Konspirasi 2

Kematian profesor Jeremiah atau sering disapa para mahasiswa pak Jay, membawa luka yang dalam bagi yang mengenalnya. Beliau dikenal sangat ramah dan murah senyum. Mudah bergaul tapi juga serius dalam mengajar. Namun hanya satu hal yang paling disayangkan adalah pak Jay belum menikah. Dan karena alasan itulah yang membuat ruangan yang bisa dikatakan kecil ini hanya dipenuhi oleh mahasiswa atau rekan dosen beliau.

Ruangan itu tertata rapi dengan beberapa meja dan kursi-kursi besi yang mengitarinya. Di tiap meja terdapat sepiring kacang tanah dan air mineral dalam gelas yang dapat dinikmati bagi para pelayat. Tapi yang paling unik ada di depan ruangan itu, di mana ada puluhan karangan bunga yang di alamatkan kepada keluarga pak Jay yang isinya menyatakan rasa bela sungkawa mereka.

Karangan bunga yang berbagai macam itu, diberikan oleh berbagai orang. Ada dari perusahaan-perusahaan, universitas ataupun nama pribadi saja. Tapi yang menarik adalah perusahaan, universitas dan nama pribadinya pun bukan hanya dari Indonesia, tetapi juga dari luar negeri. Ini bukti kuat bahwa pak Jay juga sangat terkenal di dunia.  

Baju hitam terlihat sekali mendominasi ruangan itu. Meja-meja kecil panjang sudah terisi oleh beberapa orang yang hadir. Keluarga pak Jay berdiri di dekat peti mati yang sedikit terbuka sambil menyalami tamu-tamu yang hadir saat itu. Mereka menyambut tiap orang dengan isak tangis yang mendalam dan membuat siapa pun yang melihatnya akan menjadi iba.

Mika mengenakan kemeja kasual berwarna hitam. Seperti biasa, outfit kemeja dan kaos berkerah itu adalah pakaian yang selalu terlihat padanya. Di mana pun, kapan pun dan dalam kondisi apa pun, sebisa mungkin Mika akan memakai pakaian seperti itu.

Penampilan Mika memang selalu terlihat rapi, wajah melankolis dengan rambut terbelah samping sempurna itulah yang hampir membuat ia mendapat julukan si genius di kampusnya. Mata Mika sebenarnya minus dua setengah pada mata kanan dan kiri, namun Mika enggan untuk mengenakan kacamatanya.

Pemuda di hadapan Mika saat ini adalah Toni. Teman satu kampus, hanya mereka berbeda angkatan saja. Mika mengenal Toni baru saja, sekitar dua semester terakhir. Toni menjadi sering mengajaknya pergi, semenjak Mika membantu Toni dalam mengerjakan tugas-tugasnya.

Toni sendiri adalah laki-laki yang terlihat selalu bersemangat. Raut wajahnya kaku namun tidak membosankan, bahkan sedikit terlihat lucu dengan alis tebal seperti pasukan semut berbaris.

�Tidak ada yang aku kenal di ruangan ini.� ujar Mika sambil melihat satu persatu orang yang ada di ruangan tersebut, �Tidak ada satu pun.�

�Ya. Aku juga.� Toni ikut mengelilingi ruangan itu dengan pandangan tajamnya. Satu persatu wajah dilihatnya dengan perlahan, tapi sejenak saja pandangannya berhenti pada wajah gadis manis yang ada pojok ruangan itu.

�Mika...�

�Ya?�

�Coba kamu lihat gadis manis di belakangmu!�

�Untuk apa?�

�Lihat dulu!�

Mika walau sedikit enggan berusaha untuk menengok ke belakang dengan perlahan-lahan. Ia memutar badannya sambil berpura-pura mengayunkan pinggangnya karena pegal, lalu melihat gadis yang dimaksud Toni.

�Manis ya?�

Mika kembali ke posisi semula sambil mengangguk setuju.

�Siapa ya dia?�

�Tanyakan saja sendiri!�

�Ah, tidak.�

�Payah...!!!�

Toni hanya tersenyum.

�Kasihan ya. Padahal aku suka padanya.�

�Iya, dia memang manis.�

�Bukan gadis itu.�

�Bukan?�

�Pak Jay. Maksudku pak Jay�

�Oh...� Toni mengaruk-garuk kepalanya sambil tertawa lebar.

�Dia salah satu dosen favoritku.� Mika termenung sebentar, �Oh ya, katanya  kamu tahu bagaimana kejadian sebenarnya?�

�Entahlah. Tapi yang aku dengar, dua hari lalu saat pak Jay pulang ke rumahnya, tiba-tiba ada perampok masuk ke rumahnya. Mungkin saat tertangkap basah, perampok itu malah menusuk pak Jay. Tanpa perlawanan, pak Jay tumbang.�

�Perampok?�

�Iya. Tapi ada yang mengherankan.� Toni berhenti untuk minum air, lalu kembali melanjutkannya. �Menurut keluarganya, ini menurut mereka. Tidak ada satu pun benda berharga yang hilang, walau memang rumah pak Jay ditemukan dalam keadaan berantakan.�

�Aneh ya?�

�Iya. Kau tahu kira-kira apa pendapatku tentang hal ini?�

�Tidak.�

�Coba kau pikirkan! Terlihat sekali ada kesan kejadian itu memang pembunuhan yang disamarkan sebuah perampokan.�

�Pembunuhan berencana?�

�Ya, bisa dibilang begitu.�

Mika tahu, Toni adalah pemuda dengan imajinasi tinggi. Dan memang kemampuan Toni dalam berimajinasi itulah yang membuat Toni berhasil membuat novel remaja, walau pun tidak terlalu terkenal.

�Siapa yang bisa dendam dengan pak Jay? Dia baik pada semua orang dan tidak pernah terdengar mempunyai musuh.�

�Entahlah,� sahut Toni. �Aku juga heran. Tapi aku berpikir kalau apa yang kukatakan tadi memang benar.� Dia mengambil air mineral yang baru yang tergeletak di tengah-tengah meja, menusuknya dengan sedotan lalu meminumnya.

�Mungkinkah itu benar terjadi?�

�Mungkin. Segala kemungkinan itu ada kok, walau hanya 0,01%�

�Begitu ya?�

�Oh ya. Apa maksudmu saat mengatakan kemarin pak Jay salah kirim email?�

�Ya. Mungkin begitu. Aku sendiri belum bisa memastikannya.�

�Maksudnya bagaimana?�

�Kemarin malam aku memeriksa email dan menemukan satu email yang dikirim pak Jay kepadaku. Dan saat aku membaca isi dalam email itu, ternyata isi email itu aku rasa bukan untukku. Segala hal yang terdapat di dalamnya sangat aneh dan tidak familiar untukku.�

�Jangan-jangan itu bisa menjadi pesan kematian.�

�Sembarangan.�

Toni tertawa dengan imajinasi barunya itu, sedang Mika masih berpikir keras tentang email anehnya itu. Sambil melihat sekeliling, tiba-tiba matanya beradu dengan seorang wanita berwajah sayu dan berkacamata yang duduk di pojok ruangan. Ia mencoba mengingat siapa orang itu sambil kembali memperhatikan temannya yang sedang mengeluarkan karya imajinasinya tentang pesan kematian.

