Pisau Amputasi

Umur tiga puluh lima dan diangkat menjadi direktur rumah sakit adalah prestasi yang membanggakan. Ya, dr. Arif Priambodo nama lengkapnya. Belum menikah. Dari namanya bisa ditebak Arif ini keturunan Jawa. Karier gemilang membawanya menjadi pimpinan Rumah Sakit Umum Daerah Bekasi.

Pagi ini Arif mulai menempati ruangan barunya, yang bertuliskan Direktur Utama di bagian luar pintu, dengan huruf emas. Ruangan yang berwibawa, berbau harum melati dan bersih, bernuansa putih khas rumah sakit. Tapi agak dingin dan lembab. Menurut anak buahnya ruangan ini sudah tidak ditempati selama lima tahun, sejak dirut yang terakhir masuk rumah Sakit Jiwa dan meninggal di sana.

****

Malam ini terpaksa Arif lembur sampai malam. Sebagai direktur Utama, dia merasa harus memperbaiki bagian manajemen yang menurutnya agak berantakan di berbagai sisi. Sudah seminggu ini dirut muda itu mencermati berkas-berkas yang jumlahnya melebihi diktat-diktat kuliahnya. Dari mulai pengaturan pekerja serta manajemen poliklinik dan bangsal, cukup membuat Arif memaksa diri bekerja lembur, meski tanpa diberi tambahan gaji.

Untuk menghilangkan capek, Arif melirik di dinding-dinding ruangan tersebut. Meski sudah seminggu, ruangan dirut ini masih menyimpan dan memajang banyak benda yang harus dikenalnya satu persatu. Kali ini matanya terpaku ke hiasan dinding, box kaca berisi koleksi pisau bedah kuno. Box ini memang agak terpinggirkan, di depannya ada rangka manusia yang biasa menghiasi ruangan dokter. Dan mitosnya, di setiap ruangan dokter ahli, selalu digunakan rangka manusia yang asli. Arif pernah mendengarnya dari dosen pembimbingnya dulu. Entah benar, entah karangan dosennya, yang jelas Arif memang pernah membuat rangka manusia asli dengan mengulitinya langsung dari mayat yang dibelinya dari bagian kremasi RSUD ini, dulu sewaktu tugas akhir.

Karena tertutup rangka manusia, box itu kurang terlihat. Selama kuliah di fakultas kedokteran, belum pernah dosennya memperlihatkan koleksi pisau yang sekomplit ini. Luar biasa.

Ada pisau ukuran kecil tapi setajam silet, pisau bergerigi, serta pisau yang agak besar lebih mirip celurit. Jelas ini adalah pisau pemotong, mungkin pemotong tulang. Arif melangkah mendekat ke box kaca tersebut dan menggeser pintu kacanya perlahan. Hawa dingin masih menyergap tulang-tulang mudanya.

PISAU AMPUTASI, ternyata benar. Pisau Pemotong Tulang, begitulah tulisan di bawah benda tersebut. Dengan hati-hati diambilnya pisau amputasi itu.

�BRAKKK�..!!!!!�

Suara semacam benda jatuh di depan pintu, membuat jantung Arif tersentak keras.

�Ran, apa itu kamu?� dia menegur. Rani adalah perawat cantik yang dinas malam ini.

Tidak ada suara apapun yang menyahut. Arif bergegas meletakkan pisau besar itu kembali  ke box secara hati-hati. Kemudian bergegas membuka pintu untuk melihat apa yang terjadi di luar ruangan.

Memang benar tidak ada apa-apa. Rumah sakit tetap sepi dan dingin. Arif berjalan ke ujung lorong untuk melihat-lihat mungkin saja pelaku suara tersebut masih ada. Tiba-tiba dokter itu merasakan ketidaknyamanan berada di lantai atas ini. Keinginan untuk pulang segera mendesak otaknya.

�Rupanya memang harus pulang sekarang.� dia bergumam sendiri.

Arif bergegas menuju ruangan dirut untuk mengambil laptopnya dan pulang. Tiba di depan pintu yang masih terbuka, dia kaget setengah mati. Terlihat seorang wanita cantik sedang berbaring telentang di atas mejanya dengan tubuh telanjang bulat. Sperma kental tampak masih membasahi vaginanya yang bengkak memerah.

�Hei, apa yang kau lakukan disini?� teriaknya sambil melangkah masuk ke ruangan.

Lebih kaget lagi, dikursinya sekarang duduk seorang dokter tua, atau siapalah, yang jelas berjas dokter serta mengantongi stetoskop, memandang tajam ke arah wanita itu. Dokter itu berambut putih dan bermuka kaku dan masam. Penisnya yang hitam tampak masih berada di luar. Ada lelehan sperma di ujungnya. Rupanya mereka baru saja bercinta.

