The Death Rider

Siang yang panas. Angin bertiup kencang dari pantai indah yang berpasir putih. Bersembunyi diantara tonjolan batu karang, jauh dari pandangan orang-orang yang berlalu-lalang dan perahu-perahu nelayan yang lagi mangkal, kucium sekali lagi bibir manis Citra. Dengan disaksikan deburan ombak yang semakin menggila, kubuka baju lengan pendek yang membalut tubuh gadis itu. Lembut,  kuremas buah dadanya yang menggunung. Uh, meski sudah sering melakukannya, tapi tak urung kepadatannya tetap membuatku gemetar. Citra melenguh dan menjatuhkan kepalanya di pundakku, pasrah. Dengan penuh kasih sayang, kubelai rambut halus  cewek imut bak marmut yang sudah menjadi pacarku selama satu tahun ini.

Bukan tanpa alasan aku menyukai Citra. Wajah tirus dengan alis melengkung membuat parasnya begitu sempurna untuk dinikmati.
Kulitnya putih keemasan, membuatnya selalu bersinar bila berada di dekatku. Juga bokong dan payudaranya yang besar, yang selalu bisa memancing gairahku, kapanpun dan dimanapun, termasuk juga saat ini.

�Say?� suaraku serak.

�Mm� � gadis itu menyahut lemah.

�Kalo aku jadi lulus tes UMPTN, gimana?� aku bertanya sambil memasukkan jari-jari tanganku ke balik BH-nya. Kuremas gundukan buah dadanya yang besar itu dengan kedua tanganku.

�Ahh,� Citra menggelinjang. Matanya yang bulat menatapku sendu, seperti menyuruhku untuk berbuat lebih jauh. �Kalau untuk kebaikan kita berdua, Citra ikhlas, Bang.� gadis itu berkata lirih.

�Oh, trims ya, Say.� kami saling bertatapan, dan tak tahan, kucium sekali lagi bibirnya sebagai rasa terima kasih. �Aku janji deh, Sayang. Aku bakal sering nelpon kamu, SMS kamu, dan kalo ada libur sedikit saja, aku langsung pulang.� yakinku.

�Beneran?� dia memelukku. �Janji lo ya!�

�Iya, Abang janji.� aku balas memeluknya.

�Tapi, Bang�� Citra memandangku.

�Iya, ada apa, Sayang?�  kutatap balik wajah cantik yang selalu membuatku kangen itu.

�Nanti siapa yang menemani Citra disini?�

�Lho, kan tadi Abang sudah janji bakal SMS n telepon kamu tiap hari.�

�Iya, Bang. Tapi maksudku bukan itu.�

�Lha, terus?�

�Maksud aku, kalau Citra kedinginan, nanti siapa yang meluk n ngangetin aku, gitu.�

Aku tertawa.

�Lho, kok malah ketawa?� gadis itu bertanya heran.

�Kamu ketagihan ya?� aku menodongnya.

Gadis itu tersenyum, dan dengan anggukan samar dia menjawab pertanyaanku. �Citra bakalan kangen ini, Bang.� gadis itu meremas kontolku yang sudah menegang di balik celana.

�Suka ya sama kontol Abang?� aku bertanya sambil melepas celanaku.

�Ehm, suka banget, Bang.� dan gadis itu langsung menyambarnya begitu kontol hitamku lepas dari kungkungan celana dalam. �Kontol Abang itu enak banget! Gede. Bisa muasin memek Citra yang gatel.� dia mengocoknya pelan.

�Tubuhmu juga enak. Abang suka.� aku berkata jujur. Tubuh Citra memang nikmat sekali, beda dengan tubuh cewek-cewek yang pernah aku tiduri sebelumnya. Selain berkulit halus dan mulus, tubuh Citra juga montok banget, satu hal yang selalu membuatku ketagihan untuk terus dan terus menumpahkan spermaku ke dalam rahimnya. Memeknya juga tetap rapet meski sudah sering kupakai, entah perawatan macam apa yang ia lakukan hingga membuat benda itu bisa menjadi seperti ini.

�Kita lakukan sekarang, Bang. Mumpung Abang belum berangkat.� Citra menggeser duduknya hingga dia sekarang berbaring di sebelahku.

Aku mengangguk mengiyakan, memang itulah tujuanku membawa gadis itu kemari. Aku ingin kembali merasakan kehangatan tubuhnya di tempat pertama kali kita bertemu.

�Cepat aja ya. Nggak usah dilepas semua.� aku menarik sedikit celana dalam Citra, sekedar agar memeknya kelihatan.

Gadis itu mengangguk. �Iya, Bang. Kalau senja disini makin rame.�

Citra menjilati kontolku sebentar sebelum aku mulai menusuk dan menggoyang tubuhnya. Dengan kelamin yang sudah menempel erat, kami berciuman mesra. Kulumat bibir tipis gadis itu dengan rakus. Sesekali lidah kami bertemu untuk saling menjilat dan menghisap. Wangi tubuh Citra membuat nafsuku meningkat dengan cepat. Payudaranya yang sejak tadi berada dalam genggamanku, kini sudah tidak tertutup lagi. Kusingkap BH tipisnya ke atas hingga membuat benda bulat padat itu menggantung bergoyang-goyang indah di depanku. Dengan gemas, kupijit dan kupilin-pilin putingnya yang mungil kemerahan.

�Auhhh!� Citra merintih lirih kegelian. �Ah, enak banget, Bang. Terus. Ampun, nikmat banget!� dia menceracau.

�M-memek kamu... sempit banget.� bisikku di sela-sela desahannya.

Citra mengangguk, �Abang suka?�

Aku menusukkan penisku dalam-dalam sebagai jawaban atas pertanyaannya.

�Ouw, aarghhh... aduh, ampun, Bang.� dia menjerit. �Rasanya nembus sampai ke perut.�

Aku tertawa mendengarnya dan melanjutkan goyanganku. Kali ini dengan lebih pelan karena kudengar ada langkah kaki beberapa orang yang melintas di tebing tak jauh di atas kami.

�Ada orang, Bang.� Citra menahan batangku, memintaku berhenti.

�Iya, aku tahu.� kubekap mulut Citra dengan ciuman, sementara payudaranya yang besar kembali kujamah untuk kuremas-kuremas.

�Aarghhh... stop dulu, Bang.� Citra menahan perutku saat melihat aku yang terus menggoyang.

