Raja Iblis


"Perkenalkan, ini adalah Pangeran Bahumat." Penjaga itu memperkenalkan orang yang tiba-tiba saja muncul dengan gaya penuh api. "Dia adalah iblis berdarah murni level tinggi." Penjaga itu melanjutkan. "Pewaris dari klan Api. Dan juga, tunangan dari pewaris klan Air." Penjaga itu mengakhiri perkenalan orang yang baru datang itu.

"Orang ini� Tunangan Ephira?"

***

"Ah, teh yang nikmat." Orang itu meminum teh yang di sajikan oleh Luna. Duduk disamping Ephira, dia memainkan rambut merah indahnya dengan tampang ala playboy kelas atas.

"Tolong biarkan aku sendiri, Bahumat, Aku sudah bilang berulang kali bahwa aku tidak akan menikah denganmu." Ephira yang sepertinya sudah muak dengan tingkah tunangannya, berdiri.

"Tapi, Ephira, keluargamu tidak bisa terus memenuhi kehendak egoismu selamanya." balas Bahumat.

"Aku tidak ingin menghancurkan keluargamu! Malah aku menyambut mereka dengan tangan terbuka. Tapi, dengan siapa aku menikah itu pilihanku." jelas Ephira.

"Iblis berdarah murni jumlahnya berkurang setelah perang. Dan itu adalah masalah bagi seluruh iblis. Ayahmu dan Seth telah memikirkan ini saat membuat keputusan tentang pertunangan kita."

"Ayah dan kakak dan semua di keluarga terlalu panik. Aku tidak akan mengatakan ini lagi, Bahumat. Aku tidak akan menikahimu."

Bahumat memegang dagu Ephira dengan kasar, membuat darah Navarog mendidih. Dia adalah pengawal pribadi Ephira.

"Dengar, Ephira. Aku ikon dari klan Api. Aku tidak bisa kehilangan muka di sini. Walaupun aku harus membakar seluruh anak buahmu. Dan membawamu ke Neraka bersamaku." desis Bahumat.

Dan ini hal yang terakhir Navarog bisa terima. "Putri Ephira, boleh aku membunuhnya?" geramnya.

Semua orang berhenti bernafas. Bahumat menatap Navarog dengan tatapan merendahkan.

"Hentikan!" Luna sang pemilik kedai dengan suara kencang menghentikan ketegangan yang ada di ruangan itu. "Putri Ephira, Pangeran Bahumat, aku di sini karena perintah dari Yang Mulia Seth. Yang Mulia telah memprediksikan hal ini akan terjadi, dia menginstruksikanku untuk melaksanakan suatu rencana apabila situasinya benar-benar genting." jelas gadis cantik berbadan tembaga itu.

"Apa yang kau maksud, Luna." Ephira bertanya tak mengerti.

"Jika Pangeran Bahumat memaksakan kehendaknya, aku dianjurkan untuk mengadakan Killing Game untuk menyelesaikan masalah. Untuk selamanya." jelas Luna.

Suara tawa meledak di ruangan tersebut. "HAHAHAHA... Killing Game! Sejak kapan iblis menurunkan kualitasnya menjadi seperti itu. Iblis itu bertarung atas kehendaknya sendiri."

Ledakan kekuatan yang berasal dari Navarog membuat semua orang sulit bernafas, termasuk Bahumat yang tersungkur di tanah karena tekanan kekuatan tersebut. "Sekali lagi, Putri, boleh aku membunuhnya?" tanyanya sambil memunculkan Api Neraka, bersiap untuk menghajar Bahumat.

"Heh. Jadi itu budak yang menerima Api Neraka?!" seru Bahumat. Dia segera memanggil lima belas anak buahnya yang terkuat.

"Tapi, bagaimana dengan klan Api? Bukankah nanti akan terjadi perang dengan mereka?" Ephira dengan nada khawatir berusaha mencegah Navarog.

"Akan aku bunuh semuanya!" geram Navarog dengan nada dingin.

"Heh, Iblis rendahan sepertimu tidak bisa mengalahkanku, iblis berdarah murni." senyum sombong muncul di muka Bahumat.

Ephira jadi makin muak melihat tingkah tunangannya. "Baiklah, bunuh saja semuanya. Peduli amat dengan konsekuensi. Lagipula, jika dia mati maka pertunangan batal." serunya pada Navarog.

