Canis Diabolus


Mentari mengenyahkan kegelapan, menebar sinar kehangatan. Udara dingin menyapa para penghuni bumi. Angin sepoi menerbangkan dedaunan kering warna kuning, merah, maupun jingga yang berguguran menghiasi jalan. Tumbuhan telah meranggas dedaunannya akibat pergantian musim. Beberapa orang berlalu lalang mengenakan pakaian musim gugur. Hari ke hari suhu semakin menurun, menandakan musim dingin hampir tiba.

"Oi, Gus!" sebuah seruan melengking tajam.

Pria berambut merah darah sontak mengalihkan pandangan dari dokumennya. Ia memutar badan, melihat rekan kerja yang juga sahabatnya berjalan mendekat. "Ada apa, Win?"

Pria pirang di depannya menyeringai lebar. "Aku punya sesuatu yang menarik."

Agus mengerutkan kening. "Apa?"

"Ini, bacalah," ujar Erwin, menyerahkan selembar kertas terlipat dua.

Tanpa basa-basi, Agus menerima kertas itu, lalu membaca judul yang tertera di sana. "Canis Diabolus, anjing iblis bermata satu. Apa ini?"

Erwin melipat tangan di dada dan tertawa kecil. "Baca saja dulu. Info ini sedikit berkaitan hal mistis. Kau pasti tertarik. Bukankah membaca cerita begitu adalah hobimu?"

Agus terdiam. Memang, dia cukup menyukai hal-hal berbau horror. Ia suka menonton atau membaca berbagai cerita mistis. Agus bahkan tahu tentang lambang klenik seperti 666, Hexagram, hingga Pentagram. Isterinya sampai terheran-heran menghadapi hobinya. Beruntung, sebab Agus tak pernah punya pikiran mengoleksi pajangan menyeramkan atau sejenisnya di rumah. Mengumpulkan buku-buku mistik dalam satu rak besar adalah cukup.

Agus mendesah panjang. "Baiklah."

Erwin menoreh senyum kemenangan, memperhatikan Agus yang serius memusatkan perhatian ke kertas pemberiannya.

Mata Agus memicing. Terdapat ilustrasi anjing mata satu berada di atas kumpulan tulang-tulang manusia. Anjing itu tampak kokoh dengan sayap terbentang lebar bagai sayap kelelawar. Bulunya warna merah. Ia memiliki tanduk kerbau. Mulut Canis Diabolus menampilkan taring panjang nan menakutkan. Kuku-kuku kakinya melengkung, menancap di salah satu tengkorak manusia di bawahnya. Mata anjing besar itu serupa mata ular, terletak di tengah dahi seperti Cyclops. Tingginya sekitar dua kali lipat dari manusia dewasa.

Agus membaca penjelasan yang tertera di bawahnya: 'Canis Diabolus, ialah anjing merah bermata satu, diyakini sebagai wujud lain dari iblis. Ia muncul di abad pertengahan. Canis Diabolus dipercaya sebagai makhluk mitologi nyata oleh sebagian orang meski keberadaannya tak pernah terbukti jelas. Dalam mitologi, Canis Diabolus merupakan makhluk jahat dan buas. Ia suka memangsa dengan cara merobek dada serta perut sorban untuk disantap isi organ tubuhnya. Canis Diabolus juga dapat menghabisi mangsa melalui tatapan mata hingga tubuh korban kurus kering, nyaris tinggal tulang belulang. Konon, Canis Diabolus hanya muncul mencari korban setiap tanggal 11 November pukul 11.11 malam. Orang-orang yang berani berkeliaran saat malam itu akan menjadi mangsa Canis Diabolus. Mereka berusaha pulang lebih cepat ke kediaman masing-masing sebelum pukul 11.11. Diharapkan setiap anggota keluarga menetap di rumah dan mengunci pintu sebagai bentuk perlindungan terhadap makhluk mitologi itu sampai matahari terbit. Namun, Canis Diabolus dikabarkan mampu menjelma menjadi sosok manusia jika malam itu ia tak kunjung mendapat mangsa. Canis Diabolus berwujud manusia akan mendatangi salah satu rumah penduduk. Ia pura-pura bertamu, yang sebenarnya bertujuan menangkap mangsa ketika si pemilik rumah lengah. Setelah berhasil mendapat korban, Canis Diabolus akan menghilang.'