�Hei, jangan bercinta di ruanganku!� teriak Arif. �Siapa Anda? Bagaimana bisa�� dia tidak meneruskan kata-katanya.

Bagai tak mendengar, dokter itu diam saja. Sedangkan si wanita mulai berbicara dan mengomel. Meski bingung luar biasa, Arif mencoba menyimak omongannya.

�Dokter harus hati-hati, banyak lho yang pingin menjatuhkan citra rumah sakit kita ini. Dan dokter tahu tidak, Vera, pasien dokter yang cantik itu sebenarnya adalah pacar Rubens, si kepala Lab. Saat tidak ada pasien, mereka sering masuk berdua di lab dan entah apa yang di perbuat dua orang itu. Saya takut Vera ini juga menggoda dokter, karena saya juga pernah lihat dokter dan Vera masuk ke ruangan ini, memang apa sih yang Anda berdua lakukan?�

Arif terpaku, karena tanpa sebab yang diketahuinya, dokter tua itu membentak si wanita.

�Apa maksudmu, hah? Vera adalah pasien spesialku. Kau... rendahan sepertimu tidak berhak berkata macam-macam tentang Vera!!!� selesai berkata demikian, dokter tua itu mengambil pisau amputasi di box dan  menghunjamkannya ke payudara pasangannya.

***

Bunyi ringtone dan getar HP membangunkan Arif. Dia terbangun di meja ruangan dirut.

�Oh, rupanya cuma mimpi.� gumamnya sambil mengucek mata. �Mimpi yang sangat menakutkan.�

Dilihatnya handphonenya yang masih berdering di sebelah netbooknya, ternyata MMS dari Winda. Berisi foto-fotonya saat bermesraan dengan gadis itu di ruangan ini yang dilakukannya tiga hari yang lalu. Arif terkejut luar biasa. Tak disangkanya kelakuan mereka berdua diabadikan dalam foto seperti ini.

Tok-tok..!! terdengar suara ketukan di pintu.

Arif segera mempersilakan masuk. Ternyata Rani, perawat cantik itu.

�Tidak mengganggu, Dok?� tanya gadis itu. Dengan tubuh sintal proposional, dia terlihat sangat menarik.

�Tidak. Mari, duduk sini.� Arif menunjuk kursi yang ada di depannya.

Perlahan Rani melangkah masuk dengan senyum manis tersungging di bibir merahnya yang tipis. Leher jenjangnya terlihat sangat putih dan mulus karena rambut panjangnya yang berwarna hitam kecoklatan ditekuk ke atas saat itu. Tubuh sintalnya dibalut baju dinas warna pink, warna perawat di rumah sakit ini. Baju itu kelihatan sangat ketat dan kekecilan hingga tubuh Rani yang montok tercetak dengan jelas, terlihat begitu menggoda. Bokongnya kelihatan bulat, dengan payudara besar yang seperti mau tumpah. Apalagi Rani juga membuka dua kancing atasnya hingga belahannya jadi kelihatan makin menggiurkan.

Apa maksud gadis itu malam-malam begini masuk ke ruangan Arif dengan memakai baju seperti ini? Mau menggoda? Kalau itu yang Rani inginkan, ya... dia berhasil. Dokter muda itu tergoda. Tapi meski begitu, Arif masih berusaha memasang tampang cuek untuk menjaga imejnya.

�Dok,� dia memanggil dengan suaranya yang lembut mendayu.

�Ya,� Arif menyahut sambil menatap layar laptopnya, pura-pura sibuk.

�Kenalkan, Dok. Nama saya Rani.� Dia memperkenalkan diri.

�Perawat anak ya?� Arif bertanya, meski sudah mengetahui jawabannya. Sebagai laki-laki, tak mungkin dia tidak mengetahui tentang perawat cantik seperti Rani, meski dia adalah seorang Dirut baru.

�Iya, Dok.� Rani menjawab. �Emm� begini, Dok. Saya ada perlu sama Dokter.�

Arif mendongak. �Perlu apa?� dia memandang wajah gadis itu yang secantik bidadari.

�Ah, saya malu ngomongnya.� Rani tersipu, membuatnya makin kelihatan menarik.

�Tidak apa-apa, ngomong aja.�

�Tapi dokter janji ya, jangan menceritakan ini kepada orang lain.�

Arif mengangguk.

�Begini, Dok. Saya perlu uang. Orang tua saya sakit, sudah 3 bulan ini opname disini.� terangnya dengan mata berkaca-kaca. Oh, rupanya dia mau meminjam uang.

�Berapa yang kamu butuhkan?� Arif bertanya.

�Nggak banyak kok, Dok. Cuma 20 juta.� sahut Rani.