Navarog mengangguk dan mengeluarkan sebuah pukulan, menyabetkan Api Neraka pada Bahumat dan anak buahnya. Dalam sekejap, Pangeran Klan Api itu jatuh tersungkur, diikuti seluruh anak buahnya.

"Kau tidak jadi membunuhnya?" tanya Ephira. Navarog kini telah memeluk tubuhnya dari belakang.

"Hehe, aku ingin membuatnya menderita dulu.� sahut Navarog. �Luna, bilang kepada Yang Mulia Seth, jika klan Api protes, mereka akan berurusan dengan Phoenix." Menggunakan Api Neraka, dia mengikat Bahumat bersama dengan seluruh anak buahnya kemudian menghilang bersama dengan Ephira, meninggalkan kilatan berwarna kuning yang berbau daging gosong.

Di pojok ruangan, seorang pelayan duduk gemetaran dengan wajak syok. Sementara beberapa orang pengunjung kedai, tampak bingung dengan peristiwa yang baru saja terjadi.

"Siapa itu Phoenix?" salah satu dari mereka bertanya.

"Seseorang... yang mengakhiri perang dengan membantai kedua belah pihak dan ditakuti di seluruh Surga dan Neraka. Dan sekarang dia mempunyai Api Neraka, senjata yang bisa membunuh dewa sekalipun. Tidak ada yang bisa menghentikannya sekarang." jelas Luna sedih.

***

"Hei, Navarog." Ephira memanggil pengawalnya yang sedang sibuk mengikat para tawanan ke tiang yang ada di suatu ruang penyiksaan.

"Ya, Putri?" sahut Navarog singkat.

"Apa benar kau Phoenix?" tanya Ephira ragu-ragu.

"Apa Putri membencinya? Apa Putri takut terhadapnya?" tanya Navarog membalikkan pertanyaan Ephira.

Putri cantik klan Air itu hanya menggeleng. "Tidak, perang pasti banyak memakan korban jiwa, tapi lebih baik jika cepat terhenti. Mungkin takut, tapi jika kau benar-benar Phoenix, aku tidak takut karena kamu pasti tidak akan menyakitiku."

Ephira merasakan sesuatu yang lembut menyentuh pipinya, membelainya. Dia menyadari itu adalah ekor, ekor burung yang lembut yang berasal dari Navarog. Ephira langsung menatapnya dengan syok.

"Kau... benar-benar Phoenix?" tanyanya yang membuat Navarog  memutarkan bola matanya.

"Kapan aku pernah berbohong, Putri Ephira?" Pemuda itu mengencangkan tali yang mengikat tawanan terakhir ke atas tiang.

"Tadi kau bilang kau akan membunuhnya." tanya Ephira, bingung dengan tingkah laku Navarog.

"Aku memang akan membunuhnya, tapi apa aku bilang akan membunuhnya langsung?"

Jawaban Navarog langsung membuat Ephira tergagap. "T-tapi... Itu..." kata-kata sulit keluar dari bibir manisnya.

Navarog hanya tertawa sambil mengelus-elus Ephira dengan menggunakan salah satu dari dua belas ekornya. "Hahaha, kau mau melihat aku menyiksa dia?" godanya.

"Kau benar-benar seperti iblis, Navarog. Tentu saja. Aku ingin melihatnya menderita." mereka berbagi seringai jahat.

Navarog menyembunyikan ekornya lagi, Ephira melenguh sedih karena sudah keenakan di elus-elus oleh ekor Navarog yang lembut.

"Tutup kupingmu sebentar, Putri." Navarog mulai berteriak.

***

"Bangun!" bentak Navarog.

Semua yang terikat terbangun dengan reflek untuk menutup kuping, apa daya tangan tak sampai karena di ikat.

"Apa maksudmu ini!" Bahumat mengamuk dan berusaha melepaskan ikatannya. Tangannya terikat dan terantai di dinding, jauh dari satu sama lain.

Buagh! Sebuah tendangan melayang ke kepalanya dan membuatnya pusing.

"Kau� Berani sekali kau!� geram Bahumat. �Klan Api akan memburumu sampai ke ujung dunia!" tapi dia langsung terdiam saat sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.

PLAK!

"EPHIRA, KAU! Suruh budakmu untuk melepaskanku!� raung Bahumat. �Kau tidak tahu apa yang akan klan Api lakukan kepada klan Air jika kau tidak melepaskan� UGHH!" sebuah tendangan dari Ephira ke testisnya cukup untuk membuat laki-laki kekar itu melenguh kesakitan.