Agus meneruskan ke paragraf berikutnya. 'Mereka memberi julukan 'Canis Mortis' atau 'Anjing Kematian'. Sebab, angka 11-11 yang tertera pada tanggal dan waktu munculnya Canis Diabolus memiliki arti tersendiri. Apabila dijumlahkan, 1+1+1+1, maka hasilnya 4. Menurut berbagai pendapat, angka 4 diartikan sebagai simbol kematian. Disejajarkan huruf D, yang menduduki urutan ke-4 dalam Alphabet. Dan D, merupakan awalan huruf kata 'Death' atau 'Die'. Selain itu, angka 4 berasal dari penjumlahan bilangan sial, yaitu 13. Apabila dijumlahkan, 1+3, hasilnya adalah 4. Hingga masa kini, sebagian masyarakat percaya adanya Canis Diabolus, tapi ada pula yang tidak. Sempat diberitakan bahwa seorang pria melihat penampakan siluet Canis Diabolus sedang terbang tinggi di kejauhan pada tanggal 11 November tengah malam beberapa tahun lalu. Namun tak sedikit penduduk mengatakan berita tersebut sekedar rumor, karena tak memiliki bukti kuat. Banyak yang berargumen jika pria itu sekedar melihat siluet kelelawar atau burung besar. Mereka menganggap Canis Diabolus adalah makhluk rekaan yang diciptakan masyarakat zaman dulu. Dan cerita mengenai Canis Diabolus sengaja dibuat untuk menakuti penduduk.'

"Tunggu sebentar, 11 November itu... hari ini, bukan?" tanya Agus disela keseriusan membaca. Keningnya bertaut.

"Benar," salah satu sudut bibir Erwin tertarik. Ia membungkuk, meletakkan kedua telapak tangan di atas meja. "Kau takut jika Canis Diabolus memangsamu?" tanyanya dengan nada meledek.

Agus mendengus. "Aku tak bilang begitu? Hanya saja... makhluk mitologi ini membuatku penasaran. Jujur saja, aku baru sekarang membaca penjelasan Canis Diabolus," jawabnya. "Infonya hanya segini?" ia bertanya kemudian, menggoyangkan kertas yang ia pegang.

Erwin mengangkat bahu. "Ya, itu informasi yang kudapat di internet. Selebihnya mungkin ada, tapi aku tak tahu."

"Dari siapa kau tahu tentang Canis Diabolus?"

"Kemarin aku tak sengaja menemukan artikel itu saat online. Karena kau suka hal begitu, jadi aku print dan kuberikan padamu," sepasang alis Erwin lalu berkedut. "Dan, untuk apa kau ingin tahu hal lebih tentang makhluk itu? Sudah jelas 'kan, dia cuma makhluk mitologi yang sengaja dikarang masyarakat kuno."

"Aku mengerti. Tapi, aku sangat penasaran," ujar Agus.

Erwin menggeleng-geleng. "Tak kusangka, kau sebegitu tertariknya."

Agus menyunggingkan seringai kecil. "Itu semua karena kau. Kalau kau tak memberiku info Canis Diabolus, aku tak akan penasaran."

Erwin mengacak-acak belakang kepalanya. "Iya, aku salah. Tapi, Gus... lupakan saja. Makhluk itu tidak penting. Aku memberitahumu karena kebetulan tanggal hari ini dan dipenjelasan itu sama. Jadi, kurasa sangat menarik kalau ..."

"Memang menarik, Win," Agus memotong pembicaraan. "Terima kasih kau memberitahu soal ini di waktu yang sesuai. Kau jenius," lanjutnya tersenyum, menepuk-nepuk pundak sahabatnya.

"Win, kau sedang apa! Jangan mengobrol saat jam kerja berlangsung! Kembali ke mejamu, atau kupotong gajimu bulan ini!" seorang pria gendut berkumis berteriak di kejauhan.

Erwin membeliak. Ia cepat-cepat menoleh ke pemimpinnya. "I-i-iya, pak! S-saya segera kembali bekerja!" sahutnya. Ia pun mendesah malas. "Si donat berjalan cerewet sekali, berbincang sedikit saja tidak boleh," gumamnya.

Agus membisu, memerhatikan si pemimpin yang masih berdiri di sana sembari melototi Erwin.

"Sudah ya, aku kembali ke mejaku dulu," ujar Erwin. "Oh ya, kau jangan macam-macam dengan apapun yang kau baca, oke?" ia mengingatkan, mengacungkan telunjuk kanannya ke arah Agus.

***.

Setiba di rumah, Agus langsung menyalakan komputer dan mengaktifkan koneksi internet. Ia membuka situs web, mengetik keyword 'Canis Diabolus' di kotak search engine, lalu menekan tombol enter. Sebelah tangannya sibuk melepas dasi dan membuka kancing kerah kemeja, sementara pandangannya mengarah ke jajaran situs web. Ia menggeser mouse, kemudian mengklik salah satu situs yang menurutnya memiliki info terlengkap.

Halaman berganti, menunjukkan sebuah situs ber-background hitam dengan warna tulisan putih dan merah. Tanpa memeriksa lebih jauh, Agus mengira itu adalah situs yang memberi info tentang hal-hal mistis. Di situ, terpampang tulisan Canis Diabolus. Dia pun membaca paragraf demi paragraf. Semua info di sana sesuai apa yang ia ketahui sebelumnya. Agus menggerakkan mouse, tak sengaja menemukan barisan paragraf yang cukup membuat kelopak matanya melebar tak percaya.

'Menurut masyarakat kuno, seseorang dapat memanggil sosok Canis Diabolus. Akan tetapi dalam melakukan langkah ini, seseorang harus yakin dan siap menerima segala resiko. Hal pertama perlu diketahui adalah, seseorang wajib menggunakan darah mereka sendiri untuk memanggilnya. Dan dianjurkan melakukannya tanggal 11 November pukul 11.11 malam, sesuai tanggal serta waktu di mana Canis Diabolus muncul.'