�Wah, saya nggak bisa kalau ngasih pinjaman uang. Gimana kalau saya kasih potongan saja, 50%?� ya, hanya itu yang bisa dia lakukan. Bukannya pelit, Arif lagi butuh uang untuk modal kawin tahun depan.

�Yah, Dok, masa gak bisa?� Rani mendesah kecewa sambil membusungkan dadanya, seperti ingin menaruh payudaranya yang sebesar semangka itu di atas meja. Mungkin dia capek membawanya.

�Emm, gimana ya?� Arif menelan ludah memperhatikan belahannya yang sekarang jadi kelihatan semakin menggoda.

�Please, Dok. Saya butuh uang itu.� rengek Rani, tampak cuek meski mengetahui Arif tak berkedip menatap buah dadanya.

�Ada sih uang, tapi...� bayangan pesta pernikahan yang mewah membuat Arif masih tidak rela untuk melepaskan uangnya.

�Tolong, Dok.� Rani berdiri.

Arif sedikit terhenyak saat melihat payudara gadis itu yang memantul indah.

�Saya janji akan mengembalikan secepatnya.� tatapannya terlihat menggoda. �Ini tubuh saya sebagai jaminannya.� sehabis berkata begitu, dia membuka lagi satu kancing bajunya, membuat belahannya terlihat lebih menggiurkan lagi.

Di depannya, Arif terpaku. Dia tak berkedip menatap payudara yang bulat dan putih mulus itu. �Eh, a-apa maksudmu?� meski tahu apa yang dimaksud gadis itu, dia tetap bertanya, untuk memastikan.

�Saya cuma pengen pinjam uang, Dok.� Rani menjawab santai, tahu kalau Arif sudah jatuh ke dalam pelukannya. �Sebagai imbalannya, kupuaskan dokter malam ini.� dia memamerkan tubuhnya yang montok sempurna pada dokter muda itu. Terlihat Arif kesulitan menelan ludah saat melihatnya.

�Bagaimana, Dok, aku yakin dokter akan bersikap bijaksana.� Rani mendekat dan memeluk Arif dari belakang. Dia menempelkan payudaranya yang empuk dan kenyal di punggung pria itu dan menempelkan kepalanya di bahu sang Dirut. Pipi mereka saling menempel.

Perlahan, Rani mencium pipi pria itu, mengendusnya lembut dan mencucupnya dengan hangat. Pelukannya juga semakin erat, membuat payudaranya juga semakin ketat menempel. Bahkan kini Rani juga menggesek-gesekkannya, menggerakkannya ke atas dan ke bawah, dan sesekali ditekan berputar-putar hingga membuat Arif bagai dipijat payudara.

�Please, Dok. Cuma 20 juta saja. Aku yakin itu jumlah yang kecil buat dokter.� tanpa melepas pelukan, Rani menarik kursi Arif hingga menjauh dari meja. Selanjutnya, dia memutarnya hingga kini sang dokter telah duduk menghadap dirinya.

�Apakah dokter mau menolak yang seperti ini?� tanya Rani sambil membuka sisa kancing bajunya. Dia juga menarik jepit rambutnya hingga rambut panjang coklatnya terurai, makin menambah kecantikan dan daya tariknya.

Arif tercekat, makin tidak mampu berkata-kata. Di depannya, tubuh sintal Rani terlihat begitu menggoda. Kulitnya yang putih mulus tampak bersinar, dengan payudara yang besar, yang tampak tergencet menyakitkan di balik Bra-nya yang mungil dan tipis. Putingnya tampak menonjol dan menerawang indah, terlihat begitu menggiurkan.

�Seksi kan, Dok, tubuhku?� Rani tersenyum manja. Dia memegang bahu Arif dan menunduk rendah, seperti ingin memamerkan betapa indah payudaranya karena kini benda itu menggantung dan bergoyang-goyang pelan saling berhimpitan.

�Emmm,� Arif tidak mampu menjawab. Suguhan di depannya benar-benar memancing birahinya, membuatnya jadi tak bisa berpikir jernih lagi. Dia sudah tak peduli meski pesta pernikahannya batal terwujud, yang penting dia bisa menikmati tubuh montok Rani sekarang. Disini. Saat ini.

Apalagi gadis itu kini telah menarik ke bawah resleting roknya, dan sambil tetap tersenyum menggoda, menyingkirkan kain itu. Arif makin melotot dibuatnya. Bagaimana tidak, paha dan pinggang gadis itu kini terlihat dengan jelas, juga bokong dan selangkangannya yang masih tertutup celana dalam hitam tipis.

