wangi sabunnya yang segar juga menusuk hidungku.

Sini, sayang. Punggungnya." Kataku.

�Iya, di situ juga pegal." sahutnya.

Dengan nakal tanganku mengusap-usap punggungnya sementara hidung dan mulutku menggelitik lehernya yang putih, bersih dan mulus serta berbulu halus itu. Tiba-tiba Susan berpaling ke arahku dan mencium bibirku dengan kuat. Bibirnya yang mungil dan lembut melumat mulutku dengan rakus. Rupanya dia juga sudah mulai terangsang.

"Sayang, aku kesepian. Aku membutuhkanmu." bisiknya.

Aku tidak bisa menjawab karena Susan keburu memasukkan lidahnya ke mulutku dan mengajak lidah kami bertautan. Tanganku yang ada di punggungnya ditarik ke arah payudaranya sehingga putingnya dan payudaranya yang kenyal tersentuh tanganku. Hal ini membuatku semakin terangsang.

Aku pun merubah posisiku. Aku bergeser ke depan hingga sekarang aku berhadapan dengan Susan yang telah meloloskan baju tidurnya sebatas pinggang hingga payudaranya yang bulat dan padat terlihat jelas olehku. Aku tertegun, setelah sekian tahun tidak bertemu, tubuh Susan ternyata masih tetap seperti dulu, masih tetap sintal dan menggiurkan seperti saat pertama kali kita ketemu.

"Say, kok bengong?� tanyanya. �Kamu kecewa ya dengan tubuhku?� dia menggoyangkan payudaranya hingga sepasang daging kembar itu berombak bertabrakan satu sama lain. Sungguh pemandangan yang begitu indah di malam yang sunyi ini.

"Ah, ng-nggak.� aku menggeleng. �Justru, aku sangat menyukainya.�

�Kalo begitu, cepat lakukan! Aku membutuhkanmu!� Susan menarik tubuhku hingga aku jatuh di atas tubuhnya, lalu bibirku dikecupnya kembali, lebih dalam dan lebih liar.

Aku yang terangsang membalasnya dengan memasukkan lidahku ke dalam mulutnya. Susan langsung menyedot dan menghisap-hisapnya penuh nafsu. Tanganku yang sudah gatal segera bergerilya pada payudaranya. Kuremas-remas benda bulat berukuran 36B itu, putingnya yang mungil kemerahan kupilin-pilin kecil hingga membuat Susan menggoyangkan tubuhnya karena keenakan.

Tangan Susan yang mungil menggerayang ke bawah dan meraih batangku yang masih berada di balik celana dalam. Diusap-usapnya benda itu hingga batangku menjadi semakin mengeras dan membengkak. Susan menurunkan sedikit celana dalamku dan tangannya menelusup masuk. Dia mengorek-ngorek disana hingga tersentuhlah kepala penisku. Susan langsung menggenggam dan mengusap-usapnya pelan.

�Ough,� aku merintih gelisah.

Keringat kami mulai bercucuran. Payudaranya yang besar sudah tidak terpegang lagi olehku, tapi sebagai gantinya, mulutku sudah mulai menari-nari di atas putingnya. Kugigit, kuhisap dan kukenyot-kenyot benda mungil itu hingga Susan kelojotan karena kegelian, sementara tangannya terus mengocok penisku. Kusedot makin keras, dan kocokan Susan pun menjadi semakin cepat hingga batangku menjadi semakin menegang.

Kuraba-raba selangkangan wanita cantik itu. Ikatan baju tidurnya, karena menghalangi, segera kulepas hingga kini Susan telanjang sepenuhnya di depanku. Kontras dengan milik Ratih yang lumayan bersih, vagina Susan ternyata berbulu lebat. Tapi meski begitu, tetap tidak mengurangi daya tariknya. Aku tetap bernafsu melihatnya. Jari-jariku yang sudah tidak sabar segera menerobos masuk ke liangnya yang sudah basah dan bermain disana. Aku mengusap-usap dan menusuk-nusuk hingga membuat Susan makin mengelinjang dan makin mempercepat kocokan tangannya pada batangku.