"Pangeran Bahumat!" teriak para anak buahnya yang melihat kejadian tersebut.

"Grrr.." Bahumat berusaha mengeluarkan kekuatan apinya untuk melelehkan besi yang merantainya, tapi besi tersebut ternyata lebih kuat dan tidak meleleh sedikit pun.

"Kau butuh api seperti ini untuk melelehkannya." Navarog melemparkan bola api berwarna hitam yang lebih panas dari api apapun ke arah rambut Bahumat yang langsung membakarnya sehingga laki-laki itu menjadi gundul.

"Tidak! Pangeran Bahumat!" teriak anak buahnya histeris, mereka meronta-ronta mencoba melepaskan diri dari ikatan.

"Kalian... Tunggu saja! Sebagai pangeran klan Api, aku bisa hidup kembali! Dan akan kubunuh kalian!" teriak Bahumat setelah harga dirinya hancur berkeping-keping di depan anak buahnya dan juga Ephira.

"Mungkin...� sahut Navarog santai. �Bagaimana jika kuhancurkan juga rohmu?" dia mengeluarkan Api Nerakanya dan menggunakannya untuk memotong satu ruas ibu jari Bahumat. Darah hitam langsung mengucur dari ibu jari yang terpotong tersebut.

"AAHHHHH...!" Bahumat meraung kesakitan.

"Pangeran!" anak buahnya makin menjerit-jerit ketika melihat tuannya di siksa. Sedangkan Ephira hanya tersenyum lebar melihatnya.

"Kau mau mencobanya, putri? Aku punya garam disini!" Navarog memberikan sebuah pisau yang telah dilumuri cuka dan juga sebungkus garam dari saku bajunya.

"Mengapa kau bawa-bawa garam?" Ephira kaget.

Navarog hanya menyeringai. "Memangnya hanya perempuan yang bisa mengeluarkan sesuatu secara tiba-tiba?" senyum Phoenixnya keluar.

Ephira jadi bersemangat memotong lagi jari tangan Bahumat. �Cress!�

�Uaghhhhhh,� Bahumat makin melengking. Rasa sakitnya bertambah saat cuka yang dilumurkan di atas pisau menyentuh bagian yang terpotong dan berlumuran darah tersebut.

"Ah, sepertinya kurang puas kalau hanya satu per satu jari. Ayo, Putri, Ikut aku. Berpindah!� Navarog menggunakan jurus klan Air yang sudah lama punah. Dia berpindah tempat ke dimensi lain.

"Tempat apa ini, Navarog?" tanya Ephira setelah melihat-lihat dunia baru tujuan Navarog.

"Di sini, aku adalah Tuhan. Lihat." Navarog mengibaskan tangannya yang terbungkus Api Neraka ke leher Bahumat hingga membuat leher tersebut robek dan menyemburkan darah kemana-mana. Bahumat pun tewas!

Ephira tersentak dan sontak menutup mulutnya. "Kenapa dibunuh? Aku kan belum puas menyiksanya!" dia protes.

Tanpa menjawab, Navarog segera mengeluarkan sehelai sapu tangan. "SAPU TANGAN PENGEMBALI!" Suaranya dimirip-miripkan seperti Doraemon. Ephira langsung menghadiahinya sebuah geplakan di kepala.

"Lihat!" Meringis, Navarog menutupi bagian leher yang robek itu dan seketika... kulit yang putus itu pun menyambung kembali. Leher Bahumat utuh menjadi normal seperti sedia kala. Laki-laki itu pun sadar kembali.

Seringai iblis melebar di wajah cantik Ephira. "Asyik! Bebas untuk menyiksa tanpa perlu takut dibunuh!"

�A-apa...� Bahumat bertanya bingung.

Ephira mencium Navarog dengan hot sebelum memanjangkan kukunya dan merobek perut six pack Bahumat.

"ARRRRGGGHH!" sang Pangeran Iblis langsung berteriak kesakitan, tapi tidak mati.

"Oh iya, tadi hanya bercanda. Kali ini kau tidak bisa mati. Kau akan terus menerus merasakan sakit dan tidak bisa kehilangan kesadaran. Jika tubuhmu habis, kau akan di kembalikan ke kondisi semula." jelas Navarog.

