Forbidden Desire


Ini kisah yang terjadi ratusan tahun lalu, saat para siluman, hewan mistis, dan berbagai hal yang gaib dapat ditemui di antara para manusia. Manusia hidup berdampingan dengan para makhluk mistis ini, dan tidak jarang menjadi korban keganasan mereka, seperti dua ratus tahun yang lalu.

Ya, dua ratus tahun lalu terjadi sebuah peristiwa yang sangat mengerikan. Seekor siluman rubah berekor sembilan yang sangat ganas mengamuk dan menghancurkan beberapa desa, membunuh ratusan penduduk yang tidak berdosa. Berbagai cara telah dilakukan, namun siluman yang kejam itu terus saja mengamuk dan memporak-porandakan semuanya. Pada akhirnya dengan pengorbanan yang tidak sedikit, para tetua berhasil menyegel siluman itu.

Tahun demi tahun berlalu. Peristiwa berdarah itu seolah hilang dalam ingatan dan hanya menjadi sebuah mitos. Puluhan tahun pun berlalu dengan cepat. Mitos tersebut pun semakin dilupakan.

***

Sore itu hujan turun tanpa henti di sebuah desa kecil di pinggir hutan. Matahari tidak menunjukkan sinarnya sama sekali, dan cuaca menjadi semakin lembap. Dengan semangat Dinda terus mengumpulkan jamur dan umbi-umbian yang dapat ia makan, tidak peduli dengan gaunnya yang semakin basah terkena lumpur. Kedua mata birunya yang cerah bersinar terang saat ia melihat banyak jamur besar yang tersembunyi di antara akar pepohonan yang rimbun.

"Bagus, dengan ini aku bisa makan enak nanti malam!" Dinda tersenyum senang. Tahun itu usianya beranjak 19 tahun. Rambut hitamnya pun semakin panjang, namun ia segan memotongnya. Ia memang menyukai rambutnya yang panjang menjuntai melebihi pinggang. "Ah, kalau mendapat banyak jamur bisa kujual dengan harga lumayan, nih! Cukup tidak ya uangnya untuk membeli 5 mangkuk mie?"

Gadis itu tertawa pelan lalu berkata sendirian, seolah menjawab pertanyaannya sendiri. "Tentu saja cukup! Lihat saja! Aku pasti bisa mengumpulkan sekeranjang jamur!"

Dinda sudah hidup sendirian di gubuk kecil bawah pohon besar yang berada di dalam hutan selama bertahun-tahun, sejak usianya masih 8 tahun. Ia jarang sekali mendatangi desa tempatnya tinggal, biasanya hanya untuk menjual sayuran yang ia dapat di hutan dan ditukar dengan mie kesukaannya. Para penduduk sangat menyukai gadis yang periang itu, dan terkadang mereka membeli sayuran darinya sambil bercakap-cakap panjang lebar. Meskipun wajah Dinda selalu riang dan tersenyum, mereka tahu bahwa gadis itu teramat sangat kesepian.

Bukan salah gadis itu, pikir mereka. Lagipula, mendekati seorang gadis keturunan penyihir hanya akan mendatangkan bencana besar. Dinda tahu hal itu dengan baik, makanya ia tidak pernah menyalahkan siapapun. Ia menerima nasibnya.

Dengan langkah gembira Dinda terus memasuki hutan ke wilayah selatan, yang jarang dimasuki oleh penduduk maupun dirinya. Ukuran jamur yang ia dapat memang sangat besar, tapi wilayah itu sangat berbahaya. Mendadak Dinda terjatuh dengan keras ke samping, terantuk oleh sesuatu yang besar dan gelap. Dinda mendesis kesal sebelum ia mencium aroma darah yang pekat, sangat menyengat dari benda itu. Itu bukanlah benda, melainkan seseorang.

Sesosok tubuh manusia tergeletak di sana, dengan tubuh yang dipenuhi oleh luka-luka yang terlihat parah. Rambut hitam yang panjang menutupi sebagian wajah orang itu. Dengan perlahan Dinda mendekati orang itu, berniat memeriksa apakah orang itu sudah mati atau masih hidup. Mungkinkah masih bisa diselamatkan?