�Tanggung nih,� aku terus memaksa. �Aku dah mau keluar.� dan terus kugoyangkan pinggulku untuk menyetubuhinya.

�Nanti ketahuan.� Citra masih tampak enggan, tapi sudah tidak menahan lagi.

�Tidak akan, tebing itu terlalu tinggi.� aku memberi alasan agar dia sedikit tenang. Alasan yang sangat ngawur tentu saja karena aku tahu, dari atas tebing sana, siapapun akan bisa melihat perbuatan kami dengan jelas. Tapi aku tidak peduli, biar saja mereka melihat perbuatan kami, toh pantai ini memang terkenal karena banyaknya pasangan mesum yang berbuat asusila disini. Aku masih mending melakukannya di balik karang, pasangan lain malah terang-terangan melakukannya di pantai atau gubuk-gubuk nelayan yang banyak tersebar di sekitar sini.

Dengan nafsu makin memuncak, aku kembali menusukkan penisku dalam-dalam. Sepertinya orang-orang itu sudah berlalu karena suasana kembali sunyi seperti sedia kala. Hanya hembusan angin dan kicau burung camar yang terdengar, dengan sesekali dicampuri oleh teriakan kami berdua yang semakin menggila.

�Ohh, enak banget, Bang.� Citra mendesis. �Tusuk lebih keras. Lebih dalam!� dia menarik-narik pinggulku, berharap penis raksasaku terus mengaduk-aduk liang vaginanya yang sekarang terasa semakin basah.

Sambil berpegangan pada payudaranya yang besar, kupenuhi permintaan gadis cantik itu. Kutekan batangku keluar masuk dengan cepat, makin lama makin cepat, dan seiring semakin membanjirnya cairan kewanitaan Citra, gadis itupun akhirnya menjerit.

�Aarrgghhhh... aarrgghhhhh... arrgghhh...� tiga kali dia menjerit, tubuhnya menggelinjang, dan tiga kali pula kurasakan cairan dari vaginanya menyemprot membasahi penisku.

Aku berhenti menggoyang, aku ingin memberi kesempatan pada Citra untuk menikmati orgasmenya.

�Uh, gila! Nikmat banget, Bang!� bisiknya mesra di telingaku. Tubuhnya masih sedikit gemetar karena sisa-sisa orgasme masih melanda tubuh sintalnya. Cairan kental masih terus mengalir memenuhi rahimnya, membuat penisku seperti direndam dalam air gula hangat.

Sebelum dia tergolek lemas, aku segera memutar tubuhnya hingga sekarang Citra tengkurap di depanku. Pantatnya yang putih terlihat begitu padat dan bulat, membuat aku yang masih belum keluar jadi bertambah bergairah. Kuangkat sedikit pantat itu dengan mengganjalnya menggunakan gulungan celana. Dengan posisi sedikit menungging seperti itu, memek Citra yang basah mengkilat terlihat mengintip malu-malu di sela-sela paha mulusnya. Ah, sungguh pemandangan yang indah sekali di sore yang sejuk ini. 

�Ayo, Bang.� Citra menyuruhku agar segera menusuk dirinya dari belakang. �Tunggu apa lagi? Nanti keburu kemalaman.�

Aku tersadar. Memang berbahaya lebih lama lagi di tempat seperti ini. Matahari sudah hampir terbenam. Bukannya menemukan jalan pulang, bisa-bisa nanti malah tersesat dan nyebur ke jurang di belakang sana. Tentu saja aku tidak mau itu terjadi. Jadi dengan cepat, aku segera memposisikan penisku. Kutempelkan lagi batang hitamku ke liang senggama Citra yang tampaknya juga telah siap. Benda itu sudah menganga lebar, memperlihatkan bagian dalamnya yang memerah dan berdenyut-denyut. Cairan bening lengket tampak terus mengalir membasahi bagian luarnya. Sambil menahan nafas, akupun mendorong...

�Jlebb! Bless...� dengan mudah penisku menembus memek yang barusan orgasme itu.

�Ahhh,� kami mengerang berbarengan.

Sementara aku mulai menggoyang, Citra cuma tiduran tengkurap dengan badan terkulai lemas. Dia sudah terlalu lelah untuk membalas setiap seranganku. Tapi tidak mengapa, meski tubuhnya pasif, tapi memeknya masih tetap aktif memijit-mijit kontolku.

�Nggak apa-apa kan, Bang, kalau Citra cuma begini?� gadis itu bertanya, takut pelayanannya tidak bisa memuaskanku.

�Ah, nggak apa-apa. Gini aja sudah enak kok.� aku berterus terang. �Kamu istirahat aja. Abang bentar lagi juga mau keluar.�

Aku mempercepat goyanganku. Kulihat Citra sudah menutup matanya dan tertidur lemas, membiarkan aku bekerja sendirian menggarap tubuh sintalnya. Aku tidak heran dengan sikapnya ini karena sudah sering itu terjadi. Ini masih mending, dia masih sadar. Dulu, aku malah pernah menggarap tubuhnya saat Citra sedang tertidur pulas, dan dia tidak bangun sampai aku orgasme di atas mulutnya. Gadis itu memang lain dari yang lain, tapi justru karena itu aku makin mencintainya.

�Masih belum ya?� Citra bertanya tanpa perlu repot-repot membuka matanya.

�Bentar lagi, Sayang.� kucium pipi gadis itu dan kugerakkan pinggulku makin cepat.

 Sebenarnya sudah dari tadi aku merasakan desakan rasa nikmat di ujung penisku, tapi aku sengaja menahannya selama mungkin. Aku ingin merasakan kenikmatan liang senggama Citra selama mungkin untuk yang terakhir kalinya. Aku tidak ingin saat-saat indah ini cepat berlalu. Toh langit juga masih belum gelap-gelap amat, tambah lima menit lagi sepertinya masih cukup.

�Auw, Bang!� Citra mengerang saat aku makin dalam menusukkan penis. Gadis itu membalas dengan membuka matanya dan memberiku senyumannya yang paling manis.

Dengan penuh semangat, aku menghunjamkan penis untuk yang terakhir kalinya dan... �Aku keluar, Sayang!� aku menggeram dan melepas. Spermaku berhamburan memenuhi liang rahim Citra. Gadis itu menerimanya dengan melenguh pelan dan menggelinjang.

�Enak, Bang?� dia bertanya di sela-sela rintihanku.        