Hampir 10 menit lamanya kukerjai vagina sempit itu hingga membuatnya menjadi semakin basah dan memerah.  Cairan yang keluar dari dalamnya tampak mengotori paha dan pinggul Susan yang bulat. Kulepaskan tanganku dan Susan melepaskan tangannya dari batangku yang sudah keras. Dia lalu berdiri dihadapanku, dicopotnya baju tidur acak-acakan yang masih melekat di tubuhnya. Dengan tinggi 167 cm, payudara berukuran 36B dan vagina mungil yang berbulu lebat, Susan berhasil membuatku menelan ludah saat melihatnya.

"Sayang, ayo. Puasin aku." pintanya.

"Tubuhmu bagus sekali," bisikku masih tetap tak berkedip.

"Ah, masa sih?" Susan tertawa.

"Iya, kalau saja kita ketemu lebih awal, pasti kamulah yang aku nikahi."

"Ah, kamu bisa aja."

"Iya, sungguh. Bener deh."

"Iya deh, iya. Sekarang, puasin aku dulu. Aku udah nggak tahan. Yang penting khan kamu bisa menikmati tubuhku sekarang." Susan lalu duduk lagi dan menurunkan celana dalamku hingga ke lutut. Dengan tak sabar dia menggenggam batangku dan mengocoknya. Meski semuanya tidak terpegang karena penisku yang terlampau besar tapi tangannya yang lembut terasa sangat mengasyikan.

"Say, burungmu besar sekali, pasti istrimu puas banget ya?" Mulut mungil Susan sudah menyentuh kepala penisku dan menjilatnya dengan lembut.

"Ah, nggak. Biasa aja kok." rasa lidahnya membuat diriku kelojotan, kepalanya kuusap dengan lembut.

"Hmm, kalau gitu, biar aku saja yang kamu puasin sekarang!" Batangku mulai dijilatnya sampai biji pelirku, Susan mencoba memasukkan batangku yang besar ke dalam mulutnya yang mungil tapi tidak bisa, akhirnya hanya kepala penisku saja yang bisa masuk ke dalam mulutnya.

"Oughh, Ok, sayang." Tapi hal ini pun sudah membuatku kelojotan karena saking nikmatnya lidah Susan menyentuh batangku dengan lembut.

Hampir 15 menit lamanya penisku dihisapnya hingga membuat benda itu menjadi agak basah oleh ludah Susan yang sekarang sudah tampak kelelahan. Setelah itu Susan duduk di Sofa dan sekarang aku yang gantian jongkok di hadapannya. Kedua kakinya kuangkat dan kuletakkan di bahuku. Vagina Susan terpampang di hadapanku dengan jarak cuma sejengkal hingga bau harumnya yang menyegarkan menusuk hidungku.

"Say, vaginamu wangi sekali, pasti rasanya enak sekali yah?" aku membuka bibirnya.

"Ah, masa sih, wangi mana dibanding punya istrimu?" tanya Susan.

"Jelas lebih wangi punyamu dong." Jawaban standar. Tak mungkin aku menjawab punya Ratih di saat aku sedang menghadapi vagina Susan. Bisa-bisa permainan ini jadi batal.

"Aaakkhh." Dan Susan langsung merintih begitu vaginanya kusentuh dengan lidahku. Kujilat lembut liang benda sempit itu. Rasanya begitu menyegarkan hingga membuatku jadi makin menjadi-jadi melumatnya.

"Say, vaginamu sedap sekali. Rasanya segar." kutusuk benda itu makin dalam dengan lidahku. Tak lupa juga kucucup klitorisnya yang rasanya juga sangat legit dan menyegarkan.

"Iya, Sayang. Auw! Baru kali ini ada yang menjilati vaginaku. Ougghhh... terus, sayang!" rintih Susan saat lidahku kuputar dalam vaginanya.