Jemari Dinda bergetar saat melihat darah segar yang terus mengalir dari dada si pria, namun ia dapat merasakan detak jantung yang terus berdegup dengan kencang darinya. Ia masih hidup! Ia harus ditolong!

Dinda langsung berdiri dan mencari dedaunan yang bisa ia gunakan sebagai pengobatan pertama. Tinggal sendirian selama bertahun-tahun telah mengubahnya menjadi seorang perempuan yang mandiri dan memiliki kemampuan pengobatan yang tidak bisa diremehkan. Perlahan ia membuka pakaian orang yang terluka itu, mengelap darah yang mengalir dengan sobekan gaunnya, dan menempelkan obat yang baru saja ia buat. Ia hendak membalut luka yang baru saja ia obati, namun mendadak tangannya dicengkram dengan sangat kuat oleh si pria yang rupanya baru saja terbangun dari pingsannya.

"Jangan sentuh!" kedua mata gelap itu dipenuhi oleh kemarahan. Kedua mata liar seperti binatang buas, siap menerkam dan mencelakai apapun. Suaranya yang jernih terdengar sangat parau dan kesakitan. "Katakan, apa maumu!"

Dinda terdiam sesaat sebelum ia menjawab dengan kesal, "Aku hanya ingin menolongmu!"
"Aku tidak butuh� pertolongan� pergi saja kau dari sini�"

Tapi Dinda tentu saja tidak bisa mengabaikan kondisi pria itu. Ia tidak bisa membiarkan seseorang tewas di depan kedua matanya. Dengan cepat ia merobek lengan gaunnya dan membalut luka yang terbuka lebar di dada si pria.

"Kubilang jangan�"

"Aku tidak bisa membiarkanmu seperti ini� apa kau bisa berjalan?"

Pria itu mengerutkan wajahnya yang pucat. Raut wajahnya yang tampan terlihat heran, seperti menunggu dirinya untuk melakukan sesuatu. Dinda mengacuhkan sikap pria itu dan berusaha mengangkat tubuh si pria dari sana. Dengan sekuat tenaga ia menarik lengan si pria, tapi ternyata tubuh pria itu terlalu berat untuknya, dan membuatnya nyaris terjatuh.

"Apa sih? Kau berat sekali!" Dinda bersungut-sungut. "Kau benar-benar menyusahkan!"

Sepintas terlihat senyuman tipis dari si pria. "Kau ingin membantuku?"

"Tentu saja!" Dinda menjawab tanpa ragu. Sebenarnya ia dapat merasakan aura gelap yang menyelubungi pria itu, dan nalurinya terlalu tajam untuk dibohongi. Tapi ada sesuatu yang membuatnya ingin percaya kepada pria asing itu. Entah kenapa tapi ia ingin mempercayai pria itu.

"Baiklah, aku tidak ada pilihan lain�" Pria itu akhirnya menyerah. "Pinjamkan bahumu sebentar�"

***

Dada Dinda berdebar kencang saat ia menyadari apa yang sudah ia perbuat. Ia telah membawa pria asing itu ke tempatnya, ke gubuk kecil yang sebenarnya dilarang bagi siapapun selain dirinya. Ia melirik ke arah tempat tidur tempat pria itu berbaring. Dengan luka parah dan kondisi seperti itu ia tidak mungkin macam-macam. Lagipula, ia tidak mungkin mencelakai penolongnya, bukan?

Dinda melirik langit malam yang dipenuhi oleh bintang. Biasanya setelah hujan deras, langit menjadi sangat cerah. Dengan pelan ia menutup jendela ruangan, takut pria yang sakit itu kedinginan. Mendadak perutnya berbunyi dengan nyaring. Rupanya minta diisi, pikirnya. Dinda segera beranjak ke luar ruangan dan membersihkan umbi yang ia dapat di hutan. Dengan sigap direjangnya air dan dimasaknya umbi-umbi tadi. Ia sengaja memasak agak banyak agar pria itu juga dapat makan.

Mendadak pria berambut hitam itu berdiri di belakangnya. Wajah pria itu benar-benar tampan. Dengan kedua mata hitam sepekat malam dan kulit putih halus, sosoknya terlihat bagaikan pemuda impian yang keluar dari buku-buku yang dulu pernah dibacakan oleh Paman Saddi tersayangnya sewaktu ia masih tinggal bersama mereka.