Mendengar ini, Ephira segera menyabetkan pisaunya bertubi-tubi, memotong, menusuk, mengiris, dan menyayat-nyayat seluruh tubuh Bahumat hingga tercabik tak karuan. Meski begitu, anehnya Bahumat tetap hidup.

"Kau menikmatinya, Putri?" tanya Navarog yang kelihatan tidak terganggu sedikitpun dengan kekejaman Ephira.

"Yap. Mau coba?" sahut Ephira.

Navarog hanya menggeleng. �Silakan Putri bersenang-senang.�

Dan Ephira pun segera melanjutkan kegiatannya.

Navarog hanya membantu dengan memukuli tubuh Bahumat hingga membuat tulang-tulangnya patah dan retak, lepas dari engselnya dan hancur berkeping-keping.

"AAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHH!" teriakan Bahumat menjadi musik yang sangat merdu bagi mereka berdua.

"Rasakan Ini...!!" Ephira menghantam kepala Bahumat hingga berputar 180 derajat. Tapi tetap saja Iblis itu tidak mati. Dia hanya bisa pasrah dan berteriak-teriak kesakitan yang justru malah membuat kedua penyiksanya tertawa puas.

"Bahumat, waktumu tinggal 59 hari, 59 menit dan 59 detik. Nikmatilah..." kata Navarog.

Bahumat menyambutnya dengan teriakan kencang.

***

Puas menyiksa, Navarog memindahkan lagi Bahumat ke Dunia Nyata.

"T-t-t-t-t-tolong� B-b-b-bunuh saja a-a-a-aku..." Bahumat memohon kepada Navarog dan Ephira untuk mengakhiri hidupnya. Rasa sakit yang di terimanya masih terasa dan begitu menyiksanya.

Navarog dan Ephira hanya saling pandang sebelum tertawa terbahak-bahak. Sedangkan para anak buahnya tidak percaya kalau tuannya akan menjadi payah seperti ini.

"Navarog, ayo lakukan lagi." Ephira membujuk Navarog agar memindahkan lagi Bahumat ke Dimensi lain. Dia ingin menyiksa Iblis itu lagi.

"Tidak, Putri. Nanti dia jadi zombie, otaknya mati kayak orang bego." jelas Navarog.

Ephira mengangguk maklum sambil mencium Navarog dengan hot. "Aku jadi terangsang, Navarog. Kau begitu hebat!" wanita cantik itu mencium lagi pengawalnya dengan lebih hot dan bernafsu.

"Dulu aku pikir Lena sudah cukup panas. Sepertinya aku salah." Navarog segera menutup mulutnya saat Ephira menatapnya dengan tajam.

"Akan kubuktikan kalau aku lebih nikmat daripada Lena,� bisik Ephira menggoda.

Navarog merinding mendengarnya. Tak sadar, penisnya perlahan berdiri dan menggeliat.

"Keluarkan ekormu, Navarog. Aku ingin membelainya." pinta Ephira.

Navarog segera mengeluarkan kedua belas ekornya yang membuat semua orang, kecuali Ephira, terkejut dan merinding ketakutan.

"PHOENIX!" teriak semua anak buah Bahumat yang merasa sangat ketakutan, mereka kini berpikir bagaimana carannya agar tidak dibunuh oleh Raja Iblis dari segala macam iblis itu.

"Lebih baik aku ganti tuan! Yang Mulia Phoenix! Jadikan aku budakmu!"

"Yang Mulia Phoenix! Kasihanilah kami! Kami akan melakukan apa saja sesuai kehendakmu!"

"Yang Mulia Phoenix!"

"Yang Mulia!"

Navarog hanya menyeringai dan menatap wajah Bahumat yang pucat pasi karena ketakutan. Dia memegang kepala pangeran klan Api itu seperti saat Bahumat memegang kepala Ephira sebelumnya.

"Lihat, bahkan anak buahmu tidak setia kepadamu. Kau yakin namamu bisa menyelamatkanmu? Klanmu? Heh, aku akan membuatmu melihat bagaimana aku mendominasi mereka semua di sini. Satu persatu budakmu di depan matamu." Navarog memanggil banyak Monster dan berteriak. "BUNUH MEREKA SEMUA!!"

Suara teriakan dan geraman teredam menyeruak di kamar penyiksaan itu. Para Monster bergegas memilih tawanan kesukaan mereka.

"Ayo pergi dari sini, Putri. Biarkan mereka berpesta." ajak Navarog.