Bahkan celana itu juga tidak bertahan lama. Dengan pelan, seperti ingin sedikit mengulur waktu, Rani juga melepasnya. Kain segitiga itu menggulung, meluncur ke bawah melewati bokongnya yang bulat, juga pahanya yang putih mulus, dan terus turun turun hingga jatuh menumpuk di lantai. Rani lalu menyepaknya begitu saja ke samping.

�Ini mau dilepas juga?� tanya Rani sambil menggenggam payudaranya yang besar.

�He-em,� Arif mengangguk, tak sabar menunggu itu terjadi.

Tetap tersenyum, Rani melepas pengait Bra-nya. Dia menahannya dulu sebelum akhirnya meloloskan benda itu ke samping. Payudaranya yang besar langsung meloncat keluar, terlihat begitu bulat dan menantang. Meski ukurannya sangat besar, tapi tidak terlihat turun sedikit pun. Benda itu terlihat begitu sempurna. Sangat cocok dengan tubuh Rani yang juga sempurna.

Berdiri menantang di hadapan Arif, gadis itu kini telah resmi telanjang bulat. Tubuh sintalnya terlihat sangat menggiurkan, begitu putih dan montok hingga tampak bersinar saat terkena cahaya lampu neon.

�Dokter suka?� tanya Rani sambil menarik-narik putingnya yang merah kecoklatan. Bulatan mungil itu terlihat masih kaku dan keras, seperti tidak pernah dipakai.

Tidak kuasa untuk menjawab, Arif menarik nafas panjang saat Rani berjalan pelan mendekatinya. Jantung laki-laki itu berdetak kencang.

�Tubuhku milik dokter malam ini, silahkan dinikmati sepuasnya,� bisik Rani saat duduk dipangkuannya. Jantung Arif makin berdetak tak karuan. Bokong gadis itu terasa begitu empuk dan kenyal. Tanpa malu-malu lagi, Rani melingkarkan tangannya di leher Arif dan bergelayut manja. Payudaranya yang besar dan bulat menempel ketat di dada laki-laki itu, terasa menyesakkan tapi juga nikmat.

�Rileks, Dok, tidak usah tegang.� bisik Rani saat merasakan degup jantung Arif yang berdebar kencang.

Tetap tersenyum, perlahan kepala gadis itu mendekat hingga akhirnya bibirnya menempel di bibir Arif yang tebal. Mengecupnya pelan, Rani bisa merasakan betapa pahit dan kakunya bibir itu. Tapi dia tidak peduli. Rani sudah bertekad akan memberikan yang terbaik bagi laki-laki itu agar bisa mendapatkan pinjaman. Lagian sudah kepalang tanggung, dia sudah telanjang seperti ini, tanggung kalau tidak diteruskan. Jadi, sambil menahan nafas, dia segera melumat bibir Arif.

�Hmph.. Hmph..� dirut muda itu mendesah merasakan bibir manis Rani yang bergerak liar di atas bibirnya. Lidah gadis itu menusuk-nusuk, berusaha untuk masuk ke dalam mulutnya. Arif membuka bibirnya dan... Hupmh! Lidah itu pun meluncur cepat, mengajaknya bertarung untuk saling membelit dan bertukar air liur. 

Mereka berciuman dengan sangat mesra dan dalam, juga panas. Gigi mereka beberapa kali terantuk. Bibir mereka terlihat merah dan berdarah karena beberapa kali tergigit. Tapi mereka tampaknya tidak peduli. Mereka terus mencucup dan saling melumat. Hisapan di balas dengan sedotan. Jilatan dibalas dengan emutan. Lidah mereka terus saling menempel dan bersilangan. Di sekitarnya, liur mereka menetes-netes, terlihat semakin basah dan kental seiring ciuman mereka yang juga semakin ganas.

Arif merasakan penisnya sudah menegang kaku di balik celana. Terasa ngilu dan menyakitkan, namun dia tidak bisa melepasnya. Tangannya sudah terlebih dahulu dibimbing oleh Rani untuk menggapai buah dadanya dan meremas-remas daging bulat kenyal itu.

Pelan, jemari Arif menyisir permukaanya yang halus dan putih mulus. Terasa begitu empuk dan hangat, juga sedikit kenyal. Saat dia menekannya, benda itu terasa seperti memantul, membuatnya harus menekan dan menekannya lagi.

�Ughhh,� Rani melenguh diantara ciumannya saat Arif menggoyang dan memijit keras payudaranya. Laki-laki itu memainkan benda bulat yang menggantung itu, meremasnya dengan kuat dan liar, menekan ataupun menarik-narik putingnya yang mungil, sambil sesekali memijit dan memilinnya pelan.

�Ougghhh...� Rani mendesah makin keras ketika Arif memeluk tubuh sintalnya. Sambil terus berciuman, tangannya kini turun ke bawah, menyelinap ke bawah bongkahan pantatnya dan meremas-remasnya dengan gemas.