"Kau� kau sudah merasa baikan?" Dinda sendiri kaget dengan suaranya yang gemetar. "Apa kau tidak mau menunggu makan terlebih dahulu?"

"Tidakkah keberadaanku di sini akan membawa bahaya untukmu?" Pria itu berkata dengan dingin. Raut wajahnya masih sangat pucat, tapi jauh lebih baik daripada sebelumnya.

"Apa kau tidak mau makan sebelum pergi? Kurasa kau akan merasa lebih baik bila�"

"Aku menghargai bantuanmu, nanti pasti akan kubayar."

Dinda dapat merasakan wajahnya memerah karena ucapan pria itu yang membuatnya sangat kesal. Ia tidak dapat menahan amarahnya. "Aku tidak butuh apapun darimu, bila kau ingin pergi, pergi saja sana!"

Pria itu diam sebentar, sebelum mulutnya kembali membuka dengan angkuh. "Tanpa kau suruh aku akan pergi�"

KRIUUKKK�

Suara keras yang mengagetkan keduanya berasal dari perut pria itu. Dinda serentak tertawa renyah. Ia tertawa tanpa henti sementara pria itu hanya bisa tertunduk dan memicingkan kedua mata gelapnya.

"Baiklah, makanan apa yang kau punya?"

"Umbi yang kurebus dengan jamur dan sayuran segar." Dinda berusaha menutupi rasa gelinya. Wajah tampan itu berubah kemerahan. "Kau pasti suka. Kau pasti menyukai masakanku."

"Apa aku punya pilihan?"

Butuh waktu yang lumayan lama sampai akhirnya masakan Dinda matang dan terhidang di atas meja kecil yang terlihat agak reyot itu. Gubuk yang ia tempati memang sudah berusia puluhan tahun dan sepertinya tidak pernah ada perbaikan yang memadai selama ditempati. Dinda ingin sekali membetulkan beberapa bagian dari ruangan itu, tetapi ia tidak memiliki cukup kemampuan untuk berbuat begitu.

Tanpa banyak cakap pria itu menghabiskan sup yang ia buat. Dinda tersenyum dan menyeruput supnya sendiri. Ia tahu pria itu menyukai masakannya. Menikmati masakan memang lebih enak dilakukan bersama. Bertahun-tahun ini ia selalu makan sendirian dan rasanya benar-benar sepi.

"Kau selalu makan sendirian?" Pria itu tiba-tiba bertanya. Dinda hanya bisa mengangguk pelan. Rasanya agak aneh juga bila mendadak ada seseorang di depannya dan berbicara dengan suara yang maskulin. Selama lima tahun belakangan ia sama sekali tidak pernah bercakap-cakap berdua saja dengan pria dan itu membuatnya agak risih.

"Hei, kenapa� kenapa kau bisa terluka seperti itu?" Dinda penasaran dengan luka yang dialami oleh si pria asing. "Aku tidak tahu bila hutan selatan bisa sebegitu berbahaya."

Pria itu tersenyum sinis. "Temanku memang suka bercanda, dan kali ini bercandanya agak melewati batas."

"Teman?" Dinda tentu saja tidak begitu mengerti jenis persahabatan apa yang dimiliki oleh pria itu, tapi menurutnya teman tidak akan saling menyakiti sedemikian rupa. "Menurutku yang seperti itu bukan teman."

Pria itu hanya tertawa samar.

"Aku sudah lama tinggal di sini sendirian, rasanya menyenangkan juga bila ada kau yang menemaniku," Dinda dengan jujur mengungkapkan perasaannya. Sebagai seorang gadis yang diharuskan hidup sendirian sampai hidupnya berakhir nanti, kadang ia merasa sangat sedih dan sendirian. Terkadang ia sering menangisi hari-harinya yang sunyi dan berharap agar ada yang menemaninya, sebelum ia tersadar bahwa harapannya itu hanyalah harapan kosong yang tidak berarti.

"Kurasa sudah waktunya aku pergi dari sini."