Ephira mengangguk dan mengikuti Navarog keluar dari ruang yang sudah berubah menjadi ajang pembantaian itu. Sebelum keluar, Navarog berpesan  untuk tidak menyentuh Bahumat.

�Dia bagianku!� dan Phoenix itu menghilang dengan kilatan kuning yang menyilaukan mata bersama dengan Ephira di pangkuannya.

***

"Kau mau aku panggilkan Moster juga untuk memuaskanmu?" goda Navarog saat mereka berdua memasuki sebuah kamar. Itu adalah kamar Ephira di kerajaan Air.

"Tidak, hanya dirimu sendiri juga sudah bisa membuatku melayang dan terpuaskan." Ephira mencium Navarog dengan kasar dan penuh nafsu. Dia melumat dengan penuh gairah, lidah saling bertautan dan bibir saling hisap, membuat air liur keduanya menyatu dan menetes-netes.

Navarog dan Ephira sudah tidak bisa menahan diri lagi, mereka merobek baju pasangannya dengan kekuatan iblis mereka yang jauh di atas rata-rata. Kini Navarog hanya menggunakan boxernya dan Ephira hanya menggunakan celana dalam warna merahnya yang seksi dan menggoda, sedangkan payudaranya yang besar dan bulat, dia biarkan menggantung dan terbuka lebar.

"Ahhhhhh�" Ephira mendesah saat tangan Navarog mulai meraba-raba dan memainkan payudaranya. Laki-laki itu meremas-remasnya pelan sambil sesekali memilin putingnya yang berwarna merah kecoklatan.

Ephira memperdalam ciumannya saat Navarog memijit payudaranya semakin keras. Putingnya yang mencuat dan menonjol keluar juga dipilin semakin cepat. Laki-laki itu melepaskan ciumannya dan beralih mengendus dan menjilati leher Ephira yang jenjang. Tangannya perlahan juga bergerak ke bawah, mulai menjamah selangkangan Ephira yang hangat tak berbulu. Menyingkap celana dalam Ephira ke samping, Navarog mengusap-usap kemaluan perempuan itu.

�Aughhhh,� Ephira hanya bisa melenguh karena ciuman Navarog yang terus bergerak, kini telah sampai di belahan payudaranya yang empuk dan putih mulus. Dengan rakus, pengawalnya itu mencucup dan menjilati puting mungilnya. Navarog menyusu disana dan menghisapnya keras berkali-kali. Keenakan, Ephira segera mendekap kepala laki-laki itu dan menekannya kuat-kuat agar semakin masuk ke payudarannya.

"Ahhhhhhh� AH!" nafas Ephira terhenti sesaat ketika merasakan celana dalamnya terlepas. Navarog sudah berhasil menariknya hingga robek jadi dua. Kini tangan laki-laki itu asyik bermain-main di atas permukaan vaginanya yang basah dan kemerahan. Navarog mengelus-elus lembut labia minornya dan berputar-putar pelan di klitorisnya yang mungil dan mencuat.

"Aghhhhh!" rintih Ephira saat Navarog juga menghisap putingnya keras-keras hingga membuatnya makin merintih keenakan.

Satu jari laki-laki itu masuk ke dalam vaginanya dan mulai menggelitik disana. Navarog memaju mundurkan jarinya, mengocok vagina Ephira yang sempit dan legit. Ephira makin mendesah tak karuan karenanya. Dia merasa orgasmenya semakin mendekat. Apalagi saat Navarog menambah jarinya dan semakin mempercepat gerakan tangannya, ditambah bergantian menghisap antara puting kiri dan puting kanannya, Ephira pun tak tahan lagi dan...

"Ahhhhh.. ahhhhhh.. ughhhhhh.." dia berteriak kencang saat cairan kewanitaan menyembur deras dari dalam liang vaginanya.

Navarog segera mengeluarkan jarinya dan menggantinya dengan menggunakan lidah. Rakus, laki-laki itu menjilati cairan-cairan cinta Ephira yang berceceran di paha dan bibir vaginanya.

"Navarog!" kaki Ephira tidak mampu lagi menopang tubuh sintalnya. Iblis cantik itu jatuh ke depan karena orgasmenya.

Navarog dengan sigap menahannya dan membawannya ke kasur empuk yang ada di tengah-tengah ruangan.

"Navarog, saatnya kau yang kupuaskan." bisik Ephira.

Navarog segera melepaskan boxernya.