Aku cuma bisa mengangguk mengiyakan pertanyaannya. Gadis itu menarik penisku dan bangkit untuk membersihkannya. Setelah saling menjilat kemaluan masing-masing, kamipun segera mengenakan pakaian untuk segera pergi dari tempat itu. Hari sudah mulai gelap. Sayup-sayup di kejauhan, terdengar kicauan burung malam mengiringi langkah pulang kami berdua.

***

Waktu berlalu dengan begitu cepat. Hari itupun akhirnya tiba. Dengan hati berdebar aku menginjakkan kaki di ibukota, di depan kampus besar yang akan menjadi rumahku 4 tahun ke depan, itupun kalau lancar. Kalau nggak... mudah-mudahan lancar deh, berdoa yang baik-baik aja. Aku nggak mau berpisah lama-lama dengan Citra-ku.

�Ya Tuhan, lindungilah hamba-Mu ini.� aku membatin saat tahu akulah satu-satunya anak daerah di kampus ini. Pasti akan berat rasanya menjalani hari-hari di tempat yang terkenal tak ramah dengan pendatang ini.

Dan belum lepas aku dari keterkejutan, kegiatan hari pertama sudah menunggu: OSPEK. Kegiatan pengenalan kampus bagi kami para Maba. Kegiatan yang terkenal menjadi ajang bagi  mahasiswa senior untuk menyiksa juniornya. Dan sepertinya, memang itulah yang terjadi. Bagaimana tidak, belum apa-apa, kami para Maba sudah dijemur rapi di lapangan. Disana, di atas panggung, seorang pemuda hitam berkaca mata, yang mengklaim dirinya sebagai Presma, berorasi dengan berapi- api.

�Ingat, kita berjuang demi rakyat. Kita menuntut ilmu disini agar bisa mensejahterakan rakyat. Mengerti?�

�MENGERTI!!� para Maba serentak menjawab.

�Hidup Mahasiswa!!� dia berteriak.

�HIDUUUUP!� sahut para Maba.

�Maju terus Mahasiswa!!� dia berteriak lagi.

�MAJU TERUUUS!� kita menyahut lagi.

�Bagus.� sang Presma manggut-manggut, masih belum ada tanda-tanda akan berhenti berorasi meski terik matahari sudah semakin menjadi-jadi

�Eh, Junior! Kamu kenapa diam saja.� seorang cewek berteriak tepat di depan mukaku. �Kalo mau ngelamun, bukan di sini tempatnya.� dia tampak sangat marah. �Sana, pergi ke kantin.� hardiknya keras.

Aku terperanjat. Kaget luar biasa. Bukan karena suaranya yang menggelegar, tapi karena paras wajahnya yang cantik. Baru kali ini aku melihat orang marah tapi tetap cantik seperti itu. Dan yang membuatku lebih gemeteran, wajah itu cuma berjarak 5 centi dariku hingga kalau aku memajukan mukaku sedikit, aku bisa saja dengan mudah mencium bibirnya yang tipis.

�Ma-maaf, Kak.� hanya itu yang dapat kukatakan sambil memandangi wajah cantiknya.

�Kakak?!� si wajah oval membelalakkan matanya yang bening kepadaku. �Sejak kapan aku menikah sama Abang kamu, hah?!� dia berteriak lagi. Kali ini sambil mengacungkan tangannya, menunjuk tepat di hidungku.

�Ehm, aku... maksud saya...� aku jadi tergagap. Di depanku, karena mengangkat tangannya, payudara cewek itu jadi sedikit bergoyang. Hmm, lumayan besar juga. Kalau ditangkup pake tangan, mungkin tidak akan cukup.

�Jawab yang bener!� dia menghardik lagi, lebih keras.

�Ahh,� dan bukannya menyahut, aku malah mendesah karena sekarang payudara itu menempel tepat di bahuku. Rasanya empuuuuk sekali.

TUK! Jari-jari mungil cewek itu mengetok keningku, membuatku tersadar dan menarik pikiranku kembali ke alam nyata. Aku pandang gadis cantik itu dengan kagum. Melihat muka putihnya yang sekarang jadi merah, aku baru sadar kalau aku sedang berada dalam masalah. Dia marah beneran.

�Ma-maaf, Mbak?� aku menyahut.

�Apa? Mbak?!� cewek itu tertawa, memperlihatkan gigi putihnya yang tertata rapi. �Bocah ini manggil aku Mbak!� dia berkoar pada teman-temannya yang dengan cepat langsung mengerubungiku. Tampang mereka sangar-sangar, lebih mirip preman pasar daripada mahasiswa. Aku jadi mikir, jangan-jangan aku salah masuk gedung. Ini seperti terminal Pulogadung, bukan kampus teknik.

�Sialan!� aku memaki dalam hati, takut akan menjadi sansak hidup di hari pertama kuliah.

�Enaknya diapain ya junior kurang ajar kaya kamu ini?� cetus si cantik di depanku sambil mengedipkan matanya, seperti menggodaku.

Ah, tapi itu tidak mungkin, wong dia lagi marah kok. Daripada menambah masalah, aku segera menundukkan mukaku, tidak berani menatap wajahnya.

�Heh, jangan nunduk kalo lagi dimarahi!� seseorang membentak dan mendorong tubuhku dari belakang, membuatku terhuyung. Agar tidak jatuh, aku terpaksa berpegangan pada apapun yang ada di depanku, yaitu... tubuh si cantik. Aku merangkulnya.

Sontak ratusan mata langsung tertuju ke arahku. Sebagian mendelik, sebagian lagi terpekik kaget, sisanya melongo tak tahu harus berbuat apa. Bisik-bisik pun mengalun.

�Kenapa tuh bocah?�

�Berani amat dia!�

�Dia kesurupan kali ya?�

�Ato jangan-jangan ayannya lagi kambuh?�

�Sialan! Matilah aku!� aku memekik dan cepat-cepat melepaskan pelukanku. �Ma-maafkan aku, Kak!�  aku meminta maaf, ketakutanku semakin menjadi-jadi.

Gadis itu menatapku tajam dan... PLAK! Dia menampar pipi kiriku. PLAK lagi! Dan dilanjut yang kanan. Aku mengernyit. Kedua pipiku terasa panas, tapi itu sebanding dengan kenikmatan sesaat yang kurasakan. Tubuh gadis itu terasa begitu empuk, juga hangat. Kelembutan kulitnya membuat darahku berdesir. Juga wangi tubuhnya, dengan cepat membius otakku dan membuatku mabuk. Ah, betapa nikmatnya. �Aku rela kau tampari terus asal bisa diperbolehkan kembali memeluk tubuhmu, Kak!� batinku dalam hati. Tapi tentu saja itu tidak mungkin.