�Begitu?�

�Iya begitu.�

Mika melihat wanita itu lagi. Dan Mika akhirnya sadar bahwa wanita itu memperhatikannya dari tadi.

Timbul pergumulan dalam pikiran Mika saat ini. Kenapa wanita cantik itu memperhatikannya seperti ini. Itu jelas menganggu pikirannya tentang siapa wanita itu sebenarnya? Mika yakin bahwa ia sering melihat wanita itu, hanya saja bukan dengan pakaian seperti yang dia pakai saat ini.

Tiba-tiba saja, wanita itu bangun dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Mika. Mika secara reflek mencoba untuk berdiri dan pergi dari sana, tapi terlambat. Wanita itu sudah berada di depannya sekarang.

�Mika, kamu masih ingat aku?� wanita itu menyodorkan tangannya.

�Siapa ya?�

�Aku Wendy. Aku pernah menjadi asisten dosen pak Jay.�

Akhirnya Mika ingat siapa dia. Seperti kata wanita itu, ia memang pernah melihatnya di kelas sebagai pengganti pak Jay dalam mengajar. Mika menganggukkan kepala lalu tersenyum dan menyalami tangan Wendy.

�Ada apa ya?�

�Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.�

�Mengenai apa?�

�Ini tentang pak Jay.�

Mika dan Toni mengerutkan kening mereka.

�Ya sudah. Cerita saja di sini!� sahut Toni tiba-tiba.

Wendy menggelengkan kepalanya.

�Tidak bisa. Kita harus bertemu di tempat lain.�

�Kenapa?�

�Aku tidak bisa mengatakan itu sekarang.�

�Tapi...� potong Toni. Tapi tiba-tiba suara ringtones handphone Toni berbunyi dan ia mengangkatnya, �Sebentar ya.� Toni berdiri lalu berjalan menjauhi meja di mana Mika duduk.

�Jadi kita bisa membicarakannya sekarang bukan?�

�Apa ini penting?�

�Menurutku ini sangat penting.�

�Oke.�

�Bagaimana kalau kita bicarakan di jalan saja. Aku bawa mobil. Kita berputar-putar saja sambil berbicara di mobilku. Jadi kita tidak perlu pergi ke tempat lain.�

�Bagaimana dengan motorku?�

�Nanti aku akan antar kamu ke sini lagi.�

�Bagaimana dengan Toni?�

�Aku tidak bisa menceritakan soal ini kepadanya.�


***

Gumpalan asap kecil rokok terlihat keluar dari mulut pria yang duduk dengan gelisah menunggu seseorang untuk ditemui di kamar ini. Untuk kesekian kalinya pria berstelan coklat itu menghisap rokoknya dalam-dalam sambil berkali-kali melihat jam dinding.

Dalam lima belas menit penantiannya, pria itu sudah menghabiskan tiga batang rokok dan siap untuk menghabiskan batang rokok terakhir yang ada di antara kedua jari kanannya saat ini.

Tiba-tiba, tanpa mengetuk pintu, seorang gadis muda menyelonong masuk ke dalam kamar dan dengan penuh percaya diri berjalan mendekati pria itu dan mengambil bagian untuk duduk tepat di samping kanan si pria.

Sambil membuka majalah wanita di tangannya, gadis itu mulai membuka pembicaraan. �Bagaimana?�

�Aku sudah memasuki akun email Profesor dan tidak menemukan email yang masuk.� jawab si pria.

�Bagaimana dengan kotak keluar?�

�Dia hanya mengirim pesan biasa tentang perbaikan nilai kepada muridnya saja. Dan dalam tulisan itu tidak ada yang penting.�

�Begitukah?� si gadis tak percaya.

�Ya. Hanya pesan biasa.�

�Bagus kalau hanya itu. Aku harap jangan sampai masalah ini sampai menyebar. Rahasia itu harus tetap kita jaga.� Gadis itu tersenyum lagi.

�Baik.� Pria di sampingnya mengangguk. �Sekarang, bisakah aku menerima bayaranku?�

�Ohh... kamu sudah tidak sabar ya?� Gadis itu berdiri dan meletakkan majalah yang tadi dipegangnya ke meja.

�Berduaan dengan wanita secantik dirimu, siapapun pasti tak tahan.� jawab laki-laki itu sambil mengendurkan ikat pinggangnya.

Si gadis tertawa dan mulai membuka kancing bajunya satu per satu. Dia menanggalkan semuanya hingga blouse merah jambu itu jatuh lepas ke bawah. Jantung si lelaki bagai terhenti seketika saat melihat bagian tubuh si gadis yang teramat sempurna. Rupanya, dibalik blouse itu, si gadis sudah tidak mengenakan apa-apa lagi hingga payudaranya yang besar dan putih mulus terpampang dengan jelas di mata laki-laki itu.

�Ohh,� si pria terbelalak dengan mulut menganga lebar. Belum reda kekagetannya, si gadis sudah memberinya kejutan lain. Sambil berjalan mendekati dirinya, gadis itu mencopoti rok dan celana dalamnya dan berdiri tepat di depan laki-laki itu. Dia seperti ingin memamerkan vaginanya yang indah, yang terpampang dengan jelas, dengan sejumput bulu-bulu halus menghias di bagian atasnya.

Si gadis mengamati dengan puas ekspresi kagum sang pria yang terduduk melongo di depannya. Dengan tetap tersenyum manis, gadis itu menurunkan tubuhnya perlahan-lahan.

Kembali pria itu mendapat pemandangan baru saat dua payudara si gadis turun secara perlahan, dua buah dada putih mulus yang begitu besar dengan puting mungil yang tegak menantang. Sungguh benda yang sangat menggiurkan, membuat laki-laki itu harus kuat menahan diri agar tidak langsung menyambar dan melumatnya.

Sambil tersenyum manis, gadis itu duduk dipangkuan si lelaki. Tangannya melingkar ke leher si pria, sementara mata mereka saling bertatapan. Perlahan, wanita itu mendekatkan mukanya dan menempelkan bibirnya yang tipis ke telinga laki-laki itu.

�Nikmatilah tubuhku. Aku yakin kamu tidak akan kecewa,� bisiknya lirih.

Dua buah dada gadis itu menempel ketat ke dada si lelaki. Lidah yang basah kini menyapu telinga pria itu. Ciumannya merambat, mulai dari telinga menuju leher, lalu terus turun hingga ke dada si pria. Dengan lincahnya, lidahnya menari di atas puting susu laki-laki itu.

�Oughhh,� si pria mendesis, tubuhnya bagai tersengat listrik ribuan volt.