"Kau tidak mau tambah lagi?" Dinda serentak menggenggam lengan si pria di hadapannya, seakan tidak mau melepaskan pria itu. Kedua matanya yang besar dan bulat memandang kedua belah mata dingin itu tanpa rasa takut. "Kau� kau� kau butuh tambahan gizi, tuan�"

"Jalu, kau bisa memanggilku Jalu." Pria itu menahan napas saat ia melepaskan lengan mungil yang menahan tubuhnya dengan mudah. "Aku berterima kasih atas kebaikanmu."

***

Dinda berpikir bahwa itulah pertemuan terakhirnya dengan Jalu, namun nyatanya tidak. Rupanya Jalu memutuskan untuk tinggal di desa dekat hutan tempat tinggalnya, dan terkadang mereka bertemu kembali. Jalu tetap saja dingin saat mereka bertemu kembali siang itu di tepi danau, tempat Dinda biasa menggelar ikan hasil tangkapannya untuk dikeringkan. Musim dingin sudah semakin mendekat dan ia harus sepintar mungkin mengumpulkan makanan yang ada.

Kondisi tubuh Jalu jelas sudah sangat baik, meskipun wajahnya tetap saja sedingin es. Dinda tidak tahan untuk tidak mengajaknya bicara. Gadis manis itu maju ke arah Jalu dan bertanya dengan gembira. "Sepertinya kau sudah baikan."

"Tentu saja." Jalu mengacuhkannya dan melempar kailnya jauh ke tengah sana. Di sampingnya terdapat dua keranjang penuh ikan. Sepertinya Jalu memang berbakat menangkap ikan.

"Kau tahu sebuah legenda, tidak? Legenda yang ada di danau ini." Dinda terus saja menyerocos bicara, ingin menarik perhatian Jalu. "Dulu ada seekor siluman besar berwarna oranye yang mencari tuannya. Tapi orang-orang salah mengira dan pada akhirnya ia dibekukan di tengah danau, katanya�"

"Kalau kau tidak menutup mulutmu, kau yang akan kubekukan." Wajah Jalu tidak berubah saat ia mengatakan itu dengan nada datar. Dinda langsung mencibir.

"Aku jarang sekali bertemu dengan orang seperti kau yang jarang bicara banyak." Katanya pelan. "Tapi lihat, meskipun aku banyak bicara begini, ikan tangkapanku jauh lebih banyak daripada tangkapanmu."

Raut wajah Jalu langsung berubah. "Apa maksudmu?"

Rupanya ia tidak suka kalah, pikir Dinda iseng. Senyuman jahil muncul di wajahnya yang manis. "Yah, aku ini penangkap ikan yang lebih ahli daripada kau, Jalu."

Raut wajah Jalu kini sudah benar-benar berubah. "Kita buktikan saja siapa yang lebih unggul�"

***

Langit senja tampak merah saat keduanya berhasil mendapatkan banyak sekali ikan, bahkan keranjang Dinda tidak sanggup membawa ikan yang ia dapatkan. Meskipun begitu, ikan hasil tangkapan Jalu jauh lebih banyak daripada Dinda. Heran juga Dinda karena baru sekali itu ia dikalahkan dalam bidang yang merupakan keahliannya.

"Kau benar-benar hebat! Banyak sekali ikan yang kau tangkap!" Dinda mengagumi jumlah ikan yang ditangkap oleh Jalu. "Aku mengaku kalah!"

Jalu tidak banyak berkomentar dan kembali menunjukkan senyum angkuhnya. Mendadak kedua matanya terpaku melihat segel yang berada di perut Dinda. Segel itu terlihat jelas karena gaun putih Dinda basah dan menempel di kulit. Segel yang selama berbulan-bulan ia cari dengan susah payah.

"Dinda," bisik Jalu pelan. Suaranya terdengar bagaikan bisikan pelan kala ia bertanya. "Segel apa yang berada di tubuhmu itu?"

Dengan polos Dinda menjelaskan arti segel yang terpasang di perutnya. "Aku pewaris keluarga Purwadinata, jadi segel ini terpasang di tubuhku� eh, bagaimana cara membawa ikannya, ya? Kau mau membantuku, tidak? Aduh, bagaimana ini�"

"Jadi kau keturunan Purwadinata?" raut wajah Jalu tidak terbaca. Kedua matanya berkilat saat ia berjalan mendekati Dinda. "Kau penyihir?"