�Kurang ajar kamu ya?!� gadis itu berteriak. Dia ingin menamparku lagi tapi seseorang menahan tangannya.

�Berhenti!� suara seorang pria, serak tapi tegas.

Aku melirik sebentar. Pria itu kelihatan jangkung, kurus, tapi tidak ramping. Ada kesan misterius pada diri pria itu. Sepatu yang dikenakannya bukan jenis yang dijual toko dan batik merahnya kelihatan mahal. Dia memicingkan mata saat melihatku.

Sialan! Aku dalam masalah besar.

�Dina, ada apa ini?� pria itu meminta penjelasan. Suaranya mengalirkan getaran samar di sepanjang tulang belakangku.

�A-anak ini telah bertindak k-kurang ajar, Pak.� jawab si cantik yang ternyata bernama Dina itu dengan takut-takut dan segera menyingkirkan tubuh, memberi jalan pada pria itu agar bisa langsung berhadapan denganku.

Di tempatku berdiri, aku memasang wajah lugu tanpa dosa saat pria itu menatapku tajam. Aku tahu tindakan ini akan sia-sia karena pria itu dengan cepat mendekat dan mencengkeram tanganku, dan menyeretku ke tempat terbuka, membuat semua orang yang melihat langsung terdiam dan tercekat tak bersuara. Saat tangan kami bersentuhan, aku merasakan sengatan listrik statis yang dingin, seperti memegang baterei yang terbuat dari es batu.

�Apa...� geramnya pelan. �...yang sedang kamu lakukan disini?� dia mencengkeram tanganku makin keras, membuatku jadi sedikit gemetar dan sesak nafas. 

�A-aku kuliah disini, Pak?� pertanyaan yang aneh, tapi meski begitu aku tetap  menjawabnya.

�Kamu datang kesini dan tidak melapor padaku. Berani sekali kau!� wajahnya semakin mendekat. Sengatan masih terus terasa di lenganku, bahkan kini sebagian tubuhku mulai dijalari hawa dingin.

�Emm...� untuk pertanyaan yang ini, aku benar-benar tidak mengerti.

�Sebelum datang kesini, kau seharusnya menghubungiku, meminta ijin.� dia melirik nama di nametag-ku, �Vein.�

�Aku masuk lewat jalur UMPTN, Pak.� itulah jawaban terbaik yang bisa aku berikan. �Aku tidak perlu ijin Bapak untuk sekolah disini.� kataku berani.

�Kamu pura-pura tidak mengerti atau memang kamu bodoh?� dia menghardik.

Aku kembali mengkeret.

�Semua orang sepertimu harus melapor padaku. Semuanya, tanpa kecuali. Tidak peduli kamu dari jenis apa, mengerti!� raungnya.

Aku mengangguk cepat, meski masih bingung apa yang dia maksudkan.

�Ada masalah?� suara bening seperti alunan harpa mengagetkan kami berdua.

Aku menoleh. Berdiri dua langkah di sebelah kiriku, tampak seorang dosen muda cantik dengan postur tubuh seperti seorang Dewi. Dia mirip ratu dari Mesir, dengan tulang pipinya yang tinggi dan kulit mulusnya yang putih berkilauan. Rambutnya yang dipotong pendek sebahu mengingatkanku akan sosok Cleopatra yang sering kulihat di film-film, tapi dalam versi lebih cantik. Cantik dengan C besar. Kecerdasan di matanya memberitahuku bahwa dia lebih suka mengandalkan otak daripada penampilannya.

Si Pria menatapku tajam, tapi sejurus kemudian menyeringai dan melepaskan tanganku. Senyum di wajahnya sangat mengerikan, seperti memberitahuku kalau urusan ini masih akan berlanjut nanti.

�Ehm, tidak, Bu. Tidak ada masalah.� katanya. �Hanya kesalah-pahaman kecil.� saat dia menoleh pada si Dosen cantik, wajah pria itu berubah cerah, senyumnya menjadi ramah dan normal.

�Untuk selanjutnya, biar saya ambil alih, Mr. Lord.� sahut si wanita dengan nada dingin. Terlihat ada kesan persaingan kecil diantara mereka.

Si dosen pria yang dipanggil Mr. Lord mengangguk sedikit dan segera beranjak pergi, diikuti oleh si Dina. Aku menghembuskan nafas lega dan menoleh untuk mengucapkan terima kasih pada bu Dosen cantik yang telah menyelamatkanku.

Wanita itu memberiku tatapan hangat yang menyejukkan hati dan berkata, �Ikut ke ruanganku. Ada yang ingin kubicarakan.� dia kemudian berbalik dan berjalan ke arah yang berlawanan dengan si Dosen sadis.

Seperti bebek yang mengikuti induknya, aku berjalan di belakang perempuan itu sambil memperhatikan goyangan pinggulnya yang seksi.

***

Pimp Lord bergeser ke kiri, menikmati kehangatan kulit Dina yang begitu  lembut dan halus. Hanya beberapa hal di dunia yang bisa senyaman tubuh gadis itu. Kalau kenikmatan semacam ini dianggap dosa, maka dia akan dengan senang hati melenggang ke neraka asal bisa menikmatinya. Dia memandang bagian depan tubuh gadis itu yang terbuka, ke arah payudaranya yang besar. Dosen tua itu mengerjap-ngerjap matanya sebentar untuk menyesuaikan diri dengan kulit Dina yang putih menyilaukan.

�Dinyalakan aja, Pak, lampunya.� Dina mengusulkan sambil tangannya terus mengusap-usap kontol Pimp yang tegak menggembung di balik celananya.

�Hmph, tidak usah.� Pimp Lord menunduk untuk mencaplok puting payudara Dina yang mencuat. Pria itu menjilat dan mencucupnya bergantian.

�Auwhh!� Dina langsung meringis dan menggelinjang gemas. �Geli, Pak.� rintihnya.

Pimp Lord membuka celana untuk mengeluarkan penisnya yang terasa semakin mengganjal. Dia memberikan benda besar itu pada Dina, �Emut kontolku!� perintahnya tanpa basi-basi.

