The Night


Malam itu datang terlalu cepat. Saking cepatnya, sampai-sampai tidak ada yang sadar bahwa matahari sudah tergelincir dari ufuk untuk kembali tidur ke peraduannya yang abadi. Langit mulai kelam dan segera saja sang bulan bertukar peran dengan sang surya, menerangi jagad raya ditemani oleh ribuan bintang-bintang kecil sebagai dayang-dayangnya.

Gadis berambut merah itu sudah masuk ke dalam kamarnya sejak senja bertukar malam. Rambutnya yang siang tadi disanggul, sekarang sudah tergerai dengan rapi mencapai tengkuknya. Wajahnya yang saat upacara tadi tertutup bedak tipis, kini sudah bersih tanpa make up. Yang tertinggal hanyalah wajahnya yang polos dan alami.

Mary Jane menatap bayangan wajahnya di cermin. Ia mencoba menyunggingkan senyuman tipis di ujung bibirnya, akan tetapi ia malah terlihat seperti sedang menyeringai. Gadis itu menghela nafas dalam-dalam. Ia meneliti jauh ke dalam matanya dan mendapati ada keraguan di sana. Ada ketakutan yang berpendar di kedua bola matanya yang biru. Ia pun tak mampu menutupi kecemasan yang membuat wajahnya pucat.

 Ia sungguh tidak siap akan datangnya malam.

Malam ini adalah malam pertamanya sebagai istri dari Peter Parker, sang Spiderman.

Mary lagi-lagi mencoba tersenyum kepada refleksi wajahnya di cermin. Sekali ini ia tidak terlihat seperti sedang tersenyum atau pun menyeringai. Ia kelihatan seperti seseorang yang sedang meringis. Duh, apa mungkin ia setakut itu sampai-sampai tersenyum normal saja ia tak mampu?

Gadis itu memutar bola matanya. Mengatur detak jantungnya yang sudah sejak tadi berdetak tak beraturan. Kepalanya pun terasa berat dan seakan ingin pecah karena sebuah pemikiran terus saja menggelayuti otaknya sejak ia masuk ke kamar pengantinnya sore tadi.

Ia akan kehilangan sesuatu yang berharga yang sudah ia miliki dan ia jaga selama lebih dari dua puluh tahun.

Ia akan kehilangan� keperawanannya.

Lagi-lagi wajah pucat itu meringis di cermin. Ia semakin galau saat hatinya menyebut kata keperawanan. Mary mengepalkan kedua tangannya di depan dadanya dan menelan ludahnya. Ia tahu cepat atau lambat hal ini akan terjadi. Ia yang tadinya lajang, telah menjadi istri seorang laki-laki. Ia harus siap akan kehilangan mahkotanya sebagai seorang gadis.

Mary Jane melempar pandangannya dari cermin dan beralih ke ranjangnya. Ranjang pengantinnya. Ranjang itu adalah salah satu ranjang termahal di kota New York. Harry Osborn, teman sekaligus rival Peter yang memesannya untuk dibuat secara khusus. Ranjang yang dibuat dari kayu Jati itu berukuran besar, dengan pahatan gambar bunga teratai di bagian kepalanya. Kasurnya adalah kasur bulu angsa yang hanya dapat dipesan oleh beberapa orang jutawan di seluruh dunia. Dengan melihatnya saja, Mary sudah tahu betapa nyamannya tidur di atas kasur itu. Bukan itu saja yang dilakukan Harry untuk Peter, ia sengaja memesan seprai sutra terbaik dari Jepang. Seprai yang halusnya minta ampun itu sewarna dengan bola mata Mary, warna nila yang sangat indah.

Mary Jane mendesah setengah hati. Ranjang indah itu sepertinya akan menjadi ranjang pembantaian baginya.

Gadis itu masih sibuk dengan pemikiran-pemikirannya yang menakutkan saat ia mendengar sebuah ketukan lembut di pintu kamar. Mary tersentak dan tanpa sadar memegang erat kepala tempat tidur, seakan takut kedua lututnya tak mampu menopang berat tubuhnya yang dijalari dengan rasa ketakutan yang tak mampu dijelaskan dengan kata-kata.

"Mary, boleh aku masuk?" sebuah suara perempuan terdengar dari balik pintu.

Mary Jane mengenali suara itu dan ia menghela nafas lagi. Setengah berlari ia membuka pintu dan mendapati Saphire berdiri di depan pintu dengan senyuman manis. Saphire tidak sendirian, ada Jessie berdiri di sampingnya dengan wajah menggoda.

"Mary, kami ingin melihat keadaanmu sebentar saja, sebelum�" Jessie terkikik sebentar dan melirik ke arah Saphire dengan tatapan nakal.