Biji klitorisnya yang mungil kujepit di lidahku lalu kuhisap sarinya yang mulai merembes keluar hingga membuat Susan menjerit keenakan dan tubuhnya yang sintal menggelepar ke kanan ke kiri di atas sofa, seperti cacing kepanasan.

"Ahhhhh.. ahhhhh.. oghhhhh.. auw! Aku keluar, say. AARRGGHHHHHHHHH...!!!� dia menggelinjang dan terpelanting kesana kemari. Dari  vaginanya menyembur cairan putih bening yang kental yang rasanya manis juga. Cairan itupun dengan cepat kuhisap dan kujilat sampai habis tak tersisa, baik di vagina maupun di pahanya.

Susan langsung ambruk di atas sofa dengan tubuh lemas tak berdaya, sementara aku yang merasa segar setelah menelan cairan vaginanya, langsung berdiri dan dengan cepat kutempelkan batang kemaluanku yang sudah tegang dari tadi tepat ke liang vaginanya. Susan yang mengetahui hal itu segera melebarkan kakinya sehingga memudahkanku menekan penis ke dalam vaginanya. Tapi meski begitu, aku tetap merasa liang vagina Susan tetap sempit dan sulit ditembus, aku pun keheranan.

"Say, vaginamu kok sempit ya, kaya jarang dipake?" aku bertanya.

"Kenapa, nggak enak ya?� sahut Susan.

"Justru aku sangat menyukainya.� kutekan lagi penisku.

Susan membuka kakinya makin lebar. �Aku memang nggak pernah ML lagi sejak berpisah denganmu. Aku ingin mempersembahkan tubuhku hanya untukmu, sayang.� bisiknya.

Aku mengecup pipinya dan terus menekan hingga perlahan namun pasti, batangku pun amblas masuk ke dalam vaginanya. Susan merintih. Aku segera membungkam mulut manisnya itu dengan ciuman mesra yang hangat.

�Ehm, rasanya nikmat sekali, say.� aku mendesis.

�Ahh, batangmu juga besar sekali, bikin vaginaku jadi terasa begitu penuh.� balas Susan.
Sambil berpegangan pada payudaranya yang besar, aku pun mulai menggerakkan pinggulku maju-mundur, menekan vagina Susan yang hangat dan basah hingga wanita cantik itu hanya bisa merintih dengan mata terpejam menahan rasa nikmat yang melanda tubuh sintalnya. Susan juga  menggoyang-goyangkan badannya hingga membuatku semakin bersemangat menggenjot tubuhnya. Kutusukkan seluruh penisku hingga benda itu masuk dalam-dalam ke liang vaginanya.

"Say, ngghhhh.. b-batangmu menusuk sampai ke perut nich.. agghhhhh.. agghhhhh.. aahhhhh.. enakhhhhh..!!!" Susan merintih. Aku pun merasa heran karena pada saat awal-awal tadi batangku terasa kesempitan, tapi sekarang bisa tembus sampai ke perutnya.

Sambil terus menggoyang, payudara Susan yang ranum dan terbungkus kulit putih kuterkam dengan mulutku, putingnya yang mungil kemerahan kuhisap dan kujilat-jilat penuh nafsu hingga benda itu mengeras dan menegak seperti batu. Tubuh Susan belingsatan, tangannya membekap kepalaku di payudaranya sedangkan vaginanya berkedut-kedut menerima hujaman penisku yang tak henti-hentinya menghajar selama 15 menit terakhir.

�AAARRRGGGHHHHHHHH...!!!� tiba-tiba Susan berteriak dan melenguh panjang saat orgasme yang kedua melanda tubuh mulusnya. Cairan putih bening kembali memancar dari dalam vaginanya dan membasahi batangku yang masih terus bergerak lincah menikmati hangat kemaluannya. Begitu banyaknya cairan itu hingga sebagian merembes keluar membasahi pahaku.

"Ahh.. ahh.. ahh.. Aku keluar lagi, Say. Kamu belum yah?" Susan bertanya dengan nafas masih ngos-ngosan.