Dina merosot dari pangkuan sang Dosen dan jongkok di depan pria itu. Setelah menotol-notol sebentar dengan ujung lidahnya, gadis cantik itupun membuka mulutnya dan mulai menelan.

�Eerrgghhh,� Pimp Lord bergidik sambil memejamkan matanya, menikmati kuluman Dina yang mantab pada kemaluannya.

�Jadi,� tanya gadis itu di sela-sela hisapannya, �Dia itu makhluk apa, Pak?�

Pimp Lord melirik, �Maksudmu, si Vein?�

Dina mengangguk.

�Dia sama seperti aku, tapi dengan kekuatan lebih kecil. Sangat kecil malah  sampai aku luput mendeteksi keberadaanya.� Pimp Lord mendesah, bagaimana mungkin dia sampai sebodoh itu, tidak menyadari keberadaan satu lagi Death-Rider di wilayah ini, wilayah kekuasaanya! 

�Hmm, berarti dia bukan ancaman, kan?� Dina menghisap salah satu buah pelir sang Dosen sementara tangan kiri mengocok batangnya yang berkedut pelan.

�Uuaaahhh,� Pimp Lord mendesah sebelum menjawab. �D-dia bukan tandinganku. K-kamu tenang saja.�

Dina menggeleng, �Aku tidak punya kepentingan dalam hal ini.�
           
Pimp Lord mengidikkan bahunya. �Memang susah ngomong dengan manusia.�

�Tapi bapak suka kan dengan manusia?� Dina tersenyum menggoda.

�Dalam hal Seks, kalian memang lebih pintar. Kuakui itu.� Pimp Lord mendesah saat merasakan penis besarnya kembali dikulum oleh si gadis. Dia berusaha menyingkirkan kekalutan yang terus menjalari pikirannya dan berkonsentrasi pada tubuh mulus Dina. Tapi itu tampaknya sulit sekali. Kemunculan Vein telah menyita perhatiannya. Dia harus cepat melakukan sesuatu. Keputusan yang berat memang: menarik Vein sebagai sekutu, atau memusnahkannya!!! Untuk saat ini, opsi pertama lah yang sepertinya lebih mungkin. Resikonya lebih kecil dan kalau berhasil, dia akan punya satu lagi pelayan yang setia mengabdi kepadanya, sama seperti Dina yang sekarang sudah berbaring telanjang di meja, siap untuk disetubuhi.

�Ahh,� sambil memasukkan penisnya, Pimp Lord teringat saat pertama kali dia berjumpa dengan gadis itu.

Saat itu malam hari dan kampus sedang sepi. Pimp Lord yang sedang memeriksa hasil ujian, dikejutkan oleh suara ketukan pelan di pintu. Saat gadis itu masuk, tanpa perlu bicara, dia bisa langsung tahu kalau Dina sedang berada dalam masalah besar. Tubuh mulus gadis itu basah oleh darah, dia baru saja membunuh orang!

�Siapa?� Pimp Lord bertanya bijak.

�A-ayah tiriku.� Dina terisak.

�Kenapa?�

�D-dia memukuli ibuku, Pak!� gadis itu mulai menangis.

�Sst, tenanglah.� Pimp Lord merangkul tubuhnya untuk menenangkan. �Siapa yang menyuruhmu kemari?�

Dina menyeka ingusnya. �B-bang Ninja.�

Pimp Lord mengangguk. Ninja adalah tangan kanan sekaligus pengawal setianya. 

�Dimana mayatnya sekarang?�

�Di dalam bagasi mobilku.�

Pimp Lord melirik muridnya yang cantik itu. Dia memandangi tubuh Dina yang basah oleh darah sambil sesekali menelan ludahnya. Tubuh gadis itu terasa begitu hangat, juga empuk. Sepertinya bakal enak sekali kalau ditiduri.

�Ehm,� Pimp Lord mendesah. �Kamu tahu kan bayarannya?�

Dina mengangguk.

�Yakin?�

�Itu masih lebih baik, Pak, daripada saya masuk penjara.� lirih Dina.

Dan kesepakatan pun tercapai. Dengan beriringan mereka berjalan menuju tempat parkir. Pimp Lord mengangkat tubuh ayah tiri Dina yang sudah kaku, mengeluarkannya dari bagasi dan menaruhnya di atas lantai beton.

�Minggirlah.� laki-laki itu mulai menggambar lingkaran di sekitar kakinya. Dina menyingkir sejauh beberapa kaki ke belakang.

Saat Pimp Lord mulai merapal mantra, perlahan angin dingin bertiup memenuhi tempat itu. Sedikit demi sedikit, pusarannya berpusat ke mayat yang tergolek tak bergerak di tanah. Tak jauh dari tempat itu, seorang gelandangan tiba-tiba mengejang dan kehilangan nyawa. Bersamaan, tubuh ayah tiri Dina mulai bergerak dan akhirnya, setelah tertatih-tatih dan mengerjap-ngerjap tak mengerti, berdiri tegak. Ritual telah selesai. Pimp Lord segera menutup mantranya dan seketika itu juga pusaran angin berhenti.

�Perkenalkan, ini ayahmu yang baru.� serunya bangga pada Dina. �Secara fisik dia sama, tapi jiwa di dalamnya berbeda.�

Dina melongo, �H-hebat banget.� desahnya pelan. Gadis itu mendekat untuk melihat, dan langsung takjub saat mengetahui hasilnya. Ayahnya yang tadi tewas karena telah ia tikam tepat di jantung, kini berdiri tegak di depannya. Meski pandangannya terlihat kosong, tapi ia hidup. Benar-benar hidup. Tapi tak urung, dalam hati Dina takut juga saat menyadari kenyataan yang sebenarnya, ayahnya adalah seorang mayat hidup sekarang. Seorang Zombie!

�Bukan Zombie, Din. Tapi Undead.� Pimp Lord membetulkan sambil merangkul tubuh gadis itu. �Ayo kita ke dalam. Biar saja ayahmu pulang sendiri. Ada tagihan yang perlu kamu lunasi.� laki-laki itu menyeringai mesum dan membimbing Dina untuk kembali ke ruangannya.

�B-bagaimana kalau ayah saya melapor ke polisi, Pak.� tanya Dina saat mereka sudah berada di dalam ruangan.