�Aww� Dokter nakal juga ternyata.� teriak Rani sambil tersenyum saat Arif menusuk kemaluannya dengan jari telunjuk. �Ya... disitu, Dok. Gesek disitu. Enak... Oughh!� rintihnya, meminta sang dokter untuk terus mengerjai memeknya.

Arif tersenyum menatap wajah cantik perawat muda itu, dia sudah tak ragu lagi untuk melakukannya. Mereka sudah melangkah terlalu jauh, tanggung kalau harus berhenti sekarang. Menjulurkan tangannya, Arif menusuk dan mengocok-ngocok lubang kemaluan Rani yang sempit dan hangat dengan dua jarinya. Telunjuknya menggesek ke klitoris, sementara jari tengahnya bergerak-gerak di bibir vagina.

Sambil melakukannya, dia juga terus menciumi wajah cantik gadis itu, terutama leher dan belakang telinganya. Sepertinya di situlah letak titik sensitifnya. Rani selalu melenguh dan menggelinjang tiap kali Arif menghisap dan menjilatinya. Sesekali lidahnya juga menyisip ke lubang telinga gadis itu, membuat Rani merintih dan menggelinjang makin keras lagi.

�Owhh, Dok... Enak.. ahhh..!� vagina gadis itu terasa sudah mulai basah, apalagi saat Arif menggerakkan jarinya semakin cepat, naik turun di permukaan vaginanya, Rani pun menggelinjang semakin keras.  Vaginanya bertambah basah.

Tangan Arif menggerayang, menjamah dan menelusuri payudara gadis itu yang bulat dan kencang. Dengan cekatan, laki-laki itu meremas dan memeganginya, sementara di bawah, dua jarinya terus bergerak. Rani jadi makin tak tahan. Tubuh sintal gadis itu kini bergerak-gerak liar, menggelinjang dan bergoyang-goyang makin keras. Apalagi saat Arif memencet dan memijiti buah dadanya semakin kuat, dia pun mendesah semakin kencang.

�Oughhh... ya, terus, Dok. Oughhh... yeah!� rintihnya saat jemari kasar Arif bermain di permukaan bukit kembarnya, mengusap-usap dan memijit-mijit putingnya yang mungil kemerahan, sambil sesekali menjepit dan mencubitnya mesra.

�Dok, Oughhh... masukin seperti tadi, Dok. Lebih dalam!� pinta Rani merasakan jemari Arif yang sekarang cuma menggesek-gesek bibir vaginanya.

Tanpa menjawab, Arif menusukkan jari telunjuknya sebagai respon.

�Oughh..� Rani melenguh tertahan saat menerimanya. Dia mendesis dan menggelinjang pelan saat Arif kembali mengocoknya.

Vagina gadis itu terasa hangat dan lembab karena saking banyaknya cairan yang sudah mengalir keluar. Arif dengan lancar menggerakkan jarinya. Bahkan tidak cuma satu, Arif juga menggunakan jari tengahnya untuk menemani sang jari telunjuk. Dengan cepat, dia mengocok lubang Rani yang sempit dan menggigit.

�Terus, Dok. Auw!� meski terlihat sedikit kesakitan, Rani terus meminta lebih.

Arif menusukkan dua jarinya makin cepat, juga makin dalam, hingga sampai mentok.
�Owwww... ahhh... Ya, begitu, Dok! Aaw... Auw!� Rani menceracau, berusaha memagut bibir sang Dirut muda yang menganga lebar di depannya. Mereka segera berciuman mesra, saling memagut dan melumat panas, sementara jari tangan Arif masih terus keluar masuk di vaginanya, menjelajahi dengan cepat dan kasar.

�Ahhh... aaggghhh... Dok, geliii... oughhhhh�!!� gadis itu membalas dengan membuka kancing kemeja sang dirut muda satu per satu. Bahkan saat dia kesulitan melakukannya karena Arif yang kini menciumi lehernya, Rani menariknya begitu saja, tak peduli meski ada beberapa kancing yang putus.

�Auw! Sekarang giliran saya ya, Dok.� pinta perawat cantik itu sambil turun dari pangkuan Arif. Dia tak tahan dikocok terus oleh dokter muda itu.

Dia menyingkap kaos dalam sang Dirut ke atas dan tanpa membuang waktu, lidahnya langsung bergerak merangsang dan menjilati puting Arif yang gepeng kehitaman. Rani mencucup dan menyedot-nyedotnya pelan hingga membuat Arif mendesah keenakan.

�Enak, Dok?� tanya gadis itu sambil terus mencium. Puas yang kanan, ganti yang kiri. Sesekali lidahnya juga berputar-putar di perut Arif yang mulai membuncit. Rani menggelitik pusar laki-laki itu dengan ujung lidahnya.