"Oh, favoritku.." desah Ephira saat melihat penis Navarog yang besar dan panjang sudah siap berdiri tegak menarik perhatiannya. Tidak membuang waktu, dia segera meraih penis itu dan mulai mengocoknya dengan satu tangan. Sementara tangan yang lain meremas-remas testis sang pengawal.

�Ehm.. Hmph..� Ephira memasukkan benda coklat panjang itu ke dalam mulutnya dan mulai menjilatinya. Dia melakukannya bagai mengemut permen kesukaannya, terlihat sangat menyukainya. Ephira menjilatnya dari atas sampai ke bawah. Lalu balik ke atas lagi. Tidak ada satupun bagian yang terlewat. Bahkan kantung zakarnya yang menggantung juga tak luput dari hisapannya. Penis Navarog kini terlihat sangat basah oleh air liur Ephira.

Navarog yang tadi hanya terbaring, kini duduk dan memegangi kepala Ephira. Dengan lembut dia mengelus-elusnya sementara Ephira makin mempercepat hisapannya. Dia melumat penis Navarog dengan lebih kuat, sembari menggigit-gigit pelan di sepanjang permukaannya. Penis tersebut pun terasa sedikit berkedut menandakan akan segera orgasme. Ephira yang menginginkan sperma Navarog, menaikkan kepalanya dan menjilati ujung penis sang pengawal sambil sesekali menggigit di bagian antara kepala dan batang penis laki-laki itu.

"Arghhhhhhhhh!" Tak tahan, Navarog pun meledak. Spermanya menyembur beberapa kali yang langsung ditelan oleh Epira tanpa rasa jijik sedikit pun. Ia terus menghisap penis Navarog hingga benda itu berhenti berkedut-kedut mengeluarkan seluruh isinya.

�Puah..� Ephira meludahkan sebagian sperma Navarog ke bulatan payudaranya. Dia membiarkan cairan putih itu mengotori payudara besar miliknya. Sperma Navarog berhasil membuat payudara putihnya lengket dan basah. Putingnya yang mungil kemerahan tampak meneteskan sperma yang menjadikannya mirip seperti air susu yang mengalir.

"Mmmh... Mmmhh..." Ephira melepaskan penis sang pengawal dan menjilati sisa-sisa sperma yang masih menempel di permukaannya.

Mendengar bunyi hisapan yang erotis dan menonton tubuh Ephira yang montok menggiurkan, dengan cepat Navarog kembali bergairah. Perlahan penisnya menegang dan ereksi lagi.

"Hmm, kamu memang pejantan sejati,� gumam Ephira suka.

�Babak utama, Putri?" tagih Navarog.

Ephira hanya mengangguk sambil memasukan penis sang pengawal  ke dalam vaginanya yang sudah basah.

"Ahhhhhhh..." keduanya pun mendesah saat penis besar Navarog menusuk menembus kemaluan Ephira. Navarog merasakan kehangatan dan kelembutan yang nikmat, sedangkan Ephira merasakan vaginanya bagai begitu ketat dan penuh.

"Mmmhh..." Ephira mencium bibir sang Pengawal saat Navarog mulai menaik turunkan pinggulnya. Rasanya begitu nikmat hingga membuat Ephira serasa melayang hingga ke langit ke tujuh. Ciumannya menjadi semakin tak terkendali, begitu liar dan panas. Apalagi sesekali Navarog juga mencium  dan menghisap lehernya, membuatnya makin menjerit dan merintih keenakan.

�Oughhh... yeah. Lebih keras! Lebih dalam! Yeah... begitu!� desah Ephira tak karuan seiring goyangan Navarog yang semakin liar.

Suara pinggul yang bergesekan dan beradu serta desahan-desahan manja Ephira makin membuat Navarog bersemangat untuk memuaskan Putri klan Air itu. Dia mencucupi leher jenjang Ephira dan terus turun hingga ke payudaranya. Dengan satu tangan, Navarog meremas-remasnya. Sambil tak henti-hentinya dia menjilat dan mencucupi putingnya.

"Na-Navarog!" jerit Iblis cantik itu.

Navarog merasa vagina Ephira menyempit dan mengeluarkan cairan yang membasahi testisnya, wanita itu orgasme. Merasakannya membuat Navarog semakin menggebu-gebu untuk terus memaju-mundurkan penisnya dengan cepat dan keras yang membuat Ephira semakin melayang mendapatkan kenikmatan orgasmenya. Vaginanya terasa sangat sensitif dan geli sekali.