Agus membaca paragraf selanjutnya. 'Seseorang harus menyiapkan darah, lalu dicampur dengan air secukupnya ke dalam mangkuk. Kemudian, keluar dan berdirilah di depan rumah. Percik-percikkan air darah sebanyak enam kali ke arah berbeda. Setelah itu, angkat kepala menghadap langit dengan mata terpejam, lalu berucap, 'Canis Diabolus... Canis Diabolus... Izinkan aku melihat sosokmu di malam istimewa ini.'. Konon, jika seseorang melakukannya, maka Canis Diabolus akan mendatangi rumah sang pemanggil. Kabarnya, cara tersebut merupakan langkah tepat memanggil Canis Diabolus. Namun, tak pernah dijelaskan secara detail, apa akibat setelah memanggil makhluk itu. Hingga kini belum ada satu pun berita seseorang yang memanggil Canis Diabolus. Para masyarakat modern menanggapi hal tersebut sebagai lelucon aneh orang-orang kuno.'

Sudut bibir Agus seketika tertarik. Ia melirik ke jam dinding. "Pukul 10.30," gumamnya.

"Pa, kau sedang apa? Serius sekali?" seorang wanita berambut merah muda menghampiri sang suami di meja komputer.

Agus menengadah, memandang wanita itu sesaat. Pandangannya kembali beralih ke monitor. "Membaca sesuatu yang menarik," jawabnya.

Wanita bernama Sinta itu mengernyit. Ia mengarahkan perhatian ke layar komputer, membaca sepintas penjelasan Canis Diabolus. "Apa yang menarik dari itu?" tanyanya.

"Kau tidak baca baik-baik di paragraf terakhir?" Agus bertanya balik.

Sinta diam, membaca paragraf tersebut. Tak lama, ia menggeleng. "Jangan katakan kau mau memanggilnya, Pa." ia menebak-nebak.

Pria di hadapannya bertaut. "Kenapa?"

"Astaga, Pa... jelas kalau itu berbahaya 'kan? Memanggil setan, roh, monster, atau semacamnya merupakan sesuatu mengerikan!" nada suara Sinta meninggi.

Agus tersenyum hambar. "Dia bukan makhluk nyata, Ma. Siapa tahu cara memanggil Canis Diabolus adalah salah, atau sekedar karangan? Kita tak akan tahu jika tak dipraktekkan."

"Kita juga tak akan tahu apa yang terjadi setelahnya jika Papa berani memanggilnya," ujar Sinta. "Bagaimana kalau cara memanggil makhluk itu ternyata benar? Bagaimana kalau dia nyata dan melakukan sesuatu buruk pada kita? Apa Papa mau menanggungnya?"

Agus mendesah, menyibak poni ke belakang. "Dia hanya makhluk takhayul."

"Dari mana Papa tahu dia hanya makhluk takhayul? Dan kenapa Papa bersikeras ingin memanggilnya kalau dia sekedar takhayul? Papa tak tahu seluk-beluk mengenai makhluk mitologi itu. Tolong jangan berpikir macam-macam, apalagi melakukan hal negatif. Aku tak peduli dia makhluk takhayul atau apa. Yang jelas, aku tak setuju jika Papa nekat memanggilnya!"

"Aku percaya dia adalah makhluk takhayul. Masyarakat kuno menjelaskan bahwa Canis Diabolus selalu mencari korban setiap tanggal 11 November pukul 11.11 malam. Dan diharapkan, para penduduk segera kembali ke rumah masing-masing sebelum waktu 11.11 malam tiba. Tapi, apa semua terbukti? Apa pernah terdengar berita seseorang menjadi korban nyata makhluk itu? Tanggal 11 November tahun lalu tak terjadi apa-apa 'kan? Padahal kita masih berpergian di luar rumah tengah malam, dan semua baik-baik saja. Dari sini sudah jelas kalau dia bukan makhluk nyata. Masyarakat kuno hanya ingin menakut-nakuti kita melalui cerita." Agus berujar panjang.

Sinta menggeleng-geleng cepat. "Aku tak peduli! Untuk apa Papa memanggilnya, sementara Papa percaya dia makhluk tak nyata?"

"Aku hanya mau mencobanya, Ma. Aku penasaran, karena di sana tertulis belum ada yang memanggilnya."

"Kalau begitu Papa harus mengurungkan niat!" Sinta memotong. "Jika belum ada yang memanggilnya, itu pasti karena ada sesuatu yang tak beres dibaliknya! Ada apa, Pa? Baru pertama kali aku melihat Papa bersikeras ingin melakukan hal aneh begitu. Selama aku bersamamu, aku tak pernah melihat tingkah Papa seperti ini. Papa bilang, pernah membaca berbagai cara memanggil setan, tapi tak satu pun cara yang ingin Papa praktekkan. Lantas sekarang, mendadak Papa keras kepala mau menguji cara mengerikan itu. Kenapa, Pa? Kenapa! Apa Papa dipaksa seseorang melakukan ini?" ia melanjutkan. Napasnya terengah. Mata Sinta melotot, menatap curiga pada suaminya.