�Hmm, kamu tenang saja,� Pimp Lord memandangi payudara Dina yang membusung saat gadis itu mulai melepas kaosnya, tampak begitu tertarik. �Sudah kuatur, ayahmu akan kecelakaan sebentar lagi.� dia menarik BH Dina hingga putus saat melihat gadis itu mengalami kesulitan saat melepas kaitnya. �Mobilnya akan terbakar. Jejak perbuatanmu akan hilang.�

�Begitukah?� Dina bergidik saat dosennya itu mulai meremas-remas payudaranya yang kencang dengan gemas.

�Percayalah pada bapak.� Pimp Lord meyakinkan.

Dan malam itu, jadilah Dina melayani Pimp Lord, dosen Bahasa Inggrisnya yang sudah tua, untuk pertama kali. Dia berbaring pasrah di meja, membiarkan tubuh sintalnya digagahi oleh laki-laki mesum itu. Itulah bayaran yang harus dia berikan sebagai ganti menghidupkan kembali ayah tirinya. Dan sejak itu pula, dia resmi menjadi salah satu budak seks Pimp Lord. Kapanpun dan dimanapun laki-laki itu meminta, Dina harus selalu siap. Misalnya seperti saat ini. Saat di luar sedang ramai ospek, Dina sebagai salah satu panitia malah tidak bisa ikut. Dia harus melayani Pimp Lord yang sedang bergairah. Dengan tubuh terguncang-guncang hebat, gadis itu harus menahan rasa sakit di selangkangannya akibat gesekan dan desakan kontol Pimp Lord yang besarnya luar biasa. Dia mengernyit, dan terpaksa beberapa kali harus menggigit bibir saat penis Pimp Lord masuk menusuk dalam-dalam ke dalam memeknya.

�Auw!� Dina menjerit pelan.

Pimp Lord segera menyambar bibir gadis itu dan melumatnya rakus. Tangannya mencengkeram erat payudara Dina yang terguncang-guncang hingga membuat benda bulat itu meradang dan memerah.

�Aowoogh!� sekali lagi Dina mengaduh saat dengan kasar Pimp Lord memijit dan menarik-narik putingnya.

Gadis itu tidak memprotes karena memang begitulah gaya bercinta sang Dosen. Dina sudah hafal karena dia memang sudah sering melayani laki-laki itu. Hampir dua hari sekali tubuhnya dinaiki oleh Mr. Pimp, begitu Dina memanggilnya. Sudah tak terhitung berapa liter sperma laki-laki itu yang tumpah di dalam memeknya, yang anehnya, meski Dina tidak ikut KB, dia tidak hamil. Suatu hal yang aneh memang, tapi Dina mensyukurinya.

�Huhh... huhh...� Pimp Lord menggenjot makin keras.

Tubuh Dina makin terguncang-guncang karenanya. Meja yang mereka naiki juga ikutan bergoyang, menumpahkan segala isinya kelantai. Tapi dua orang yang berbaring diatasnya tampak tidak peduli sama sekali. Yang ada dipikiran mereka cuma satu, bagaimanakah mengakhiri permainan itu dengan secepat dan senikmat mungkin. Suasana kampus terlalu ramai, sangat riskan kalau harus melakukannya lebih lama lagi. Jadi dengan tusukan dalam, Pimp lord pun akhirnya menggeram dan melepas. Spermanya yang kental tumpah dan menyembur ke kedalaman memek Dina yang hangat. Gadis cantik itu menyambut dengan mengedut-edutkan memeknya, memijit kontol sang Dosen yang masih bersarang agar menumpahkan seluruh spermanya hingga tetes terakhir.

�Uhh... uahh!� Pimp bergidik keenakan dan merangkul Dina dengan mesra. Dia memberi kecupan ringan di bibir tipis gadis itu sebagai rasa terima kasih.

***
 
Aku mengedarkan pandangan. Ruangan ini kelihatan bagus, penataannya tidak berlebihan namun berkesan nyaman. Seluruh dindingnya dicat dengan nuansa putih dan dihiasi dengan sejumlah piagam dan lukisan. Ada dua buah rak buku yang penuh sesak di pojokan, bersanding dengan sofa besar berwarna hijau lumut yang kelihatan empuk. Tirai berenda menjuntai dari jendelanya yang terbuka, sedikit menutupi meja kerja lebar yang terbuat dari kayu jati kelas satu.

Dengan senyum manis yang menenangkan, bu Dosen muda yang cantik itu menyuruhku duduk di satu-satunya kursi kayu yang ada di ruangan itu. �Tidak usah sungkan.� katanya. �Tapi pertama-tama, tanggalkan dulu sabukmu. Benda itu menghalangi pandanganku.�

�S-sabuk apa?� aku menatap tak mengerti.

�Sabukmu. Lepaskan!� dia mengulangi lagi. Kali ini dengan lebih tegas.

�Kenapa?� aku mulai jengkel. Dari tadi semua orang bicara sesuatu yang aku tidak mengerti sama sekali.

�Kamu ingin penjelasan?� dia bertanya. Matanya yang bulat menatapku dari atas ke bawah, seperti menilaiku.

Setengah jengah, setengah tertarik, aku mengangguk  cepat. �Lebih baik begitu. Saya akan sangat menghargainya.�

�Vein-kan?� dia menanyakan namaku.

Aku mengangguk lagi.

�Aku Yohana, Dosen Fisika.� bisiknya lebih kepada dirinya sendiri. �Percayakah kamu kalau hantu itu ada?� tanyanya.

Aku mengangguk. �Dari kecil, saya sudah sering melihat hantu.�

�Seberapa sering?� dia bertanya lagi.

�Hmm, pokoknya lebih sering daripada orang lain.�

�Apakah kau tidak merasa aneh dengan hal itu?� wanita itu tersenyum, sepertinya inilah pertanyaan yang sudah dia tunggu-tunggu.

Aku langsung terdiam. Kemampuan itu memang sedikit menggangguku, aku jadi dianggap orang aneh karena kemampuanku itu. �Iya juga sih.� aku mengangguk.

�Kamu ingin tahu alasannya?� tanyanya.

�Tentu saja.� aku akan sangat senang sekali kalau diberi tahu ada apa ini sebenarnya.

Bu Yohana berdehem, �Itu karena kamu adalah seorang Death-Rider, penunggang kematian, orang yang sanggup mengendalikan kematian!� terangnya cepat tanpa basa-basi.

Kata-kata itu menggema di kepalaku. Sebagian memasung diriku hingga tak sanggup berkata-kata, sebagian lagi langsung membuat perutku bergejolak. Aku sampai terduduk lemas di kursi.