Bukannya menjawab, aku malah memutar tubuhnya hingga sekarang Susan menungging di depanku. Batangku yang masih tertancap di kemaluannya, kembali kugerakkan. Kutusuk tubuh sintal itu maju-mundur. Tak lupa juga aku berpegangan pada buah dadanya yang menggantung indah.

Susan yang sudah lemas tak berdaya, menerima saja apapun yang aku lakukan pada tubuhnya. Bahkan saat aku meledak dan keluar di dalam vaginanya, dia juga tidak protes.

�Ahh.. ahhh.. apa kamu tidak takut hamil?� tanyaku sambil menarik penisku yang tampak basah.

Susan meraih dan segera mengulumnya, �Yang penting aku puas, say. Aku siap dengan segala resikonya.� dia memelukku dan mencium pipiku.

"Aku juga sangat menikmati bercinta denganmu, sayang.� balasku dengan tangan kembali melingkar di payudaranya yang besar.

"Air manimu hangat sekali, Say. Berasa sekali waktu kamu muncrat tadi.� Susan berbisik.

�Vaginamu juga nikmat. Aku jadi ketagihan.� sahutku.

"Kita main lagi?" dia bertanya.

�Boleh?� dan tentu saja aku tidak menolaknya.
Kami pun menghabiskan malam itu dalam nafsu birahi yang tak kunjung padam. Menjelang fajar menyingsing, barulah kami tidur, itupun setelah aku mengingatkannya kalau pagi nanti kami masih ada acara. Kalau tidak, bisa-bisa Susan minta terus sampai pagi.

***

Kudengar musik sayup gamelan Bali. Rupanya Susan telah mengemas suasana menjadi begitu etnik. Kulihat dinding teras galeri mungil itu dibuat dengan batu paras. Lantai batu alam membuat kesan natural lebih mendalam. Cahaya lampu yang menyiram beranda langsung memperlihatkan wajahku, sehingga Susan yang -seperti telah kuduga sebelumnya- berdandan anggun dengan rambut terurai dan mengenakan kain corak Bali, menoleh ke arahku. Senyumnya merekah. Aku melihat matanya berbinar.

"Oke, teman-teman, para undangan dan wartawan, kekasih yang kutunggu sudah tiba. Kita akan mulai acaranya."

Aku agak kikuk, namun Susan meleburnya dengan pelukan yang begitu mesra.
Ada beberapa bule yang hadir di sana. Justru membuat Susan tidak merasa sungkan mencium bibirku. Dan entah kenapa, para wartawan itu begitu gemar dengan hal-hal yang berlangsung sebentar tetapi berdenyar. Mereka memotret. Sejenak mataku silau.

Namun ketika pelukan Susan lepas dan aku mencoba mengitarkan pandangan, di antara pengunjung kulihat seseorang yang sangat kukenal. Mataku masih terpengaruh oleh kilat lampu blitz. Tapi tidak mungkin lupa wajah istriku.

Ratih ada di sudut itu!
Dengan sebuah kamera digital di tangannya. Wajahnya tertegun. Atau terpesona? Tapi parasnya memucat.

"Baiklah," ujar MC. "Kita akan mendengar awal gagasan mengenai Galeri Bingkai. Silakan Susan bercerita untuk kita�"

Selanjutnya telingaku tidak menangkap kata-kata Susan, karena aku segera bergegas mengejar Ratih yang beringsut begitu cepat ke arah pintu keluar. Aku mengutuk diriku yang mengganti nomor handphone. Pasti ia telah mencoba menghubungiku sejak kemarin. Apakah aku juga harus mengutuk majalah yang memintanya meliput acara ini? Bukankah dia sedang sibuk dikejar batas waktu oleh penerbit bukunya?

"Cinta!" aku memanggil.

Di luar sunyi, tapi tidak dengan degup jantungku yang gemuruh.

"Nama Bingkai kupilih karena�." suara Susan semakin sayup. Sementara di taman yang separuh gelap itu, aku mencari degup jantung Ratih.

END