Mendengar Jalu mengetahui bahwa dirinya adalah penyihir, rasanya Dinda ingin sekali menghilang ke dasar bumi. Ia tahu setiap orang akan langsung menjauh bila tahu bahwa dirinya adalah penyihir. Setiap orang yang mendekati penyihir keturunan Purwadinata akan mendapatkan kesialan dan kesulitan yang besar. Itu memang gosip yang sengaja disebarkan agar kesucian dirinya tetap terjaga, tapi tetap saja rasanya menyakitkan dijauhi oleh setiap orang.

"Kau mau aku membantumu membawakan ikan-ikanmu, tidak?" tawar Jalu dengan raut wajah yang lagi-lagi tidak bisa terbaca oleh Dinda. Dinda mengangguk dengan senang. Ia tidak tahu bahaya apa yang menantinya di depan nanti.

***

Gubuk itu sudah dibersihkan sehari sebelumnya oleh Dinda dengan semangat. Biasanya ia memang selalu membersihkan segala sesuatunya menjelang musim dingin agar tidak ada angin yang menusuk tulang yang kerap masuk di sela-sela dinding. Bagian depan dan bagian tengah sudah siap, pikir Dinda senang. Ia sudah bisa membayangkan betapa hangatnya musim dingin nanti.

Mendadak wajah Jalu terbayang di kepalanya. Wajahnya memanas saat teringat olehnya senyuman sinis pria itu saat mereka bercakap-cakap. Mungkinkah dirinya menyukai pria itu? Dinda memang jarang sekali bertemu dengan pria seumuran dirinya, tapi ia tahu bahwa pria seperti Jalu bukanlah pria yang mudah ditemui. Pria itu memang tidak banyak bicara, tapi ia dapat merasakan kebaikan dari dirinya. Terkadang Dinda pun merasa was-was dengan aura yang aneh di sekeliling Jalu, tapi ia cenderung mengabaikan apa yang ia rasakan.

Ia sangat senang berteman dengan Jalu.

Perlahan, Dinda menutup kedua matanya dan berharap ia akan bermimpi indah tentang pria angkuh yang tidak suka dikalahkan itu. Ia berharap akan bertemu dengan Jalu di dalam mimpinya.

***

Dari kejauhan pria itu terus menatap gubuk kecil tempat Dinda terlelap. Ki Kemput telah menugaskannya untuk melepaskan Luak, hewan mistis dalam legenda yang tersimpan dalam tubuh seorang penyihir wanita. Sudah puluhan wanita ia bunuh tapi belum juga ia dapatkan hasil yang inginkan. Ia tidak tahu bahwa gadis lugu periang yang telah menolongnya adalah kunci dari misinya selama ini.

Jalu tersenyum pelan dan melangkah mendekati gubuk itu tanpa ragu. Kaulah satu-satunya yang dapat membebaskan penderitaanku selama ini, Dinda�

***

Perasaan tidak enak yang mengganggu tidurnya membuat Dinda membuka matanya. Ia sangat terkejut ketika menyadari bahwa Jalu tengah berada di atasnya dengan seringai kejam menghiasi wajahnya yang tampan. Berbagai pikiran buruk langsung merayap masuk ke kepalanya, tapi Dinda masih berusaha untuk tetap tenang.

"Apa yang kau lakukan di sini?" suara renyah Dinda bergetar dengan hebat saat ia bertanya. "Kumohon, apapun yang kau akan�"

Jalu tidak mengatakan apapun, tapi kedua tangannya merayap di bawah gaun Dinda. Dinda hendak berteriak saat Jalu dengan cepat menutup mulutnya dengan tangannya yang besar. Gadis itu takut sekali. Ia sangat takut karena ia tahu yang akan dilakukan oleh Jalu. Tapi kenapa? Kenapa Jalu tega melakukan itu terhadapnya?