Setelah puas bermain di dada, ciuman si gadis merambat kembali ke atas. Dipagutnya bibir hitam si lelaki dengan buas. Sang pria menyambut ciuman itu dan segera membalasnya dengan tak kalah ganas. Si gadis mengulurkan tangannya ke bawah, digenggamnya batang penis pria itu yang telah berdiri tegang. Ukurannya tidak mengecewakan. Tampaknya malam ini dia akan terpuaskan.

Tangan gadis itu mulai bergerak lembut memberikan kocokan-kocokan pelan yang membangkitkan gairah, membuat si pria jadi semakin ganas membalas ciumannya. Mengangkangkan kakinya lebar-lebar, si gadis membimbing batang itu, mengarahkannya tepat ke bibir vaginanya. Memajukan sedikit pantatnya, kepala penis itupun melesak masuk menusuknya.

�Oougghhhhhhh...� keduanya sama-sama melenguh sambil terus berciuman.

Berpegangan pada pundak kekar si lelaki, gadis itu pun segera menggoyang pantatnya, dia naik turun dengan gerakan teratur. Awalnya pelan, tapi lama-lama menjadi semakin cepat. Kemudian lebih cepat lagi. Dan terus semakin kencang sambil tidak melepaskan pagutannya di bibir pria itu. Payudaranya yang besar terlontar-lontar kesana-kemari. Si pria segera menangkap dan meringkusnya dalam remasan-remasan kuat yang menyakitkan.

Gerakan wanita itu kini semakin tak beraturan. Kadang kencang, kadang juga pelan. Cengkeraman vaginanya terasa semakin ketat dan kuat. Benda itu juga terus berdenyut-denyut, membuat si lelaki jadi merem melek keenakan.  Dia sudah akan menggeram saat gadis didepannya mendahului sambil menghempaskan pantatnya dengan kuat.

�Ouw!� pekik pria itu saat merasakan penisnya tertanam dalam sampai ke pangkalnya. 
Tubuh gadis itu melenting ke belakang dengan diiringi jeritan panjang yang memilukan, �AARRGGGHHHHHHHHH...� dia pun orgasme.
.
Sang pria segera menangkap tubuh mulus itu dan memeluknya erat-erat. Mulutnya menuju payudara sang gadis yang membusung indah dan segera melumat kedua putingnya yang mungilkemerahan. Di bawah, tepat di ujung penisnya, masih terasa sentakan-sentakan kecil sisa orgasme gadis itu.

Masih terus menyusu, didengarnya si gadis berbisik. �Kamu hebat, bisa mengantarku  ke puncak kenikmatan hanya dalam satu kali serangan.�

Pria itu tersenyum, tanpa melepaskan penisnya dari vagina sang gadis, dia membaringkan tubuh mulus wanita cantik itu di ranjang dan menindihnya. �Sekarang giliranku!� seringainya sambil kembali menetek di kedua puting susu sang gadis. Sementara di bawah, penisnya juga kembali bergerak, memompa kemaluan gadis itu yang terasa sudah begitu basah dan panas.

�Ohhhhhh... Memekku rasanya terbakar.� ceracau gadis itu sambil kedua tangannya menarik-narik pantat si lelaki seakan membantu untuk mendorong lebih dalam lagi.

Dengan raut muka menahan nafsu, laki-laki itu terus menggerakkan pinggulnya maju mundur. Dia melakukannya dengan kuat dan cepat hingga penisnya menusuk sangat dalam. Bunyi plak-plok plak-plok terus terdengar di setiap hempasannya.

�Aahhhhhhhhhhhssss...� laki-laki itu mulai mendesis. Dia mulai mendekati puncaknya. Denyutan di pangkal penisnya terasa semakin kuat. Apalagi sekarang vagina gadis itu ikut mencengkeram dan meremas-remas dengan denyut rendah yang tak beraturan. Membuatnya jadi semakin tak tahan.

Dia mengangkat muka manis sang gadis dan melumat bibirnya dengan rakus. Sambil meremas-remas buah dada gadis itu, dia pun menggeram. �Aarrgghhhhhhhhhh�!!!� Laki-laki itu menghunjamkan penisnya sekuat tenaga dan  dengan mata terpejam rapat, dia meledak. Seiring tiap denyutan penisnya, spermanya menyembur memenuhi liang vagina gadis itu yang terasa sudah begitu penuh.

Disaat yang bersamaan, sang gadis juga kembali menggapai puncaknya. Meski tidak sedahsyat yang pertama, tapi cukup untuk membuat wanita cantik itu merem melek keenakan.

Kelelahan, kedua orang itu berbaring bersisian sambil berpelukan. Mereka sama-sama puas.

***

�Apa yang mau kamu bicarakan?� tanya Mika saat mobil yang dinaikinya mulai keluar dari lahan parkir rumah duka itu.

�Begini. Aku rasa aku harus langsung ke pokok pembicaraan kita.� jawab Wendy.

�Lebih baik kamu menceritakannya.�

�Aku curiga profesor Jeremia dibunuh.�

�Dia memang dibunuh bukan?�

�Maksud aku, dia itu sengaja dibunuh. Tidak seperti hasil penyelidikan polisi yang menyatakan dia dirampok dan terbunuh karena membela diri.�

Mika mulai memperhatikan lawan bicaranya dan merasa sedikit aneh dengan sikap wanita cantik berkacamata itu. Mika pernah diajar oleh Wendy beberapa semester awal dan menurutnya, Wendy yang di hadapannya ini berbeda dengan yang pernah mengajarnya dulu. Wendy ini terlihat sangat gugup.

�Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu?�

�Beberapa minggu lalu, pak Jay meneleponku. Dia mengatakan bahwa selama beberapa hari dia merasa diikuti seseorang.�

Mata Mika tiba-tiba menjadi tajam dengan pernyataan itu. �Diikuti?�

�Iya.� Wendy mengangguk.

�Maksudmu, sejak saat itu dia diincar pembunuh?�

Wendy mengangguk lagi.

�Tidak mungkin,� Mika hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, �Aku yakin walau aku tidak pernah mengenalnya secara pribadi, tapi aku tahu profesor bukan jenis orang yang mempunyai musuh. Jadi tidak akan ada yang mempunyai dendam dengannya.�

�Aku tidak mengatakan ada yang dendam padanya.�

�Lalu?�

�Aku curiga ini soal penelitian yang dilakukannya.�

�Penelitian?�

Wendy terdiam. Ia sedang berpikir dan mencoba mengumpulkan kata-kata yang tepat untuk diucapkan. �Iya.� Dia memulai lagi, �Apa kamu ingat saat semester-semester awalmu pak Jay pernah mengajakmu untuk melakukan suatu penelitian? Dia pernah mendekatimu untuk melakukan itu?�

Mika mencoba mengingat-ingat maksud Wendy itu. �Aku sepertinya ingat kejadian itu, hanya lupa detailnya.�

�Pokoknya, saat itu kamu tidak bisa menemaninya dalam penelitian itu tapi aku tidak ingat kejadian apa yang membuat kamu tidak bisa ikut. Nah, waktu itu aku menjadi asisten dosen. Dan sejak saat itu aku sering menggantikannya mengajar karena dia mulai melakukan penelitian itu sampai keluar negeri.�

�Kamu tahu penelitan apa itu?�

Wendy menggeleng. �Aku tidak tahu sama sekali penelitian apa yang beliau lakukan. Tapi beliau pernah memberi tahu aku, bahwa penelitian itu bisa membawa perubahan besar bagi dunia. Dia sangat berapi-api saat mengatakan akan memulai penelitian itu.�

�Dan penelitian itu juga sangat berbahaya?�

�Seperti itu lah yang dia katakan. Dan satu hal yang harus kamu tahu, dia hanya mengatakan soal penelitian itu kepada dua orang. Kamu dan seorang mahasiswa lain. Aku hanya tahu salah satunya kamu dan aku tidak tahu siapa mahasiswa yang lain itu?�

�Jadi maksud dari pembicaraanmu ini?�

Wendy memperhatikan Mika makin lekat. �Aku hanya memperingatkanmu untuk berhati-hati. Kamu harus berhati-hati, supaya nasibmu tidak seperti profesor Jeremiah.�

Ada empati yang begitu besar yang Mika rasakan dari Wendy. Tapi harus diakuinya Mika mulai terpengaruh dengan perkataan wanita itu. �Mengapa aku harus berhati-hati? Aku tidak akan melakukan penelitian itu bukan?�

�Aku tahu kamu tidak akan melakukan itu, tapi aku hanya takut mereka pikir kamu melakukannya atau setidaknya mengetahui tentang penelitian itu.�

Mata Mika makin menatap tajam Wendy, ia benar-benar penasaran dengan maksud ucapan wanita itu. �Siapa maksudmu dengan mereka?�

�Aku juga tidak tahu.�

Wendy tiba-tiba membisu. Mika mulai merasakan sesuatu disembunyikan Wendy darinya dengan melihat perubahan mimik wajah Wendy yang tiba-tiba saja menjadi sangat tegang. Mika pun terpaksa harus mendesak Wendy mengatakannya.

�Aku tahu, kamu tahu sesuatu?�

Wendy sekali lagi menggelengkan kepalanya.

�Kalau kamu tidak mengatakannya, percuma saja bertemu denganku bukan?�

Sekali lagi, timbul wajah ketakutan dari Wendy. Dia mencoba untuk berpikir keras tentang semua yang mengganggunya. Namun akhirnya, ia memutuskan untuk bicara.

�Oke. Aku mungkin tahu sesuatu.�

Wendy menghentikan perkataannya dan dalam beberapa detik kemudian dia meneruskan pembicaraannya.

�Tiga hari yang lalu aku kebetulan pergi ke daerah rumah profesor Jeremiah. Dan secara tidak sengaja aku melewati rumah profesor. Saat itu ada dua orang berdiri di depan rumah profesor. Seorang wanita yang memakai pakaian serba ungu dan yang satu lagi pria kekar yang tidak begitu jelas mukanya. Aku awalnya tidak menaruh curiga sedikit pun pada mereka, karena kupikir mereka mungkin tamu atau tetangga profesor. Dan karena aku melajukan mobilku perlahan aku mendengar sesuatu yang mereka bicarakan, baru aku sadari ada yang tidak beres. �

�Pembicaraan apa maksudmu?�

�Samar-samar. Tapi ada satu kalimat yang jelas, walau awalnya aku tidak tahu apa maksudnya?�

�Kalimat apa itu?�

�Bunyinya kira-kira seperti ini,� Wendy menimbang-nimbang. ��Data itu harus kita dapatkan, setelah itu kita habisi dia.� Dan aku baru sadar maksud perkataan itu saat keesokan harinya profesor meninggal dunia.� Wendy menggelengkan kepalanya. �Aku menyesal. Seharusnya aku melaporkan hal ini ke polisi. Dan mungkin profesor masih hidup.�

Wendy terlihat terpukul sekali dengan kenyataan itu. Ia memukul-mukul stang mobil dengan kedua telapak tangannya. Mika pun mencoba mengambil alih situasi itu.

�Sudahlah. Semua sudah berlalu dan tidak ada yang harus disesali lagi.�

�Memang. Tapi aku menyesal sekali. Aku...� Wendy tertunduk sedih. Ia tidak tahu apa yang bisa dia katakan lagi.

�Mengapa kamu tidak melaporkan hal ini ke polisi?�

�Aku takut. Aku takut sekali. Aku takut nyawaku terancam karena ini.�

�Terancam oleh?�

�Oleh mereka itu.�

�Sebenarnya aku tidak mengerti tentang siapa mereka itu?�

�Mereka itu... Ah, aku tidak tahu.�

�Kamu terlalu memikirkannya.�

Wendy menggelengkan kepala sebentar lalu menatap Mika dengan penuh harap dan permohonan. �Kamu tidak akan melaporkan ini ke polisi kan?� dia tampak ragu-ragu, �Tentang semua kecurigaanku ini? Aku takut aku jadi terlibat karena ini.�

Mika menggeleng, �Aku rasa aku tidak akan berbuat itu.�

�Lalu apa yang akan kamu lakukan saat tahu hal ini?�

Mika menggelengkan kepalanya lagi. �Jujur saja, aku tidak tahu.�

�Emm, sepertinya sudah malam, sebaiknya kita pulang.� Wendy membelokkan arah mobilnya dan mengantarkan Mika untuk mengambil motornya.

�Terima kasih. Aku akan memikirkannya di rumah.�

�Ini alamatku, datang saja kalau perlu bantuan. Apapun!� Wendy memberi kartu nama.

Mika membacanya sejenak. �Ternyata dekat, ya?� rumah Wendy hanya dua blok dari situ.

�OK, aku pulang dulu ya. Kamu berani kan pulang sendiri?� wanita itu bertanya.

�Tak masalah. Aku sudah biasa pulang larut.�

�Bye, hati-hati ya.� Wendy melambaikan tangannya saat mobil merahnya melaju pergi, meninggalkan Mika sendirian di tempat parkir yang sepi itu.

�Kamu juga hati-hati!� balas Mika berteriak.

Langit terlihat gelap, kelihatannya mau turun hujan. Mika berharap bisa tiba di rumah sebelum hujan turun. Dia segera menyalakan motornya dan meluncur. Saat itulah, Mika baru sadar kalau ban belakang motornya ternyata kempes.

�Sial!� pemuda itu mengumpat. Dan kesialannya semakin bertambah saat detik berikutnya hujan turun dengan begitu deras. Mika yang tidak sempat mencari tempat berteduh jadi basah kuyup karenanya.

�Mungkin sebaiknya aku ke pergi tempat Wendy saja untuk meminjam pompa,� batin Mika sambil menuntun sepedanya. Rumah Wendy tak jauh, sekitar seratus meter dari situ.