�Oughhh...� akibatnya, Arif makin merintih keenakan.

Tak tahan, laki-laki itu menarik tangan sang perawat dan menaruhnya di atas gundukan selangkangannya yang sudah mengeras dahsyat. �Emut dong.� pintanya.

Mengangguk mengiyakan, Rani memelorotkan celana Arif ke bawah. Dengan jemari lentiknya, dia menarik batang Arif dan mengeluarkannya.

�Ih, keras banget, Dok.� celetuknya sambil membelai dan mengusap-usap penis itu dengan sayang.

�Ughh,� Arif merintih merasakan betapa nikmat jemari Rani saat mengocok kemaluannya dengan lembut. �Emut, Ran.� dia kembali berkata. Genggaman gadis itu terasa begitu hangat dan nyaman.

Membuka mulutnya, Rani menjilati penis itu sebentar sebelum akhirnya melahap dan mengulumnya, �Hmph.. Hpmh.. Hpmh..� lidahnya bergerak, membasuh penis Arif hingga tampak basah kecoklatan. Batangnya yang kaku, terus ia kocok dan elus-elus. Juga kantong zakarnya yang keras dan sedikit berbulu, sesekali Rani mencucup dan menciuminya.

�Ughhh,� tubuh gendut Arif berdesir nikmat merasakan service dari gadis itu. Benar-benar luar biasa rasanya. Apakah Rani sudah sering melakukan ini?

Tampaknya memang begitu, karena Rani kelihatan santai saat melakukannya. Sambil terus mengocok batang penis sang dokter, dia makin mempercepat sedotannya.  Buah pelir Arif yang menggantung di pangkal, kini sudah nampak basah. Begitu juga dengan rambut kemaluan laki-laki itu, sudah nampak basah dan lengket oleh air liur.

�Ahhh... ahhh...� Arif kembali mendesah nikmat. Hisapan Rani membuatnya merintih dan menggelinjang penuh kenikmatan. Tak tahan, ditariknya kepala gadis itu. Disambarnya mulut si gadis yang masih nampak basah dan dilumatnya dengan rakus. Rani mengimbanginya dengan baik. Jadilah mereka kembali saling mencium dan bertarung lidah lagi.

�Auw!� Rani menjerit saat Arif mendorong tubuh sintalnya ke belakang hingga telentang di atas meja. Dokter muda itu membuka pahanya dan sekali lagi menggelitik vaginanya yang sudah sangat basah dengan menggunakan lidah.

�Oughh, Dok!� desis Rani saat Arif menjilati vaginanya dengan rakus. Tubuh gadis itu menggelinjang. Matanya merem melek. Sementara tangannya cuma bisa meremasi payudaranya sendiri sebagai pelampiasan. Tapi itu juga tidak lama, karena Arif kini telah memindahkan ciumannya ke puncak daging bulat besar itu. Dengan penuh nafsu, laki-laki itu mencucup dan menjilati puting Rani yang sudah menegak menggiurkan.

�Aghhhh...� gadis itu merintih. Disana, Arif sedang mengunyah putingnya dengan rakus. Sambil menggigit-gigit, laki-laki itu juga terus memijit dan meremasi kedua bukitnya. Seperti ingin menjelajahi seluruh permukaannya yang halus dan mulus.

�Ughhh, Dok! Aahhhh...� jerit Rani sambil menggoyangkan pinggulnya memutar, terlihat begitu erotis hingga makin menambah semangat Arif dalam menyerang.

Tangan laki-laki itu kini kembali mencengkeram vagina lembut sang suster yang tampak telah begitu basah. Sementara mulutnya, masih tetap mencium dan menjelajahi puting mungilnya. Jari Arif kembali menusuk, dijelajahinya lorong vagina Rani yang lembab dan hangat, benda itu sekarang terasa bergetar dan berkedut-kedut kencang.

�Auw!� terengah-engah, Rani meraba-raba, mencoba mencari penis Arif yang sejak tadi menggesek-gesek di pahanya. Saat sudah ditemukan, dia segera mencengkeramnya kuat-kuat. Yang punya langsung memekik tertahan, terasa sakit tapi juga nikmat.

Arif membalas perbuatan gadis itu dengan menggerakkan tangannya semakin cepat. Dia kocok vagina sempit Rani hingga gadis itu berteriak-teriak dan menggelinjang hebat. Arif juga manambahi dengan memberikan sentuhan kasar pada buah dada gadis itu. Dia menggigit dan mengunyah daging bulat Rani dengan gigi-giginya. Membuat gadis itu makin menjerit dan melenting keenakan.