Kening Agus berkerut dalam. "K-kenapa Mama bicara begitu?"

"Karena Papa akan melakukan hal negatif," Sinta menjawab. Suaranya mengecil. "Sadarlah, Pa. Apa yang Papa pikirkan dan apa yang ingin Papa lakukan saat ini adalah buruk. Buang jauh-jauh pikiran itu. Sebaiknya Papa pikirkan soal lain yang jauh lebih penting," ujarnya.

"Ma, aku ..."

"Kutanya pada Papa, apa jaminan jika Papa berhasil memanggil makhluk itu kemari? Apa dia membawa keuntungan? Atau, apa Papa mampu mengembalikan makhluk itu ke alamnya jika terjadi hal buruk? Jawab aku, Pa," Sinta bertanya. Ia menunggu jawaban suaminya, namun pria itu tak kunjung bersuara. Agus justru memalingkan wajah. "Lihat, Papa bahkan tidak tahu cara menangkalnya. Kuperingatkan, jangan bermain-main terhadap sesuatu berkaitan ilmu klenik. Perbuatan itu sangat berbahaya dan beresiko besar!"

"Tapi, aku..."

"Satu lagi... jujur saja, sejak awal aku tak suka hobi Papa yang gemar membaca atau menonton film horror, apalagi mengoleksi buku-buku tebal menyeramkan hampir satu rak besar. Mulai detik ini, kumohon tinggalkan hobi itu. Aku tak mau terjadi hal lebih buruk menimpa Papa. Selamat malam."

"Tunggu, Ma... Mama!" Agus tak sempat menahan gerakan Sinta. Wanita itu melengos masuk ke kamar tidur. Agus menghela napas, menopang sebelah siku di atas meja seraya mengacak-acak rambut. Gara-gara makhluk mitologi itu, ia dan isterinya jadi bertengkar. Yang terburuk, Sinta bahkan menyuruh Agus segera meninggalkan hobinya.

Hening.

Agus melirik ke jam dinding. Pukul 10.50 malam. Beberapa menit lagi adalah waktu tepat memanggil Canis Diabolus. Tapi, dia justru ragu. Sinta melarangnya. Begitu pula dengan Erwin. Namun, Agus ingin sekali mencobanya. Rasa penasaran terus menyelimuti batinnya. Jika ia membatalkan niat ini, ia harus menunggu tahun depan untuk memanggil Canis Diabolus, itu pun jika tak ada yang melarang. Hari ini, merupakan hari kesempatan baginya mempraktekkan cara memanggil Canis Diabolus. Pikiran Agus berputar-putar, tak tahu harus bagaimana. Menuruti perintah Sinta, atau mengikuti rasa penasaran?

Laki-laki itu termenung. Ia kemudian meraih memo dan pulpen dalam laci meja. Dicatatnya kalimat mantra yang masih terpasang di layar monitor. Setelah selesai, ia merobek kertas dan mematikan komputer, lalu beranjak ke dapur.

Agus mengambil pisau. Ia melipat kedua lengan kemeja sampai siku. Laki-laki itu mengarahkan bagian tajam benda itu ke telapak tangan kirinya. Ia meringis kecil, membuat garis hingga cairan merah merembes di sebagian telapak tangannya. Agus membiarkan tetesan darah jatuh ke mangkuk yang ia siapkan. Merasa cukup, dia lantas menutup luka menggunakan balutan saputangan. Ia pun mencampur darah tadi dengan air secukupnya.

Tak lama, Agus keluar rumah tanpa sepengetahuan Sinta. Ya, dia benar-benar berencana memanggil Canis Diabolus. Ia telah memantapkan diri melakukannya. Batin laki-laki itu seakan buta, tak peduli kata-kata Sinta atau apapun yang akan terjadi nanti. Niat pria itu tak dapat tertahankan. Rasa keingintahuannya berhasil mengalahkan rasa takutnya.

Agus berdiri di depan pagar rumahnya. Ia memutar pergelangan tangan dan melihat arloji. Tepat pukul 11.11. Waktunya beraksi, pikirnya. Dia menatap sekilas mangkuk yang berisi darah. Ia menggigit bibir. Agus menarik napas dalam sembari mengatup mata sebelum memulai. Pria itu mencelupkan ujung jemari tangan, memercik-mercik darah ke arah berbeda-beda.

Selesai. Agus segera merogoh kantong celana, mengeluarkan sobekan kertas bertuliskan kalimat mantra. Ia menghafal mantra sebentar, lalu menengadah dengan mata terpejam. "Canis Diabolus... Canis Diabolus... Izinkan aku melihat sosokmu di malam istimewa ini," ucapnya.

Ia membuka mata. Seketika, dada Agus berdegup cepat. Entah kenapa perasaannya berubah tak karuan. Perutnya berguncang tak nyaman. Agus menelan air liur. Ia tetap berdiri, menunggu 'sesuatu'.