Terlihat mobilnya terparkir rapi di samping rumah. Setelah memarkir motornya, Mika menekan bel pintu yang ada di gerbang depan untuk memanggil wanita cantik itu. Dia tidak berani menggunakan HP-nya karena hujan masih turun dengan begitu deras. Tidak menunggu lama, pintu rumah terbuka. Wendy keluar sambil berjalan tergopoh-gopoh membawa payung. Tubuhnya yang sintal cuma dibalut selendang batik dan kaos T-Shirt tipis tanpa lengan. Padahal udara begitu dingin, tapi dia menggunakan baju yang sangat minim seperti itu.

"Ada apa, Mik?" tanyanya keheranan melihat Mika yang basah kuyup hujan-hujanan. Di langit, kilat mulai menyambar sambung menyambung.

"Aku mau pinjam pompa, ban motorku kempes."

"Tunggu sebentar!" Wendy membuka pintu pagar dan mempersilakan Mika untuk masuk.

�Emm, terima kasih.� sambil menuntun motornya, mata Mika tak berkedip memperhatikan tubuh montok Wendy yang melenggak-lenggok berjalan di depannya. Dengan pakaian seperti ini, wanita itu tampak jadi begitu menarik. Berbeda sekali saat dia berpakaian resmi seperti sore tadi. Dari belakang, kesintalannya terlihat jelas. Terutama bokong bulatnya yang padat dan berisi. Memperhatikannya membuat kemaluan Mika perlahan menggeliat.

"Masuklah, aku cari dulu pompanya di gudang." Wendy menawarkan.

"Tidak usah. Nanti rumahmu malah basah semua." Mika menolak.

"Ya udah, kalau gitu tunggu saja disini." Wendy masuk ke dalam, meninggalkan Mika kedinginan sendirian di depan pintu. Tak lama, dia kembali sambil membawa pompa dan setumpuk pakaian kering. "Nah, ini..." diulurkannya pompa itu ke tangan Mika.

Dengan menggigil kedinginan, Mika langsung memompa ban motornya.

"Ingin langsung pulang habis ini?" tanya Wendy.

"Iya, habis mompa terus pulang."

"Hujan selebat ini mau nekat pulang?"

"Tidak apa-apa, sudah basah kuyup juga kok," jawab Mika lalu bersin.

"Tuh kan, kelihatannya kamu mau flu tuh."

"Hanya sedikit bersin kok," sahut Mika sambil menyerahkan pompa kembali pada Wendy. Ban motornya sudah terisi penuh seperti semula. �Terima kasih,  Wen."

"Dari tadi kamu terima kasih � terima kasih terus, tidak takut kehabisan stok?�

Mika tertawa.

�Nih, ganti bajumu pakai ini!" Wendi mengulurkan baju kering yang sudah dipegangnya sejak tadi. "Baju basahnya taruh dalam keranjang ini." Tambahnya.

Mika melepas bajunya dan memasukkannya ke dalam keranjang. Dia juga tak malu-malu membuka celananya di depan Wendy, tetapi dengan terlebih dahulu membungkus dirinya memakai sarung yang diberikan oleh wanita cantik itu. Setelah mengeluarkan dompetnya, Mika memasukkan celana itu ke keranjang, bercampur dengan kaosnya. Terakhir, Mika melepas celana dalamnya dan menumpuknya juga ke dalam keranjang.

"Ayo masuk, pulang nanti saja kalau hujan sudah berhenti." sambung Wendy sambil membawa keranjang itu ke dalam. Mau tak mau Mika jadi mengikutinya.

"Duduklah disitu,� Wendy menyuruh Mika duduk di ruang tamu. �Minumlah. Kubuatkan kopi untuk menghangatkan badan.�

Mika mengambil Nescafe itu dan menghirupnya. �Kamu tinggal sendirian disini?� dia bertanya, memulai pembicaraan.

"Iya, ortuku tinggal di kota lain."

"Oh begitu,"

�Aku ke belakang sebentar, kukeringkan baju ini dulu." Wendy berlalu ke dapur.

Hujan di luar masih turun dengan lebat dan diikuti dengan bunyi guruh yang memekakkan telinga. Mika mengedarkan pandangannya, memperhatikan perabotan dalam ruangan itu. Hmm, cukup mewah juga. Dia melihat-lihat kalau ada buku yang bisa dibaca dan ternyata ada. Mika mengambil sebuah novel dan mulai membacanya. Baru dua lembar, dia merasa ingin buang air kecil, maklum udara begitu dingin.

Mika menunggu Wendy, apa saja yang dilakukan wanita cantik itu di belakang sampai lama tidak balik-balik? Dia sungkan kalau harus pergi mencari kamar mandi sendirian, ini kan bukan rumahnya. Tapi sampai 10 menit, Wendy masih belum kembali. Mika yang sudah tidak tahan, terpaksa meletakkan bukunya dan beranjak ke belakang.

Saat itulah, sekilas, dia melihat Wendy yang berjalan masuk ke sebuahn kamar. Yang membuat Mika melongo adalah... wanita itu hanya menggunakan handuk saja untuk menutupi tubuhnya yang telanjang. Sepertinya dia baru keluar dari kamar mandi. Meski cuma sekilas, tapi itu sudah cukup untuk membuat Mika kesulitan menelan ludah. Berjingkat, dia meneruskan langkahnya. Tepat di depan kamar, dia berhenti. Mika mendapati pintu kamar itu tidak tertutup rapat.

Dia memberanikan diri untuk mengintip. Dan oh ampun... serasa lepas jantung Mika saat melihat Wendy berdiri telanjang di dalam sana. Tanpa bisa dicegah, kemaluannya pun menegak meski Mika hanya dapat melihat bagian belakang saja. Dari ujung rambut sampai ujung kaki, semuanya terlihat jelas. Saat itu Wendy sedang mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk yang tadi dipakainya. Terpesona dengan pemandangan itu, Mika terpatung di depan pintu.

Wendy yang tidak tahu kalau sedang diintip, dengan santai menggosokkan handuk ke celah selangkangannya, dia seperti ingin mengeringkan vaginanya. Kemudian handuk itu dilemparkan begitu saja ke atas ranjang. Lalu tanpa curiga, wanita itu membalikkan badannya ke arah pintu dan jongkok untuk membuka laci lemari. Wow!  terlihatlah sekujur tubuhnya yang telanjang tanpa sehelai benang pun menutupi tubuh sintalnya. Buah dadanya yang menonjol terlihat segar kemerah-merahan. Begitu juga dengan kemaluannya yang sempit dan lembab, bulu-bulu halus yang tercukur rapi menghias di sekelilingnya. Mika menontonnya dengan mata melotot tak berkedip.

Saat itulah, Wendy menoleh ke arah pintu dan menjerit, "Hei..!" Dia segera berusaha menutupi tubuhnya yang telanjang dengan kain yang sempat diambilnya dari dalam lemari. �Mika!� tegurnya dengan nada tinggi.