�Ah, s-sudah, Dok. Oughhh..� dia menarik tangan Arif dari dalam vaginanya dan ganti membimbing penis laki-laki itu menggantikannya.

Mengerti apa yang didinginkan oleh suster cantik itu, Arif segera menggesek-gesekan kepala penisnya di bibir kemaluan Rani. Dia ingin merangsangnya sebentar sebelum nanti menusuk dan memasukinya.

Tapi Rani sepertinya sudah tak tahan lagi. �Oughh... Dok. Ayo dorong!� pekiknya sambil memajukan pinggul. Akibatnya, penis Arif yang tepat berada di depan vaginanya, langsung melesak dan tenggelam, tertelan oleh lubang vaginanya yang hangat dan basah.

�Aughhhhh...� mereka melenguh berbarengan.

Arif segera menggerakkan pinggulnya, menggoyang penisnya maju mundur untuk menggenjot tubuh sintal perawat cantik itu. Sambil mendesah-desah keenakan, Arif bisa merasakan betapa sempit dan kesatnya lubang kemalauan perempuan itu. Vagina Rani terasa menjepit dan menggigitnya kuat, tapi alih-alaih sakit, dia justru merasa nikmat. Remasan otot-otot gadis itu benar-benar memanjakannya.

Rani sendiri hanya merem melek saja menghadapi serangan sang dokter yang cepat dan brutal. Dinikmatinya tiap senti penis Arif yang menjelajah dan mengobok-obok lubang vaginanya. Penis itu terasa begitu kaku dan keras. Dengan ukurannya yang cukup besar dan panjang, benda itu seperti memenuhi seluruh lorong kemaluannya. Bahkan hingga ke ujung dan ke sudut-sudut yang tidak pernah bisa dijangkau penis lain.

�Ahhh... Dok, dalem banget! Aawwhhh...� rintihnya saat merasakan penis Arif beberapa kali menabrak dinding rahimnya. Payudaranya juga ikut terpental kesana kemari. Bahkan beberapa kali saling menabrak hingga makin menambah kecantikan wanita itu.

Keduanya terdiam, tidak ada yang berbicara. Hanya sorot mata mereka yang saling memandang, yang menunjukkan kalau mereka sudah saling mengerti keinginan masing-masing. Bunyi tabrakan bokong Rani dengan selangkangan sang dokter terdengar cukup nyaring, saling bersahutan dengan rintihan wanita itu yang semakin keras terdengar.

Arif segera membungkamnya dengan sebuah ciuman. Lidah mereka kembali bertaut dan saling melilit. Sementara tangan Arif yang tadi berpegangan pada tepi meja, kini telah berpindah ke atas payudara Rani yang bulat dan putih mulus. Arif menangkup dan memeganginya agar benda itu diam dan tidak bergoyang-goyang lagi. Di bawah sana, vagina Rani juga terasa semakin licin dan hangat. Kedutannya terasa semakin keras. Di setiap sodokan, seperti ada cairan yang terdorong keluar, muncrat melalui sela-sela kemaluan mereka hingga membasahi paha dan buah zakar Arif.

�Auw! Dok, Aarrggghhhhhhhh...� Rani tiba-tiba menjerit panjang. Tubuh sintalnya tertekuk dan bergetar-getar beberapa kali. Di bawah, vaginanya menjepit dan berkedut pelan saat menumpahkan cairan orgasmenya yang hangat dan kental.

�Oughhh,� Arif ikut merintih karena vagina Rani bagai mencekik dan menghimpit penisnya saat gadis itu orgasme. Kemaluannya Rani sekarang terasa begitu basah dan becek. Beberapa cairan bahkan terlihat merembes keluar melalui sela-sela kemaluan mereka.

�Hahhh... ahhh... hahhh...� Rani mendesah dengan nafas masih memburu. Matanya tertutup dengan tubuh telentang lemas sedikit bergetar.

�Gimana, enak?� Arif bertanya sambil meremas-remas payudara gadis itu.

�Ehm, enak banget, Dok.� Rani tersenyum penuh kepuasan. Dia merasa beruntung, selain nanti dapat duit, dia juga dapat enak. �Lagi dong, Dok.� pintanya sambil tertawa.

Sebenarnya,  tanpa perlu meminta pun, Arif akan memberikannya. Dia kan masih belum orgasme. Begitu punggung Rani yang sempat terangkat saat orgasme tadi telah turun ke bawah, dia langsung menghantamkan lagi penisnya. Digoyangnya benda itu maju-mundur untuk menyetubuhi Rani yang kini cuma bisa telentang pasrah kelelahan.