Sunyi.

Tak terjadi apapun, hanya terdengar suara gemerisik daun kering yang tertiup angin. Agus mendongak, melihat langit malam cerah di atasnya. Ia mengernyit. Sepersekian menit menanti, namun tak ada tanda kehadiran sosok Canis Diabolus.

Agus berdecak kecewa. "Rupanya memang cuma cerita takhayul." ia bergumam.

Laki-laki itu berbalik, kembali memasuki rumah. Ia membawa mangkuk ke bak cuci piring dapur. Agus membuka balutan saputangan. Pria itu mendesis perih, membasahi luka bekas irisan pisau di telapak tangan kiri dengan air keran.

"Pa?"

Sontak pria itu mematikan air dan memutar badan, melihat Sinta yang menatap heran.

"Apa yang Papa lakukan?" tanya Sinta sembari menghampiri sang suami.  "Kenapa tanganmu berdarah?" tanyanya cemas pada goresan luka Agus.

"I-ini..." Agus tergagap, mencoba mencari alasan untuk menyembunyikan hal sebenarnya.

Sinta mengernyit penasaran, merasa sesuatu yang tak beres. "Apa?"

"A-aku..."

"Jangan katakan luka itu ada karena Papa baru saja memanggil makhluk itu? Iya 'kan? Jawab!" perasaan Sinta memuncak. Ia menebak-nebak, seakan mampu membaca pikiran sang suami.

Agus membisu seribu bahasa.

"Pa, cepat jawab aku!"

Agus masih terdiam, memasang wajah bersalah.

"Sudah kukatakan, jangan coba-coba memanggilnya! Kenapa Papa tak mengerti? Kenapa Papa tak mau mendengarku?" wanita itu melanjutkan. Suara Sinta parau. Butiran bening tanpa sadar membasahi pipinya.

Agus menatap iba. "Ma, dengarkan aku..."

"Tak ada yang perlu kudengarkan!" potong Sinta. "Aku benci Papa," gumamnya.

"M-Ma, tunggu!" Agus mengejar, mengikuti langkah isterinya ke kamar tidur. Sinta menghempaskan tubuh sintalnya ke ranjang, tidur meringkuk membelakangi sang suami dan terisak. "Ma, kumohon jangan marah. Dengarkan penjelasanku dulu." Agus berusaha membujuk.

"Berhenti bicara, Pa. Aku tak mau berdebat!" teriak Sinta tanpa menoleh.

Agus menghela napas. Tidak ada pembicaraan di antara mereka hingga beberapa detik. Tak lama, Agus melepas kemeja kantornya, melempar pakaian itu secara asal ke ranjang. "Aku minta maaf kalau perbuatanku kelewatan. Aku menyesal. Tapi percayalah, sejak tadi menunggu, aku tak melihat tanda-tanda munculnya makhluk itu. Kemungkinan besar cara memanggil Canis Diabolus hanya omong kosong." Agus berupaya menjelaskan.

Sinta masih terdiam. Terlihat tubuh mulusnya sedikit mengejang meski hanya sesaat.

�Ma, kau tidak apa-apa?� Agus bertanya kuatir.

Sinta tiba-tiba berbalik dan tersenyum, �Aku tidak apa-apa, Pa.�

Meski heran dengan sikap istrinya, tapi Agus senang karena Sinta sudah tidak marah lagi. �Maafkan aku, Ma.� dia berbisik.

Sinta mengangguk, �Aku cuma tidak ingin Papa berbuat yang aneh-aneh. Daripada main begituan yang tidak berguna, lebih baik Papa kesini memuaskan aku!� desahnya.

�Eh, Mama mau ngapain!?� Agus tercengang melihat Sinta yang dengan tiba-tiba membuka bajunya.

�Mau main sama Papa. Aku pengen banget, Pa. Memekku rasanya sudah gatal sekali.� jawab Sinta tanpa malu-malu.

Agus masih terbengong-bengong menyaksikan perubahan pada diri istrinya. Sinta yang biasanya kalem dan sopan, kini berubah menjadi genit dan agak nakal. Tapi meski begitu, tak urung, Agus tergoda juga. Tubuh Sinta yang polos terlihat begitu indah. Terutama payudaranya yang bulat dan besar. Juga kemaluannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus tipis tercukur rapi ke atas. Wanita itu terlihat bersinar di mata Agus.

�Kok malah bengong, Pa? Ayo, puasin Mama.� desah Sinta sambil meremas-remas payudaranya sendiri.

�Ah, oh iya, tunggu sebentar.� seperti terhipnotis, Agus buru-buru melepas seluruh pakaiannya. Burungnya yang besar dan panjang terlihat sudah mulai menegang. Dia segera melompat dan menindih tubuh montok Sinta yang kini sudah terbaring menunggunya di atas ranjang. Agus mendekap istrinya yang cantik itu dengan erat dan secara perlahan, dengan tangan gemetar, dia meremas-remas payudaranya.

�Aughhhh... Papa suka dengan tubuhku?� tanya Sinta sambil melenguh.