"Di luar dugaanku, kau menarik juga�" kata-kata Jalu sedingin es ketika pria itu menarik gaunnya ke bawah. Dinda berusaha memberontak sekuat dan sebisa mungkin, tapi ia tak berdaya di bawah kekuatan Jalu. Ia tidak rela Jalu menelanjanginya dengan cara begitu. Ia benar-benar tidak rela. "Tubuhmu indah�"

Dengan refleks Dinda menggigit tangan Jalu sekencang-kencangnya, membuat perhatian Jalu teralihkan. Tapi Jalu tidak bergeming. Ia hanya tersenyum ganas menatap Dinda, lalu tertawa. Tawa bengis yang tak pernah didengar oleh Dinda sebelumnya. Ini bukan Jalu yang ia kenal. Ini Jalu yang lain.

"Berhentilah memberontak dan kita nikmati semua ini." Jalu menganjurkan dan mendekatkan wajahnya ke arah Dinda. "Aku tahu kau pasti menyukaiku." Bisiknya.

Dinda ingin sekali menangis tapi air matanya tidak keluar karena ia terlalu takut. Dengan susah payah ia membuang wajahnya ke samping, tapi Jalu dengan cepat menggenggam wajahnya, lalu menciumnya. Bibir pria itu terasa panas dan membara di atas bibirnya. Aroma yang kuat dan keras seakan mewarnai malam itu dengan tinta merah. Rasanya Dinda nyaris pingsan karena ketakutan.

Jalu tahu itu. Ia tertawa sejenak. "Kenapa? Kau hendak melarikan diri, heh?"

"Jangan lakukan ini, kau bukan pria seperti itu, bukan? Kumohon henti�"

Jalu kembali memotong kata-kata Dinda dengan ciumannya. Ia memaksa gadis itu menerima ciumannya yang kasar dan liar. Dinda menangis pilu saat Jalu terus menciuminya dengan paksa. Hatinya terasa teriris-iris, sakit sekali.

"Hentikan� aku harus menjaga kesucianku� segelnya�"

Jalu menatap Dinda dengan dingin. Ia tahu apa yang gadis itu bicarakan. Hanya ada dua cara untuk melepas segel Luak yang agung. Membunuh badan penyegel yang merupakan media atau memperlemah media dengan cara merusaknya.

Ia yang dulu pasti tanpa membuang waktu akan langsung menghabisi Dinda. Tapi entah kenapa tangannya susah sekali menghabisi gadis berambut hitam itu. Jadi tidak ada jalan lain.

"Segelnya bisa terbuka kalau kau� kumohon jangan�"

"Aku yang memohon kepadamu, jangan menatapku seperti itu." Jalu berbisik pelan di atasnya. Kedua tangannya menggenggam pelan kedua payudara Dinda yang bulat menggairahkan. Gadis itu masih saja menangis dan meratap agar ia menghentikan aksinya. Jalu menghela napas dalam-dalam. "Baiklah, jangan bilang aku tidak baik terhadapmu."

Dinda berteriak saat Jalu tiba-tiba membalik tubuhnya. Ia tidak tahu apalagi yang terjadi saat mendadak ia merasakan Jalu memasukinya dari belakang. Dinda berteriak lirih saat Jalu terus memaksa untuk masuk, merobek kemaluannya.

"Auw, hentikan� Ahh.. Jangan! Sakit ! Lepaskan, jahanam!� Dinda berteriak panik sambil menghentak-hentakkan kakinya, tapi itu malah membuat penis Jalu menyeruak masuk semakin ke dalam ke liang vaginanya yang belum pernah di sentuh oleh laki-laki manapun. Dia merasakan selaput daranya robek saat pria itu menyodokkan kemaluannya hingga amblas seluruhnya.

�Auw, Sakit! Lepaskan!� rintih Dinda sambil melempar kepalanya ke kiri dan ke kanan menahan sakit dan perih yang tak terkira yang melanda sekujur tubuhnya.

Tubuh gadis itu bergetar keras saat Jalu menciumi telinga dan lehernya seraya bergerak berulang-ulang dalam vaginanya. Kedua payudaranya berada dalam genggaman Jalu yang besar. Ia bahkan tidak mampu bergerak dan hanya bisa mematuhi apa yang diinginkan Jalu.