"Emmph!" Navarog mendengus di payudara bulat Ephira karena mulutnya sedang sibuk menghisap benda empuk itu. Menekan dengan kuat, dia pun orgasme. Spermanya menyembur kencang memenuhi liang vagina sang Putri klan Air.

�Ughhh...� Ephira melenguh merasakan tembakan Navarog pada vaginanya. Kemaluannya sekarang terasa begitu penuh. Dengan mulut menganga dan air liur yang menetes-netes, dia pun menjatuhkan diri ke pinggir tempat tidur. Dia nampak kelelahan. Dari selangkangannya, merembes cairan kental yang membasahi paha dan selimutnya.

Navarog memanggil salah satu Monster kecil untuk mengambilkan mereka air minum.

"Masih mau lanjut, Putri?" tanyanya yang dibalas dengan senyuman oleh Ephira.

"Penuhi rahim dan vaginaku dengan spermamu dan buat tubuhku basah oleh keringatmu. Baru kita berhenti." tantang Ephira nakal.

Navarog mengangguk sambil menyeringai.

"Boleh ikutan, Yang Mulia?" Monster kecil yang baru saja membawa botol berisi minuman dingin bertanya kepada pemanggilnya. Jawabannya adalah tutup botol yang melayang mengenainya dan membuatnya menghilang seketika.

"Kasihan, padahal kan cuma mau ikutan." goda Ephira.

Navarog hanya memutar bola matanya sebelum memberikan botol tersebut yang langsung ditenggak habis oleh Ephira.

"Putri adalah milikku seorang." Navarog mencium Ephira dengan mesra dan mulai memasukkan penisnya kembali ke dalam vagina gadis itu. Dengan cepat dan keras, dia memaju-mundurkan pinggulnya dan meremas-remas payudara Ephira yang bulat dan besar dengan sedikit kasar.

"Ahhh.. Lagi! Lagi! Lebih keras! Lebih cepat!" Ephira mendesah terus menerus.

Sesuai permintaan gadis itu, Navarog pun mempercepat keluar-masuknya penis besarnya di vagina Ephira yang sempit hingga membuat Putri klan Air itu semakin berteriak keenakan merasakan kenikmatan yang semakin menjadi-jadi menyerang tubuh sintalnya. Navarog juga semakin kuat meremas-remas dan memainkan payudaranya yang besar.

"Kyaa!" penis Navarog dan vagina Ephira berkedut bersamaan, menandakan keduanya sudah dekat kepada orgasmenya masing-masing.

Navarog semakin membabi-buta menusuk. Kecepatan genjotannya juga semakin bertambah. Dengan sebuah teriakan kencang dari masing-masing, mereka orgasme untuk yang ke sekian kalinya. Cairan kental kembali memenuhi liang rahim Ephira.

"Putri�" Navarog menyodorkan penisnya yang langsung dihisap sambil  tiduran oleh Ephira. Dengan telaten dan senang hati, wanita itu membersihkannya dari lelehan sperma dan cairan vagina.

�Taruh di dada Putri!� Navarog  menyuruh Ephira untuk meletakkan penis itu diantara payudaranya yang membusung.

"Hhmmp.." Ephira menjilat dan menghisap bagian kepala penis yang tidak masuk di dalam payudaranya yang berukuran besar itu, lidahnya berputar-putar mengelilingi kepala penis Navarog dan mengelus-elusnya.

Navarog yang keenakan jadi tidak bisa bertahan lama saat dengan tiba-tiba Ephira menggigit kepala penisnya, membuatnya kesakitan sekaligus orgasme untuk yang keempat kalinya. Meski cuma keluar sedikit, tapi itu sudah cukup untuk mengotori wajah cantik sang Putri Air.

Ephira tersenyum dan menerimanya dengan senang hati.

"Putri masih perawan disini?" Navarog meraba-raba anus Ephira dan dibalas dengan desisan wanita cantik itu saat dia menyentuhnya.

"Iya." sahut Ephira singkat.

"Mau aku ambil keperawanan Putri disini?" tanya Navarog lagi.

Ephira mengangguk antusias, "Penuhi juga lubangku yang itu, Navarog." Desisnya dengan nada menggoda.