�Suka sekali, Ma.� jawab Agus sambil menatap wajah istrinya yang terlihat semakin cantik ketika terangsang ini. �Disuruh ngentotin semalam suntuk, Papa juga mau.� tambahnya.

�Aghhhh... Papa bisa aja,� Sinta menggelinjang saat merasakan tangan nakal Agus mulai menggerayangi tubuh sintalnya. Laki-laki itu meremas-remas payudaranya dengan kuat sambil sesekali memilin dan memijit-mijit putingnya. Suara desahan pelan mulai terdengar dari bibirnya yang tipis.

Sinta melingkarkan tangannya ke leher Agus dan menciumnya dengan rakus, tanpa ragu ia bermain lidah dengan laki-laki itu. Dengan cepat keduanya terlibat dalam persetubuhan panas yang membangkitkan gairah. Agus meraih pantat istrinya yang bulat dan meremas-remasnya berkali-kali hingga tubuh wanita cantik itu jadi menggelinjang setengah terangkat. Payudara Sinta yang tepat berada di depan wajahnya, langsung dia sergap dan dlumatnya dengan penuh nafsu.

�Oughhhhhhh,� Sinta menikmatinya dengan mata terpejam. Desahan dan rintihan nikmat terus keluar dari bibirnya yang manis. Kumis tipis Agus yang menggesek kulit payudaranya menimbulkan sensasi geli-geli nikmat pada ujung putingnya.

Sambil terus menyusu, Agus merambat turun dari ranjang. Dia menarik tubuh montok Sinta agak ke tepi dan membuka paha wanita cantik itu lebar-lebar. Memposisikan dirinya di depan selangkangan sang istri, Agus mulai menjilat kemaluan Sinta yang terlihat sudah sangat basah.

�Oohhhhhhh... Pa!� desah Sinta saat lidah sang suami menyapu bibir vaginanya. Wanita itu tidak mampu menahan kenikmatan yang melanda tubuhnya, ia mendesah hebat sambil sesekali meremas-remas payudaranya sendiri. Sinar bulan menyorot masuk melalui jendela, menampakkan butir-butir keringat yang sudah membasahi tubuh mulusnya. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat luar biasa indahnya.

Di bawah, jilatan Agus berhenti. Dia sudah merasa cukup mengerjai vagina sempit sang istri. Laki-laki itu bangkit berdiri dan menatap sejenak wajah cantik Sinta yang tergolek pasrah di hadapannya.

�Ayo, Pa, cepat masukkan!� Sinta meraih penis sang suami dan menariknya mendekat ke lubang vaginanya. Tanpa perlu diperintah dua kali, Agus pun mendorongnya.

�Nnnggghh!� Sinta melenguh saat penis itu masuk menusuk selangkangannya.

�Aahhhhhssss,� Agus juga ikut melenguh merasakan himpitan dinding vagina Sinta yang sempit pada penisnya. Berpegangan pada payudara istrinya yang bulat, dia pun mulai menggoyang. Agus menggerakan pinggulnya maju mundur menusuk-nusuk vagina sang istri yang terasa begitu lembut membungkus penisnya. Sambil menggoyang, dia juga tak lupa untuk terus mencium dan melumat bibir Sinta yang tipis. Suara desahan dan rintihan terus terdengar dari mulut mereka yang saling menempel.

�Aaahhhhhh� Enak, Pa. Yahhhh... begitu. Tekan lebih dalam! Aaahhh� Aaahhh!� Sinta mendesah tak karuan dengan tubuh tersentak-sentak menerima sodokan dari suaminya. Kain sprei di bawah tubuhnya terlihat sudah begitu kusut dan acak-acakan.

Agus memegangi kedua paha istrinya agar dia dapat menekan penisnya lebih dalam. Begitu dalamnya hingga beberapa kali terasa ujung penisnya mentok hingga ke dasar, menyentuh dinding rahim Sinta yang sempit. Semakin lama, genjotannya juga menjadi semakin cepat hingga membuat Sinta jadi semakin hanyut dalam birahi. Wanita cantik itu merintih dan menjerit sejadi-jadinya.

Sinta akhirnya tidak sanggup lagi bertahan. Ia merasakan sesuatu yang nikmat akan meledak di dalam tubuhnya. Memeluk Agus erat-erat dengan kedua paha melingkar di pinggang pria itu, dia pun memekik, �AAARRRGGGHHHHHHH...!!!� tubuh sintalnya melengkung dan bergetar-getar beberapa kali.

Agus merasakan vagina sang istri berkontraksi begitu hebat. Benda itu berkedut-kedut dan meremas-remas penisnya dengan kuat saat memancarkan cairan orgasme. Hal itu membuat Agus jadi semakin bergairah.  Ia menyentakkan penisnya dengan keras dan membenamkannya makin  dalam ke lubang vagina Sinta yang kini terasa sedikit panas dan sangat basah.