Mika yang kepergok, berusaha menolehkan muka, tapi tidak bisa. Tubuh mulus Wendy terlalu menggodanya. Masih terus menatap, Mika terdiam, menanti umpatan kemarahan yang akan keluar dari mulut tipis wanita cantik itu.

"Apa yang kau lakukan disitu?!� Wendy menghardik sambil berusaha melilitkan selendang batik pada tubuh sintalnya.

�A-aku...� Mika tidak bisa menjawab.

�Sejak kapan kamu berada disitu?� Selendang itu ternyata begitu kecil hingga cuma bisa menutupi setengah dari bulatan payudaranya dan sebagian kecil dari paha mulusnya.

Mika menelan ludah saat melihatnya, "A-aku minta maaf."

"Aku tanya...� Wendy melotot. �Sudah lama kamu lihat aku?!�

"Ehm, c-cukup lama juga."

"Kamu melihat apa yang aku perbuat?"

Mika mengangguk lemah, "Maafkan aku.
Aku benar-benar tidak sengaja. Aku tadi ingin ke kamar mandi dan melihat pintu kamarmu terbuka, jadi...�

"Sudahlah, tidak usah sampai takut begitu.� nada suara Wendy tiba-tiba berubah menjadi lembut.

"Aku tak sengaja, bukannya mau mengintip, tapi pintu kamarmu yang tidak tertutup rapat..."

"Memang salahku juga kenapa tidak menutup pintu tadi. Tapi, kenapa kamu pakai mengintip segala," sergah Wendy kalem, kelihatan tidak marah.

�Aku tidak bermaksud begitu,� Mika memandangi wanita cantik itu, terpancar sedikit gairah di wajahnya.

"Wajahmu pucat. Kamu takut?" tanya Wendy.

Mika mengangguk. "Aku takut kamu marah,�

Wendy tersenyum, "Sudahlah, aku tidak marah kok. Aku juga salah, bukan hanya kamu. Sebenarnya siapa pun yang punya kesempatan seperti itu pasti akan melakukan apa yang kamu lakukan tadi." jelasnya.

Mika menganggukkan kepala sambil tersenyum. Dia lega Wendy bisa menerima argumennya.
"Boleh aku tanya sesuatu?� bisik wanita cantik itu.

�Silahkan,�

�Menurutmu, tubuhku bagaimana? Apa masih bagus?� Wendy bertanya vulgar.

Mika melotot, tak menyangka akan diberi pertanyaan seperti itu. Membayangkan tubuh montok Wendy yang tadi telanjang bulat di depannya, perlahan-lahan membuat kemaluannya kembali menegang. Mika cepat-cepat berusaha menutupinya dengan menggunakan tangan.

"Wah, kamu ereksi ya?� Wendy terkikik, rupanya dia sempat melihat kemaluan itu. �Pasti tubuhku begitu menarik ya sampai bikin kamu ngaceng?� tambahnya.

Mika tertunduk karena malu. Perlahan dia mengangguk. �Hmm, tubuhmu..." Dia berbisik, "... s-sungguh luar biasa! Tubuh terindah yang pernah kulihat!"

"Ah, gombal!� Wendy tertawa.

"Benar, aku tidak bohong!" Mika membuka tangannya, memperlihatkan penisnya yang sedang menegak di balik sarung. �Lihat saja ini, punyaku tidak mau turun lagi!�

Wendy bengong melihat tindakan Mika yang berani. Tidak bersuara, matanya menatap tajam tonjolan di selangkangan Mika yang terlihat semakin membesar dan menegak.

"Wen?" Mika memanggil. Suaranya sudah mulai parau.

Wendy terdiam, menantikan kata-kata pemuda itu selanjutnya. Sementara matanya, terus menatap ke bawah, ke arah kemaluan Mika yang terus mencuat tinggi.

"Kamu tahu... Kamu lah wanita paling cantik yang pernah kutemui." bisik Mika.

"Mana mungkin,� balas Wendy malu-malu. �Apa buktinya?"

"Lihat saja,� Mika mulai menjelaskan. �Tubuhmu bagus dan molek. Kulitmu putih, dengan pinggang ramping dan payudara yang montok. Ditambah..."

"Ah, sudah, sudah." Wendy memotong cepat. Terlihat wajahnya menjadi merah karena malu, �Ngomong mulu! Apa kamu tidak penasaran gimana rasanya?!�
�Hah?!� Mika kaget. �Apa maksudmu?�

�Daripada cuma diomongin, kenapa nggak dicoba saja sekalian?!� tantang Wendy.

�Jadi maksudmu��

�Ayo cepatlah, sebelum aku berubah pikiran!� sahut Wendy.

Di luar, hujan turun semakin lebat. Tiba-tiba kilat menyambar disertai bunyi petir yang memekakkan telinga. Wendy yang terkejut, secara spontan menghambur ke dalam pelukan Mika. Mika yang sudah siap, segera menyambut tubuh montok itu dan merangkulnya dengan erat. Pelan, dia mengelus kepala Wendy yang bersandar di dadanya. Mika membelainya dengan sayang.

Petir menyambar lagi. Kali ini lebih dekat seakan di belakang rumah. Wendy yang ketakutan makin mendekatkan tubuhnya. Mika memanfaatkan peluang itu dengan melingkarkan tangan kirinya ke pinggang Wendy yang ramping, sementara tangan kanannya tetap membelai rambut dan kepala wanita cantik itu. Dia juga lebih merapatkan badannya hingga terasa buah dada Wendy yang empuk menekan kuat di dadanya yang bidang.

Wendy mendongakkan kepala, menatap seolah-olah meminta lebih. Mika segera mendekatkan wajahnya, perlahan bibirnya maju menuju bibir Wendy yang mungil dan separuh terbuka itu.

�Mika, ahhhh...� belum sempat Wendy menghabiskan kata-katanya, bibir Mika sudah menempel pada bibirnya dan melumat rakus. Pemuda itu menciumnya kuat-kuat. Berkali-kali. Tanpa putus atau berhenti.

"Mmmpphh.. mmpphh.." Mika terus mencucup dan menghisapnya sambil tangan kirinya menggosok-gosok seluruh bagian belakang tubuh Wendy yang ramping. Sementara tangan kanannya memegang kepala Wendy agar kecupannya tetap kuat dan tidak terputus.

Wendy, dengan nafsu yang mulai terpancing, memeluk erat leher Mika. Dia membalas ciuman pemuda itu dengan penuh nafsu. Menjulurkan lidah, Wendy membelit dan menghisap lidah Mika yang basah. Bergantian mereka saling mencucup dan bertukar air liur. Bunyi kecipak ciuman mereka sanggup menandingi suara air hujan yang masih terus turun membasahi bumi.

Cukup lama mereka berciuman, bertautan bibir dan bertukar lidah, sambil tubuh tetap berpelukan mesra, saat Wendy menarik kepalanya diikuti dengusan birahi, "Mmm.. Aagghhhhhh...!"