"Hentikan, Jalu! Sakit... Tolong hentikan!� Dinda meratap, tapi Jalu sepertinya tidak peduli dengan jeritan dan tangisannya.

Pria itu terus menyatukan tubuh mereka dengan paksa. Dinda terus berteriak, tapi Jalu tidak mengindahkan teriakannya. Rasanya benar-benar sakit saat selangkangannya tertembus, batin Dinda pedih. Ia ingin sekali mati. Ia ingin sekali mati�

�Aarrgghhhhhh...!� Jalu tiba-tiba berhenti dan melenguh keras, Dinda sadar pria itu akan orgasme di dalam liang kemaluannya.

�Jangan... Jangan... Di dalam!!� teriak Dinda panik. Jalu memeluknya erat saat penisnya meledak menyemburkan sperma yang langsung memenuhi liang vaginanya. Hilanglah sudah kegadisan Dinda yang selama ini selalu berusaha dia jaga baik-baik. Saat itu,  Dinda merasa sangat marah, malu dan terhina.

�Ahh..� gadis itu mendesah pelan saat Jalu mencabut penisnya dan pergi meninggalkannya begitu saja. Dinda mencoba bangkit dan berdiri walaupun rasa sakit dan ngilu masih terasa di sekitar selangkangannya. Dinda melihat bercak putih bercampur merah darah perawan di sekitar kemaluannya.

Mendadak kesadarannya hilang. Terdengar suara asing dari dalam dirinya. Dinda sudah tidak tahu apa-apa lagi. Yang ia tahu hanyalah ia telah gagal mengemban tugasnya sebagai seorang penyihir terakhir. Ia layak untuk mati.

***

"Kaukah yang memanggilku?"

Sosok besar berwarna hitam itu keluar dari tubuh Dinda. Wajah yang menyeramkan dan mengintimidasi, penuh dengan keanggunan sekaligus kebrutalan. Luak telah berhasil dibebaskan. Misinya telah berhasil. Jalu telah berhasil menjalankan misinya.

"Kau telah bebas, Luak." Jalu tertawa lirih. "Kau tahu kemana kau harus pergi dan berterima kasih, bukan?"

"Itu bukan urusanmu, manusia."

Jalu menggumam perlahan lalu tersenyum pelan. "Mengamuklah sesukamu, bunuh semua orang."

Sang rubah mengabaikan pernyataannya dan langsung menghilang entah kemana. Meskipun demikian Jalu tahu si rubah pasti kembali kepada tuannya, yang juga merupakan pemimpinnya selama ini, Ki Kemput. Akhirnya ia berhasil memperoleh kebebasannya yang selama ini terenggut. Pada akhirnya ia bisa juga membebaskan kakaknya. Tapi masih ada satu hal yang sangat mengganggu dirinya.

Dinda Purwadinata.

Semuanya akan mudah bila ia dapat menghabisi Dinda. Tapi ia tidak sanggup. Wajah polos gadis itu dan kebaikannya yang tidak mengharapkan balasan telah mencairkan sesuatu yang telah lama beku di dalam hatinya. Ditatapnya Dinda yang tengah pingsan, lalu ditutupi tubuh gadis itu dengan mantel bulunya yang tebal.

"Dasar kau sialan," rutuk Jalu sambil mengelus buah dada Dinda dengan pelan. Puting perempuan itu agak bengkak karena pagutannya yang terlalu keras saat mereka bercinta tadi. "Dasar kau sialan, Din."

Jalu menggigit bibirnya. Hatinya seperti bergejolak dengan panas untuk pertama kalinya. Ini semua gara-gara Dinda. Ini semua gara-gara dia.

Dinda Purwadinata.

Ia benar-benar tidak bisa membunuh Dinda, apalagi setelah apa yang terjadi di antara mereka. Tubuh gadis itu yang empuk dan saat ia menyetubuhinya tidak bisa terlupakan dari benaknya. Ia ingin mengulangi lagi dan lagi. Ia menginginkan Dinda. Ia sangat membutuhkan Dinda. Dengan perlahan, dibopongnya gadis itu lalu ia keluar dari sana. Senyum angkuh kembali tersungging di wajahnya.

END