Setelah beberapa kali sodokan kuat, laki-laki itu pun tak tahan lagi. Lenguhan panjang keluar dari mulutnya saat dia mencapai orgasme, �AAARRRGGGGHHHHHHHSSSSSS...!!!� Agus menekan penisnya dalam-dalam saat dia menyemburkan spermanya. Terengah-engah, laki-laki itu menarik lepas penisnya dan berdiri. Dia memberikan batangnya yang masih basah pada sang istri.

�Jilat, Ma.� pintanya.

Sinta membuka mulutnya dan menelan. Dia menjilati penis yang sudah mulai mengkerut itu dengan pelan. Sisa-sisa sperma Agus yang masih menetes-netes tampak mengalir membasahi sudut bibirnya,

�Ahhhhh...� Laki-laki itu melenguh puas menuntaskan ejakulasinya di mulut manis sang istri.  Penisnya perlahan menyusut dan mengecil. Permukaannya sudah terlihat licin, tidak ada lagi sperma yang tersisa. Kelelahan, Agus menjatuhkan diri berbaring di ujung ranjang.

�Terima kasih, Ma. Rasanya nikmat sekali!� bisiknya sambil melingkarkan lengan memeluk tubuh montok sang istri.

Sinta yang berbaring membelakanginya cuma diam, tidak menyahut apa-apa.

"Ma?" Agus memanggil.

Sinta masih tetap diam.

"Ma, kau dengar aku?" Agus memanggil lagi.

Sinta tetap terdiam.

Pria berambut merah itu mengernyit. Sinta tak menanggapinya. Deru nafasnya juga tak terdengar, seakan berhenti. �Apa dia sudah tidur?� pikir Agus. Perlahan ia menaikkan kepala untuk mengintip dan menyentuh pundak sang isteri.

"Ma?"

Agus terperanjat, otomatis mundur ketika wanita itu berputar menghadapnya. Dia membelalak. Mata Sinta tampak aneh seperti mata ular, bukan mata manusia. Sinta terbangun dari tidur. Raut wajahnya beringas. Ia merangkak bagai seekor hewan sambil memandang tajam ke arah Agus yang perlahan turun dari ranjang dan melangkah mundur menjauhinya. Sinta memamerkan gigi-gigi runcingnya. Kuku tangan wanita itu turut memanjang.

�Dia bukan Sinta,� Agus membatin, �A-atau jangan-jangan dia...�

Laki-laki itu hendak berbalik, berencana meninggalkan ruangan secepatnya. Namun, sontak tubuhnya terpental hebat oleh sebuah dorongan kuat. Agus melayang, punggungnya menghantam tembok. Pria itu bersusah payah melepaskan diri, tapi tidak bisa. Ia merasa tertahan sesuatu meski tak ada seuntai tali yang mengikatnya. Agus mengerang, mencoba menggerakkan tangan dan kakinya. Tapi percuma, tenaganya tak sebanding dengan sesuatu yang menahannya. Agus memperhatikan sang istri. Wanita itu telah menuruni ranjang. Sinta melangkah lambat mendekatinya. Detik berikutnya, Sinta mengulur tangan kanan ke depan dan...

"Tch!"

Kedua lengan Agus seketika terentang di atas kepala. Kaki pria itu merapat. Ia bagai seorang tahanan. Agus terus berusaha melawan kekuatan aneh itu, tapi nihil. Ia tak mampu berbuat apapun. Ia menatap takut pada Sinta yang kini berdiri tepat di hadapannya. Sinta memiringkan kepala seraya memainkan lidah, seolah-olah siap menerkam. Agus meyakini bahwa Canis Diabolus-lah yang merasuki tubuh isterinya. Semua ini karena ia memanggil makhluk mitologi itu beberapa menit lalu. Dan sekarang, Agus sungguh menyesal menuruti kata hatinya.

"Ma, ini aku, suamimu! Sadarlah! Lawan kekuatan makhluk itu! Jangan biarkan dia menguasai jiwamu!" Agus berteriak. Napasnya memburu.

Tak ada sahutan. Canis Diabolus berhasil menguasai tubuh isterinya sepenuhnya. Makhluk mitologi itu mudah mengendalikan Sinta. Sosok wanita cantik itu bertransformasi menjadi monster. Ia tak tampak seperti manusia normal. Sinta mendesah dengan suara menyeramkan. Mata ularnya tertuju pada Agus. Sinta menempelkan hidung ke leher laki-laki itu. Ia mengendus panjang di permukaan leher Agus, seakan-akan ingin mencium aroma sedap darinya.

Agus menahan napas. Ia memalingkan wajah dan memejamkan mata. "Ma, kumohon sadarlah!"

Tetap tak ada sahutan. Sinta memperlihatkan seringai jahat. Tangan kirinya terulur ke dada Agus. Sinta menekan kelima kuku panjang nan tajamnya ke permukaan kulit sang suami. Pria itu memekik saat Sinta menggerakkan tangan dari dada hingga perutnya. Kuku Sinta meninggalkan goresan panjang nan menyakitkan. Cairan kental mengalir dari luka dan menciptakan jejak-jejak panjang. Seakan belum puas, Sinta mengulurkan sebelah lengan, lalu melakukan hal sama. Agus mengerang kesakitan. Kulit serta dagingnya terkoyak akibat goresan kuku sang istri. Rasa pedih menjalar ke seluruh tubuhnya.