�B-benarkah apa yang ibu katakan?!� lirihku tak percaya, campuran antara rasa kalut dan frustasi.

�Terlihat dari auramu, gelap dan hitam.� Bu Yohana mengangguk dan menepuk-nepuk tanganku untuk menenangkan. �Biar ibu jelaskan.� katanya.

Aku tepekur, mempersilahkannya untuk bicara. Aku masih shock mengetahui kenyataan tentang diriku yang sebenarnya.

�Sejak dahulu, selain manusia, Tuhan juga menciptakan makhluk lain untuk menghuni dunia ini.� Bu Yohana mulai bercerita. �Ada jin, setan, malaikat, hewan, peri, raksasa, dan juga arwah-arwah penasaran yang masih ada urusan dengan duniawi. Sebagian dari makhluk-makhluk itu ada yang kawin dengan manusia dan menciptakan ras baru yang disebut Catalyst, yaitu manusia yang mempunyai kemampuan khusus. Kalau dalam komik, biasanya disebut dengan Manusia Super.� terangnya.

�A-apakah ibu juga seorang Catalyst?� aku bertanya karena kudengar tadi Bu Yohana bicara tentang �Pandangan�. Apakah dia bisa memandang tembus?

�Iya,� wanita itu mengangguk. �Mr. Lord juga Catalyst.� tambahnya.

�Dosen yang tadi memarahiku?� tebakku.

Bu Yohana mengangguk. �Dia juga seorang Death-Rider, sama sepertimu. Tapi dengan kekuatan lebih besar, amat sangat besar.� ada nada muram dalam suaranya.

�Kalau saya boleh tahu, ibu dari jenis makhluk apa?� tanyaku penasaran. Melihat kecantikannya yang luar biasa, sepertinya dia tidak akan jauh-jauh dari Peri atau Bidadari.

�Aku Penjaga, Vein.� bisiknya. �Aku keturunan Bidadari Surga yang diturunkan ke bumi untuk menjaga dunia ini.�

�Ohh, b-bidadari ya?!� suaraku bergetar. Meski tebakanku benar, tapi tak urung tetap membuatku terkejut. Beginikah wujud Bidadari yang sebenarnya? Batinku.

�Dan aku abadi. Karena itulah Mr. Lord tidak bisa membunuhku.� tambah Bu Yohana sambil menggeser duduknya saat mengetahui aku menatap ujung pahanya yang sedikit terbuka.

�A-apa dia suka membunuh?� aku bertanya dan mengalihkan pandangan, kali ini menuju ke atas, ke arah payudaranya yang besar dan bulat.

�Laki-laki itu adalah ketua Catalyst wilayah barat. Death-Rider adalah kemampuan tingkat tinggi, Vein, jarang ada yang punya. Setahuku, kamu adalah yang pertama dalam  20 tahun. Dan Mr. Lord adalah orang yang tidak suka disaingi, dia tidak akan mau  berbagi wilayah denganmu, meski kemampuanmu tidak seberapa. Death-Rider terakhir yang aku kenal, mati hanya 2 hari setelah kemunculannya.� terang Bu Yohana.

�Ah, sekejam itukah?� aku mulai takut.

�Begitulah tabiat Mr. Lord.� sahut Bu Yohana.

�Lalu, kenapa ibu tidak menghentikannya?� tuntutku. Sebagai penjaga, seharusnya dia bisa melakukan itu.

�Sebagai bagian dari makhluk surga, aku tidak boleh membunuh atau terlibat kekerasan.� Bu Yohana menggeleng. �Kamulah yang harus menghentikannya.�

�Ohh,� aku terpaku. �A-aku? Kekuatanku kan sangat kecil.� aku tidak bisa membayangkan bertarung melawan Mr. Lord yang menatap bayangannya saja sudah membuatku ngeri.

�Masih ada harapan. Kulihat kekuatanmu seperti disegel.� aku mau membuka mulut, tapi dia menghentikanku. �Seseorang telah mengikat auramu dengan sihir. Yang bisa kulihat hanya bagian luarnya saja, bagian yang bocor. Segel biasanya dibuat untuk menjaga seseorang dari bahaya, atau mencegahnya menimbulkan bahaya. Kalau segel itu dibuka, mungkin kamu masih bisa menandingi kekuatan Mr. Lord meski aku tidak tahu seberapa besar kekuatanmu yang sebenarnya. Kita berharap saja mudah-mudahan cukup besar.�

Aku mengangguk dan dengan susah payah berusaha menelan ludahku. Berita baru ini cukup menggembirakan meski tidak bisa dibilang menyenangkan. Kalau kekuatanku sudah dibebaskan, lalu apa yang akan aku lakukan? Aku tidak tahu cara menggunakan kekuatanku itu.

�Aku juga tidak tahu, Vein.� jawab Bu Yohana seperti bisa membaca pikiranku. �Yang bisa aku lakukan sekarang cuma memberimu perlindungan, menjagamu tetap hidup sampai saat kekuatanmu dibuka dan kau bisa bertarung melawan Mr. Lord.�

�Ehm, apakah mesti begitu. Apakah tidak bisa kalau aku lari saja dan bersembunyi darinya?� tanyaku.

�Sudah terlambat, Vein.� Bu Yohana menatapku muram. �Dia sudah mengetahui keberadaanmu. Dia akan mengejarmu sampai dapat kemanapun kau lari. Dan percayalah, dia bisa melakukan itu.�

�Kenapa tidak dari dulu dia melakukannya?� aku bertanya lagi.

�Bisa dikatakan, selain menyembunyikan kekuatanmu, segel itu juga menyembunyikan dirimu. Aku mungkin juga tidak akan tahu kalau tidak melihatmu dari jarak dekat. Dan sabukmu, apapun yang ada di dalamnya, makin menyamarkan keberadaanmu. Benda itu sejauh ini tampaknya telah berhasil melindungi nyawamu.�

�Ohh,� aku menekuri meja. �Karena itukah jadi Mr. Lord baru tahu sekarang?�

Bu Yohana mengangguk, �Dia pasti sama terkejutnya seperti aku.�

�Lalu,� kupandang wajah cantik wanita itu. �Apa yang harus saya lakukan sekarang?�

�Pulanglah.� kata Bu Yohana. �Temui orang yang membuatkanmu sabuk, aku yakin dia bisa membuka segelmu. Jenis mantranya sama, sepertinya itu dibuat oleh satu orang.�

�Tapi, Bu.� aku keberatan. �Bagaimana dengan kuliahku?� baru juga hari pertama, masa aku sudah disuruh pulang.