Dia segera memposisikan diri membelakangi Navarog dan memperlihatkan lubang anusnya yang putih dan bersih. Navarog mengeluarkan ekornya dan mulai menggelitik lubang itu hingga membuat Ephira merasa kegelian. Salah satu ekornya juga meremas payudara bulat Ephira sambil tak lupa mengelus-elus putingnya yang mungil mencuat, membuat wanita cantik itu merintih geli sekaligus nikmat. Sementara ekor yang lain, memainkan klitoris Ephira dengan menggelitiknya lembut yang membuat Putri klan Air itu semakin menggelinjang keenakan.

Diserang dari tiga titik seperti itu membuat Ephira mencapai titik orgasme dengan cepat.

"Banyak sekali cairan dari vaginamu, Putri,� gumam Navarog sambil menyodorkan lagi penisnya pada wanita cantik itu. Dia meminta Ephira untuk mengemutnya sebentar.

"Siap, Putri?" tanyanya saat batang itu sudah licin dan mengkilat, siap untuk digunakan.

Ephira mengangguk pelan. Ekor Navarog masih membuatnya melayang. Perlahan, Navarog memasukkan penisnya ke dalam lubang anus Ephira yang masih sempit.

"Engghhh..." keduanya mendesah kencang saat seluruh batang itu menusuk masuk ke dalam.

Ephira sedikit menangis, tapi kedua belas ekor Navarog segera membelainya, membawanya ke dalam kolam penuh kenikmatan. Setelah wanita itu merasa tenang, Navarog mulai memaju-mundurkan penisnya, menggenjot anus Ephira yang masih sangat kaku dan sempit.

"Ahh... ahh... terasa beda dengan vagina, tapi, ah... sama-sama enak!" Ephira mulai meracau merasakan penis besar sang Pengawal berkali-kali menyentuh dinding anusnya, membuatnya melayang lagi dan lagi. Tangannya berpegangan pada ekor Navarog yang masih terus bergerak pelan mengusap dan membelai-belai tubuh sintalnya.

"Ahhhhhh!" Ephira melenguh pelan saat salah satu ekor Navarog menggesek lubang vaginanya. Hanya di luar, tidak sampai menusuk, agar sperma yang ada di dalamnya tidak sampai menetes keluar.

"Navarog!" jerit Ephira dengan lubang anus menyempit. Di dalam, terasa penis sang Pengawal berkedut dan meledak menyemburkan sperma. Sempitnya lubang anus Ephira membuat Navarog jadi tidak bisa bertahan lama.

�Oughhhhh...� Ephira yang baru pertama kali merasakan sperma Navarog menyemprot di dalam anusnya, mengeluh pelan. Tampak cairan vaginanya membasahi ekor sang Phoenix yang membelai-belai lembut disana.

Navarog menyodorkan kembali penisnya ke mulut Ephira agar dibersihkan.  Dengan senang hati wanita itu melakukannya. Dia menjilat dan mengulumnya mantab, tidak peduli kalau penis itu baru saja masuk ke lubang anusnya.

"Navarog, panggil Monster yang banyak dan siram aku dengan sperma!" pinta Ephira saat melihat Navarog yang sedikit lemas kecapekan.

Mengangguk mengiyakan, 10 Monster langsung muncul di sekeliling mereka. Semuanya berkelamin besar dan panjang. Bahkan ada beberapa yang mempunyai penis lebih dari satu. Sambil memandangi tubuh mulus Ephira, monster-monster itu mulai mengocok penis mereka.

Ephira sendiri masih dimanjakan oleh belaian ekor Navarog. Terus merintih-rintih, wanita cantik itu mengulum penis sang Pengawal. Pemandangan itu membuat para Moster makin mempercepat kocokan mereka dan... satu per satu mereka orgasme memuncratkan sperma yang basah dan kental. Ephira membiarkan tubuh sintalnya menjadi sasaran. Beberapa yang hinggap di mulutnya, ia telan dengan senang hati.

"Hah� Hah�� tersenyum puas, Putri klan Air itu meratakan sperma moster-moster itu ke seluruh tubuhnya.

"Navarog.." Ephira memeluk sang Pengawal yang terbaring lemas di sampingnya. Dia menggunakan dada bidang Navarog sebagai bantal dan tak lama, langsung tertidur lelap, tidak peduli dengan sperma yang masih menempel diseluruh tubuh montoknya.

"Kau milikku seorang." bisik Navarog di telinga gadis itu yang di jawab dengan geliatan manja oleh Ephira.

Satu per satu, Monster yang ada di sekeliling mereka menghilang, kembali ke tempat asalnya.

END