"Ma... Mama..." Agus mengernyit. "Maafkan aku," ujarnya di tengah erangan.

Tak lama, Sinta tersentak. Terlihat asap hitam menguar dan melayang-layang dari tubuhnya. Wanita itu terjerembab lemas di lantai. Ia pingsan. Namun, sosoknya terlihat kembali normal.

"Mama!" teriak Agus.

Asap hitam lambat laun membentuk kepala bertanduk, sayap, kaki, beserta bulu warna merah. Canis Diabolus, asap hitam tadi menampilkan makhluk mitologi itu secara jelas. Mata Agus terbuka lebar. Bulu romanya bergidik. Mulut pria itu menganga. Degup jantungnya nyaris berhenti berdetak. Anggota tubuh Agus jadi begitu kaku digerakkan. Canis Diabolus berada di depannya. Anjing bermata satu yang berukuran dua kali lipat dari manusia dewasa itu mengizinkan Agus melihat sosoknya di 'malam istimewa' ini. Ia mengabulkan keinginan laki-laki itu.

"A... a... a..." lidah Agus kelu. Ia bergemetar hebat. Tubuhnya bersimbah peluh dingin. Rasanya ia akan mati berdiri sebentar lagi. Tatapan makhluk itu seolah-olah menghipnotis dirinya.

Canis Diabolus membungkuk, mendekatkan moncongnya ke wajah sang korban. Begitu dekat sampai-sampai napas mereka saling beradu. Air liur membasahi taring dan sekitar mulut Canis Diabolus.

"K-kumohon jangan bunuh aku..." Agus terbata.

Makhluk besar itu tak peduli. Canis Diabolus berdiri. Kedua kaki depannya menghantam pundak Agus. Pria itu menjerit. Tulang bahunya patah seketika. Agus berteriak sekeras-kerasnya ketika Canis Diabolus mencengkeram dan merobek dagingnya dari pundak hingga perut. Pembuluh-pembuluh darah merebakkan cairan kental nan deras seiring robekan daging hingga menampilkan barisan tulang rusuk berisi organ-organ yang padat. Darah segar mengalir tiada henti, membanjiri lantai di bawahnya. Mulut Agus memuntahkan banyak darah. Ia kejang-kejang di tempat. Sekejap, nyawanya melayang. Kepalanya tertunduk. Ia mati dengan mata setengah terbuka. Dada dan perut pria malang itu terbuka. Robekan daging menumpahkan usus-usus Agus.

Canis Diabolus mulai memakan organ perut Laki-laki itu. Makhluk itu menyantap korban bagai seekor binatang kelaparan di tengah kesunyian malam. Sinta yang tergeletak di dekatnya seolah tak dipedulikan, bahkan mungkin sengaja dibiarkan. Kecapan demi kecapan terdengar. Bau anyir darah menyebar di ruangan.

Seusai Canis Diabolus melahap isi organ perut Agus. Ia menggerakkan kaki depan untuk kedua kali. Canis Diabolus mematahkan tulang rusuk Agus. Kemudian dengan taringnya, ia mencopot paksa rusuk pria itu dan melemparnya asal. Ia mengunyah rakus organ dada Agus yang masih segar. Canis Diabolus memakan habis seluruh isi tubuh korban tak tersisa. Sekitar mulut makhluk itu penuh darah. Ia berhenti, memandang sesaat wajah pucat Agus. Pria itu pun terjatuh, kekuatan Canis Diabolus tak lagi menahan badannya, menandakan bahwa makhluk tersebut telah menyelesaikan hidangannya.

BRAK!

Jendela kamar tidur terbuka lebar. Hembusan angin mengibarkan gorden putih gading. Canis Diabolus mengalihkan pandangan, memperhatikan Sinta yang tak sadarkan diri sebelum akhirnya ia berubah kembali menjadi asap hitam. Canis Diabolus pergi melalui jendela, meninggalkan sang pemilik rumah.

Tak ada satu pun yang percaya jika Canis Diabolus adalah pelaku pembunuhan, kecuali Sinta. Wanita itu meyakini bahwa Canis Diabolus-lah yang memangsa suaminya. Sinta menjerit histeris, menemukan Agus dengan kondisi mengenaskan pagi itu. Ia menangis sejadi-jadinya. Kematian sang suami mendatangkan mimpi buruk. Ia tak menyangka, apa yang Agus lakukan semalam merupakan jalan terburuk, bahkan lebih buruk dari pikirannya. Canis Diabolus datang dan mencabut nyawa Agus sebagai korban di malam berdarah itu.

Semua terlanjur terjadi. Waktu tak dapat dan tak mungkin diputar balik. Seandainya Agus tak nekat memanggil Canis Diabolus, ia mungkin selamat dari maut mengerikan. Agus adalah manusia pertama yang berani memanggilnya. Dan langkah itu, sukses menuntun Agus masuk ke dalam daftar korban Canis Diabolus.

END