Arif terus menggenjot tubuh mulus gadis itu hingga perlahan rintihan dan desahan Rani kembali membahana. Apalagi goyangan Arif sekarang juga sangat cepat, lebih cepat dari yang pertama tadi. Tak perlu waktu lama, perawat cantik itu pun kembali bergairah. Tubuh sintalnya belingsatan, dengan pinggul bergoyang berputar-putar berusaha mengimbangi genjotan Arif yang terasa kian keras dan liar.

�Ahhhh... ahhhh... Dok! Enak banget, Dok. Aahhh... terus!� Rengeknya sambil meremas-remas payudaranya sendiri.

Di saat gairahnya sudah di ubun-ubun, Arif tiba-tiba saja menjerit mengagetkannya, �AARRGGGGHHHHHHH...!� menusukkan penisnya dalam-dalam, laki-laki itu orgasme, Spermanya yang kental terasa menyembur berkali-kali memenuhi lubang vagina Rani yang sudah begitu penuh.

Terengah-engah, Arif kembali menciumi puting payudara Rani yang tergeletak menggiurkan di depannya. Dia juga meremas-remas daging bulat itu dengan kedua tangannya. Giginya mengatup, menarik-narik putingnya yang masih terasa keras itu. Arif menjilat dan menghisap pelan sambil sesekali mengunyahnya lembut.

Dia terus melakukannya sambil menunggu penisnya yang masih menancap di vagina Rani mengkerut dan akhirnya lepas dengan sendirinya.

�Ughhh... Dok. Aahh...� Rani melenguh, dia sedang dalam posisi tanggung sekarang.

Arif yang mengerti segera memasukkan dua jarinya. Dia akan membantu gadis itu mencapai orgasmenya dengan keahliannya mengocok yang sudah tidak perlu diragukan lagi.

�Aaghhhh.. Aghhhh..� Rani kembali merem melek keenakan. Wajah cantiknya terlihat kian merangsang. Sementara dari bibir mungilnya, terus terdengar rintihan dan desahan merdu yang sangat menggiurkan.

Arif menyodokkan jarinya dalam-dalam dengan tenaganya yang masih tersisa. Dia juga membantu dengan menjilati klitoris Rani yang sekarang terlihat menonjol mungil kemerahan. Vagina gadis itu kembali mengejang, lelehan cairan cintanya kembali muncrat menerpa jari dan muka Arif. Tubuh Rani terasa bergetar meski tidak sehebat tadi. Arif tersenyum, dia telah berhasil mengantarkan perawatnya yang cantik ini kembali mencapai puncak kenikmatannya.

Dengan muka basah penuh keringat, Rani memperhatikan penis Arif yang kini sudah mengecil kembali ke ukurannya yang semula. �Terima kasih, Dok.� bisiknya.

Mengangguk, Arif kembali ke tempat duduknya. Ditatapnya Rani yang masih berbaring di meja kerjanya. Gadis itu sekarang diam menatap langit-langit, entah sedang berpikir apa. Rambut coklat panjangnya tampak kusut.

Di luar, sebuah kilat menyambar membelah keheningan malam dan disusul suara gemuruh yang teredam tak lama kemudian. Hujan rupanya sudah mulai turun.

�Hmm, tubuhmu nikmat sekali, Ran.� Arif memuji terus terang.

�Dokter juga hebat, bisa bikin saya keluar dua kali.� gadis itu mengambil lelehan sperma di vaginanya dan menjilatnya tanpa rasa jijik.

�Kamu sudah sering melakukan ini?� tanya Arif.

�Sering sih nggak, Dok. Cuma pas butuh-butuh aja. Contohnya seperti saat ini.� Rani menjawab.

�Kalau Winda gimana?� Arif bertanya.

�Kenapa, Dok. Apa si Winda menggoda anda? Dia sih memang begitu orangnya. Suka ngasih tubuh kemana-mana, padahal badannya tidak seksi-seksi amat. Hati-hati lho, Dok. Jangan sampai terjebak ke dalam rayuannya. Saya perhatikan, beberapa hari ini dokter terlihat sangat akrab dengannya. Saya takut Winda juga menggoda dokter, karena saya pernah lihat dokter dan Winda masuk ke ruangan ini. Memang apa sih yang anda berdua lakukan?� Rani berkata begitu sambil tersenyum simpul.

Di luar dugaan, Arif merasa tersinggung mendengar omongan perawat cantik itu. Dengan muka merah padam, dia membentak Rani.

�Apa maksudmu, hah? Winda adalah salah satu perawat spesialku. Kau... rendahan sepertimu tidak berhak berkata macam-macam tentang Winda!!!� entah kapan, di tangannya kini telah tergenggam pisau amputasi kuno yang terlihat sangat menjanjikan. Dan tanpa berpikir panjang, Arif menyabetkannya ke leher jenjang Rani.

END