�Ini lebih penting daripada kuliah.� tegas Bu Yohana. �Biar nanti aku yang mengurus cutimu.�

Melihat keseriusannya, dengan terpaksa aku mengangguk. �Baiklah, kalau memang itu yang ibu inginkan.� aku berdiri. �Saya permisi dulu, Bu. Saya mau berangkat sekarang.� aku ingin segera cepat sampai rumah. Kalau pergi sekarang, aku bisa tiba di rumah nanti malam.

�Eh, tunggu.� Bu Yohana meraih tanganku. �Aku akan memberimu perlindungan agar kamu selamat selama di perjalanan.�

�Kan saya sudah punya sabuk, Bu.� kurasakan tangannya begitu halus dan hangat saat menggenggamku, mau tak mau membuat darah mudaku berdesir. Siapa juga yang menolak dipegang oleh Bidadari cantik macam Bu Yohana.

�Ini perlindungan jenis yang lain.� terangnya. �Membuat tubuhmu kebal dari senjata dan cepat sembuh dari luka.�

Mendengarnya, tentu saja membuatku tertarik. �Tapi jangan lama-lama ya, Bu. Saya harus ngejar bis.� Kuikuti Bu Yohana yang berjalan pelan menuju ke sofa.

�Lama nggaknya tergantung kamu,� wanita itu tersenyum misterius dan mendorong tubuhku hingga terduduk di sofa.

 �Bu, ini�� aku ingin memprotes tapi mulutku sudah dibungkam oleh Dosen cantik keturunan Bidadari itu dengan ciumannya yang hangat dan basah. Bibirnya yang tipis menempel erat di bibirku sementara lidahnya mencucup dan menjilat dengan rakus, mengajakku untuk saling melumat dan menghisap satu sama lain.

Dibawah, kurasakan tangan lentik Bu Yohana meraba-meraba gundukan penisku. Entah bagaimana caranya, dengan cepat dia bisa membuka sabukku dan menarik celanaku ke bawah hingga menyembullah penis besar milikku yang sudah setengah menegang.

�Ohh!� Bu Yohana tersenyum saat melihatnya.

�I-ibu mau apa?� tanyaku terbata-bata, tapi tak menolak saat kontolku yang hitam berurat dikocok-kocok oleh wanita cantik itu.

�Sst,� Bu Yohana menyuruhku diam. �Biar ibu yang bekerja. Kamu disitu saja. Nikmati apa yang ada.� bisiknya mesra sambil mulai menjilati ujung penisku yang tumpul kayak jamur.

�Buu?� badanku gemetar saat dia mulai mengulumnya. �A-apakah harus seperti ini?� tanyaku dengan mata sedikit terpejam. Jilatannya di penisku benar-benar nikmat, terasa hangat, basah dan sedikit menggelikan. �Ohhhhh,� yang tentu saja langsung membuatku merintih keenakan.

�Mmmhhppphh!� cuma itu yang keluar dari bibir Manis Bu Yohana. Mulutnya tampak begitu penuh dijejali kontol hitamku. Dia tidak bisa bicara. Air liur menetes terus dari sudut bibirnya yang berlipstik merah muda.

�Uuhhh... Geli, Bu.� aku menggelinjang sambil memegangi ujung kepalanya yang berambut hitam tebal.

Kubiarkan Bu Yohana terus menyepong penisku. Entah apa yang diinginkannya dengan mengajakku berbuat seperti ini, tapi selama aku merasa nikmat, aku tidak akan menolak. Dan sepertinya ini akan benar-benar nikmat. Bercinta dengan  Bidadari gitu lo! Siapa yang tidak kepengen. Siapa tahu Bu Yohana ternyata masih perawan, seperti yang diceritakan di dongeng-dongeng. Oh, membayangkannya saja sudah membuatku mau muncrat.

�Uuaahhhhh!� aku mendesah saat lidah basah Bu Yohana beralih menjilat buah pelirku. Dengan telaten wanita cantik itu menghisap dan mencucupnya bergantian. Meski selangkanganku berbulu lebat, dia tidak nampak risih sama sekali. Malah kelihatan sekali kalau dia menikmatinya. Dengan mulut terus bergerak, Bu Yohana mengocok-ngocok batang penisku yang makin menegang. Cairan bening yang mulai keluar dari ujungnya, langsung dia sambar begitu saja. Dengan ujung lidah dia menjilatnya dan ditelan tanpa rasa jijik sedikitpun. Ohh, aku yang merasakannya jadi tidak bisa menahan lebih lama lagi. Penisku rasanya semakin kaku dan berdenyut-denyut dalam genggaman wanita cantik itu.  

�Ohhhh... Bu, aku mau keluar.� desisku sambil bersandar kaku di sofa.

Bu Yohana yang mengetahui keadaanku, makin mempercepat jilatan dan kocokannya, yang tentu saja semakin membuatku bergidik tak karuan. Akhirnya, sambil melenguh panjang dan menekan kepala Bu Yohana dalam-dalam, akupun melepas.

�UAARRGGGHHHHHH!!� cairan putih kental berhamburan dari dalam penisku, mengisi penuh mulut Bu Yohana hingga membuat Bidadari cantik itu tersedak dan terbatuk-batuk sejenak.

�Uhh, banyak banget.� serunya riang sambil mengusap lelehan spermaku yang merembes dari sudut bibirnya. Selanjutnya dengan telaten dia mengulum penisku hingga benda hitam panjang itu selesai memuntahkan seluruh isinya. �Spermamu gurih.� katanya sesaat setelah menelan spermaku.

Aku yang kelelahan setelah orgasme, cuma bisa diam menyaksikan seluruh ulahnya. Dengan nafas berat, aku bersandar di sofa dengan tubuh lemas dan nafsu terpuaskan.  Kupandangi wajah cantik Bu Yohana yang masih asyik memegang-megang penisku meski sekarang benda itu sudah menyusut dan mengkeret menyedihkan.

�A-apakah sudah, Bu?� aku bertanya. Apakah seperti ini ritual untuk memberiku kekebalan?

�Sudah apanya?� Bu Yohana tersenyum. �Ini baru pemanasan kok.�

Hah? Aku terpaku.

BERSAMBUNG