Mereka saling menatap. Tangan Mika masih melingkar di tubuh Wendy yang seksi. Badan mereka masih menempel rapat. Keduanya terdiam, hanya deru nafas mereka yang kencang terdengar. Seiring detik berlalu, nafsu Mika menjadi kian meningkat, ditunjukkan oleh penisnya yang semakin menegang kencang. Sementara Wendy, tatapan matanya sudah berubah redup, seperti meminta Mika untuk menuntaskan kebasahan di vaginanya.

�Hmmpphhhh..� sekali lagi, Mika menambatkan bibirnya. Dan sekali lagi pula, Wendy menyambutnya dengan mesra. Mereka saling melumat dengan penuh nafsu dan nikmat. Sesekali ciuman Mika juga turun menyambar leher Wendy yang jenjang dan putih mulus, membuat Wendy jadi merintih dan menggeliat  kegelian.

"Ooohh.. M-Mikaaa.." suaranya manja mengalun lembut.

Sambil terus berciuman, tangan kanan Mika perlahan bergeser ke depan, ke arah buah dada Wendy yang bulat dan membusung. Dengan lembut dia memegang dan meremas-remasnya. Terasa buah dada itu begitu lembut, halus dan empuk. Wendy hanya dapat mendesis menahan rasa nikmat saat ciuman Mika perlahan juga bergerak turun ke arah pangkal dadanya yang putih dan mulus itu. Mika menjilat dan mencucupinya dengan kuat sambil terus meremas-remas.

�Aaaahhhhh... Mmmpphhh...� Wendy merintih keenakan merasakan ciuman dan remasan pada buah dadanya. Dan rintihannya menjadi semakin keras saat Mika memencet putingnya yang masih tertutup selendang batik tipis. Dengan gemas wanita itu merangkul erat dan meremas-remas rambut Mika hingga acak-acakan.

Sambil terus mencium dan meremas, Mika melingkarkan tangannya ke belakang dan mulai mencari ikatan selendang yang membalut tubuh sintal Wendy. Dia mengurainya hingga terlepas dan perlahan-lahan menarik turun kain itu hingga terjatuh di lantai. Tak berkedip, Mika menatap payudara Wendy yang putih kemerahan, yang tadi hanya dapat dilihatnya dari jauh. Dengan tak sabar, dia segera memijit dan memain-mainkan putingnya yang sebelah kiri sambil mulutnya mencium dan menjilat yang sebelahnya lagi.

�Aagghhhhsss... Ougghhhhhhsss...� suara desisan Wendy terdengar semakin manja, membuat Mika yang mendengarnya jadi semakin bergairah.

Habis kedua belah payudara wanita itu dicium dan dihisapnya. Putingnya yang menggemaskan, yang terlihat mungil kemerahan, dia jilat dan digigitnya mesra. Wendy membalasnya dengan merangkul tubuh Mika makin erat.

Sambil mengulum puting payudara, Mika membuka kain sarungnya dan melemparkannya begitu saja ke lantai, bertumpuk dengan selendang Wendy yang bermotif batik. Dia sudah telanjang, sama dengan Wendy. Hujan di luar sudah mulai reda, tapi permainan mereka baru saja akan dimulai.

Kehangatan tubuh montok Wendy dengan cepat membakar nafsu birahi Mika yang sudah menggelegak. Dia terus memeluk wanita itu erat-erat sambil mengecup bibirnya berkali-kali. Buah dada Wendy yang empuk terasa hangat bergesekan dengan dadanya. Membimbingnya pelan, Mika membaringkan tubuh wanita cantik itu di atas ranjang. Dia menatapnya tanpa berkedip.

Di depannya, Wendy memandang sayu kemaluan Mika yang sudah menegang dahsyat, yang membutuhkan sebuah lubang sebagai pelampiasannya. Berbaring mesra di sisinya, Mika kembali mengusap dan membelai buah dadanya yang membulat. Pemuda itu kembali mengulum putingnya sambil tangan kanannya turun ke bawah, ke arah selangkangannya, lalu meraba untuk mencari puncak kenikmatannya yang selama ini selalu ia sembunyikan.

�Ouugghhhhhh...� Wendy merintih saat Mika mulai mengusap-usap dan menggosok bibir kemaluannya. Rasanya begitu nikmat hingga punggung Wendy sampai terangkat-angkat keenakan.

Vagina itu sudah terasa begitu basah dan lengket. Benda itu sudah begitu berair meski belum diapa-apakan. Bulu-bulu tipis yang tercukur rapi di sekelilingnya tampak menggumpal karena cairan.

Mika menjilat kemaluan itu hingga tubuh Wendy terangkat ke atas menahan nikmat. Dia menyentuh lagi dan menggesekkan jari-jarinya, tubuh Wendy kembali melenting dengan erangan nikmat keluar dari bibir tipisnya. Mika terus memainkan klitoris itu, menggesek dan memilinnya hingga  tubuh Wendy terangkat-angkat dan menggelinjang bagaikan kejang. Jerit kenikmatan wanita cantik itu juga semakin keras terdengar. Mika merasakan ada cairan yang menyemprot dari dalam kemaluan Wendy dan membasahi jari-jarinya.

�Ough, ahhh.. ahhh..� Wendy terengah-engah menikmati orgasme yang baru saja melanda.

Mika jadi tidak meneruskan jilatannya karena vagina Wendy sudah terlihat begitu basah dan berair. Menjilat sudah tidak ada gunanya lagi. Terus menghimpitkan tubuh sambil tak henti-hentinya menciumi bibir, Mika menggesekkan ujung kemaluannya. Terasa ujung penis itu bertemu dengan bulu dan bibir vagina Wendy yang sudah basah oleh air mani.

Setelah memastikan lubangnya, Mika memegang kejantanannya dan mulai mendorong. Untuk mempermudah, Wendy membuka dan meluaskan kangkangannya sedikit. Setelah berada di ujung muara, Mika pun melabuhkan tongkat saktinya ke dalam lautan birahi yang hangat dan sedap yang disediakan oleh vagina sempit Wendy. Desisan dan raungan mengiringi  goyangan tubuh mereka.


"Aaarrghh.. mmhhhhh.." Mika menekan penisnya sampai ke pangkal batangnya dan membiarkannya sejenak karena terasa seperti terjepit. Dia mencium leher dan mulut Wendy berulang kali sambil tak lupa meremas-remas dada besar milik wanita cantik itu. Saat keadaan sudah agak tenang, baru dia mendayung. Mika menggoyang pinggulnya atas-bawah, pelan namun teratur. Kenikmatannya begitu sempurna, sukar untuk dilukiskan dengan kata-kata.

Dia terus mendorong dan menarik kemaluannya dengan diiringi suara kecipak tiap kali pahanya menabrak bokong bulat Wendy. Wanita itu sendiri memeluk erat pinggang Mika dan menggoyangkan pinggulnya berputar-putar untuk mengimbangi. Sesekali punggung Wendy juga bergerak ke atas dan ke bawah mengikuti arus irama tusukan Mika pada vaginanya yang semakin lama terasa semakin cepat.  

�Aaahhhhhh... Aarrgghhhhhh...� Wendy mengerang.

�Ugghhhhhh... Oouugghhhhh...� Mika menyahut menggeram merasakan dorongan nafsu yang sudah hampir membuatnya meledak. Ujung penisnya sudah memanas bagai gunung berapi yang hendak memuntahkan lavanya. Dia menggoyang semakin cepat dan dengan sekuat tenaga dia menusukkan batangnya dalam-dalamnya. Diiringi jeritan Wendy yang memekakkan telinga, menyemburlah sperma Mika jauh ke dasar lubang senggama wanita cantik itu.

Merem melek keenakan, Mika memandangi Wendy yang terpejam kelelahan dengan dadanya yang besar naik turun dengan cepat. Ada tetesan peluh di atas benda bulat itu. Begitu juga dengan Mika, terasa peluh meleleh di sekujur tubuhnya. Di bawah, kejantanannya perlahan mengecil setelah memuntahkan isinya. Benda itu akhirnya terlepas dengan sendirinya, meninggalkan vagina Wendy yang terasa semakin lembab dan basah.

Mika mengecup dahi Wendy sebagai rasa terima kasih. Wanita itu membuka mata dan memberi senyum manis sebagai balasannya. Kelelahan, Mika merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan kepala dia letakkan di atas payudara Wendy yang menggunung. Terdengar bunyi degup jantung yang kencang di dada wanita cantik itu, wanita yang telah memperingatkan Mika soal pembunuhan profesor Jeremiah.

Setelah beberapa menit, Mika bangun dan membersihkan penisnya dengan menggunakan tisu yang ada di meja. Wendy hanya memandang sambil melemparkan senyuman mesra ke arahnya. Duduk bersila di atas ranjang, Mika membiarkan kemaluanku yang masih sedikit basah kering dengan sendirinya. Tangannya terulur untuk meremas dan memilin puting payudara wanita cantik itu. Wendy membiarkannya sambil tangannya membelai paha dan perut Mika. Mereka tampak seperti sepasang suami isteri.

"Terima kasih, ya." Mika berkata.

"Terima kasih apa?" tanya Wendy

"Kamu sudah mau memberikan tubuhmu untuk kucicipi."

"Oh itu. Tidak usah dipikirkan."

"Kenapa kamu tidak marah?"

"Marah kenapa?"

"Karena aku sudah mengintipmu. Dan setelah itu..."

"Setelah itu aku biarkan kamu menyetubuhiku." sambungnya
.
"Iya, kenapa?" sahut Mika, "Apa sebabnya?"

"Kalau aku lawan pun, kamu pasti memaksa. Kamu sangat menginginkannya kan?"

"Belum tentu juga." Mika menjawab diplomatis.

"Pasti begitu.� yakin Wendy. �Aku mana bisa melawan. Jadi lebih baik aku biarkan dan berbagi saja denganmu. Kan dua-duanya senang." Jelasnya menutup percakapan.

***

Hujan dengan intensitas kecil membuka pagi ini. Tanah-tanah yang sudah haus dan kering terpuaskan, setelah satu bulan sudah tidak ada air yang turun dari langit. Bulan ini memang musim kemarau panjang sekali dan hujan ini juga mengobati rindu para tanaman yang telah lama menanti datangnya hari ini.

Mika terbangun oleh suara alarm handphone yang memang ia atur akan berbunyi jam delapan pagi. Matanya masih terkatup rapat seakan ia tidak ingin membukanya. Tapi, ia tahu bahwa ia harus segera bangun, mandi dan pergi ke kampus untuk mencari data-data untuk menyelesaikan tugas akhirnya.

Mika memaksa matanya untuk terbuka. Pulang subuh dari rumah Wendy benar-benar membuatnya mengantuk. Apalagi semalaman ia bertembur terus dengan wanita cantik itu. Di luar dugaan, Wendy ternyata benar-benar liar di ranjang. 
Mika mengulingkan badannya ke kanan dan ke kiri, lalu segera terjaga. Ia bangun kemudian berjalan perlahan mengambil handuk yang tergantung di dekat kursi malasnya. Melilitkan handuk tersebut ke lehernya, lalu segera masuk ke kamar mandi.

Sepuluh menit kemudian ia keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap. Kemeja biru dengan sedikit motif grafiti terasa seimbang dengan celana jeans biru yang ia kenakan sekarang. Ia menghampiri cermin bulat kecil yang tergantung sederhana pada salah satu sisi temboknya. Menyisir rambutnya menghapus sedikit keringat yang ada di keningnya.

Ia sudah siap. Ia langsung saja turun menuju ruangan di mana ia menaruh motor kesayangannya. Lalu setelah memanaskan motornya selama beberapa menit, ia langsung berangkat meninggalkan rumah kontrakkannya itu.

Tidak lama, Mika sudah tiba di kampusnya.

Saat memarkirkan motor, ia cukup terkejut saat menyadari bahwa ada seseorang yang sedang memperhatikannya dari kejauhan. Ia lebih terkejut saat melihat orang itu melambai-lambaikan tangannya dari kejauhan.

Mika sepertinya tahu siapa orang yang memanggil namanya beberapa kali itu. Bahkan Mika sangat mengenal orang itu sudah sejak lama. Apalagi saat Mika mulai menghampirinya dan gadis itu tersenyum padanya.

�Nami?�

�Hai, Mika!�

Nami adalah gadis yang dikenalnya dari SMP. Gadis yang cukup manis ini mempunyai rambut dengan panjang sebahu dan terlihat lurus sekali. Di kedua pipinya ada lubang kecil yang menambah nilai sempurna pada wajahnya yang selalu terawat.

Matanya yang agak kecil sangat membuktikan bahwa gadis ini memang oriental. Tapi pasti saja tiap orang salah mengenalnya dengan mengira dia keturunan China. Ia memang keturunan suku Asia Timur, lebih tepatnya bangsa Jepang.

�Sudah lama sekali kita tidak bertemu,� Mika menjabat tangan Nami. �Bagaimana kabarmu?�

�Iya. Aku kangen sekali padamu, Mik.�

Mika tersipu malu saat Nami mengatakan itu. Apalagi ia sudah lama tidak mendengar gaya manja gadis di hadapannya ini.

�Aku baik-baik saja kok, Mik. Bagaimana kabarmu sendiri?�

�Aku, aku baik.�

�Syukurlah.�

Mika memperhatikan Nami dari ujung kaki sampai ujung kepala, tidak ada yang berubah dari dirinya, kecuali warna rambut Nami yang sudah menjadi coklat.

�Oh ya. Tidak biasanya kamu ke sini?�

�Aku memang ingin bertemu kamu, Mik.�

�Oh ya? Ada apa?�

�Mmm...� Nami mengaruk-garukan kepalanya. �Bagaimana kalau kita bicara di tempat lain?�

Mika termenung sejenak.

�Boleh.�

BERSAMBUNG