Mary Jane menggeser langkahnya, mempersilakan keduanya masuk. Kedua wanita yang masih berpakaian putih itu masuk dengan langkah pendek-pendek.

Jessie memandang ke sekeliling kamar dengan takjub. Sebuah ranjang yang sangat mewah ditempatkan di tengah-tengah kamar. Di sisi kanannya terdapat sebuah meja rias dengan cermin yang sangat besar. Di sisi kanannya terdapat sebuah sofa yang sangat nyaman. Di sebuah meja kecil di samping kepala tempat tidur terdapat sebotol champagne dingin dan dua gelas bersih. Sepiring buah-buahan segar juga disiapkan di atas meja itu.

Singkat kata, kamar pengantin itu sempurna.

"Mary, ini indah sekali! Harry memang tidak main-main menyiapkan semuanya ini untukmu," seru Jessie.

Saphire mengangguk setuju. Wanita muda berambut orange itu menyentuh bahu Mary Jane membimbingnya untuk duduk di atas sofa. Kedua sahabat itu lalu duduk berdampingan.

"Mary, kami berdua datang untuk menemanimu sebelum perayaan pesta pernikahanmu berakhir dan para tamu pulang," ujar Saphire pelan.

Jessie mengangguk dan bergegas duduk di samping Mary. "Kami tahu, kau pasti waswas," bisiknya di telinga Mary.

Mary menatap Jessie dengan tatapan mengiyakan, "Heh?"

Saphire dan Jessie bertukar pandang dan keduanya lalu tersenyum penuh arti.

"Ini kali pertamamu kan, Mary?" tanya Jessie.

Dengan enggan Mary Jane mengangguk.

Saphire menepuk bahu gadis yang sekarang ini menatap lantai dengan pandangan setengah kosong itu.

"Mary, malam pertama memang kelihatannya menakutkan. Aku juga begitu saat akan melalui malam pertamaku dengan Hansi. Tapi percayalah, tidak akan seburuk yang kau perkirakan sebelumnya," kata Saphire dengan lirih.

Mary mendongak dan menatap Saphire dengan seksama. Ia melihat kejujuran di wajah sahabatnya itu. Saphire dan Hansi sudah menikah hampir setahun yang lalu. Tidak pernah sekali pun ia mendengar Saphire mengeluh apapun tentang pernikahannya dengan laki-laki itu. Apalagi soal malam pertamanya. Saphire sangat tertutup untuk hal yang satu itu.

"Apa tidak� menyakitkan?" tanya Mary Jane dengan suara serak yang sedikit banyak menggambarkan ketakutan hatinya.

Saphire mendehem, "Well, aku bohong kalau aku bilang tidak sakit sama sekali, tapi�"

Mary Jane langsung mendecak, "Tuh kan sakit," katanya putus asa.

Jessie terkikik geli, "Ya ampun, Mary. Kau sudah beberapa kali hampir mati karena diserang monster, masa kau takut sakit di malam pertamamu? Benar-benar gadis polos."

Mary Jane mendelik sebal ke arah Jessie yang makin terlihat senang melihat wajah Mary yang memerah karena kesal. Komentar Jessie barusan sama sekali tidak membuatnya merasa lebih baik.

Saphire buru-buru menepuk bahu Jessie, mengingatkannya akan tujuan utama mereka berdua ke kamar Mary Jane malam ini. Jessie cepat-cepat menutup mulutnya sendiri, menahan tawanya yang setiap saat siap lepas.

Saphire menyentuh tangan Mary Jane lalu menggenggamnya dengan lembut. Matanya menatap dengan penuh pengertian.

"Mary, kenapa kau memutuskan menerima lamaran Peter? Karena kau mencintainya kan?" tanya Saphire.

Mary Jane mengangguk tanpa pikir panjang. Cintanya pada Peter Parker yang notabene manusia yang memiliki kekuatan laba-laba tak perlu diragukan lagi.

"Saat kau memutuskan menerima Peter sebagai suamimu, maka saat itu juga kau sudah memutuskan bahwa kau akan menerimanya apa adanya dengan semua kekurangan dan kelebihannya. Kau akan mendampinginya melewati saat-saat baik dan buruk dalam hidupnya, merawatnya saat ia sakit dan menjaga harta bendanya sebagai istrinya."

Mary Jane mendengarkan perkataan Saphire dengan penuh perhatian.

"Itu adalah bentuk tanggung jawabanmu sebagai istri. Akan tetapi cinta juga membutuhkan pembuktian dalam bentuk lain. Bentuk yang hanya dapat kalian lakukan berdua. Sebuah bentuk hubungan yang akan mempererat hubungan kalian sebagai sepasang suami istri. Sebuah hubungan yang akan membawa kalian berdua ke dalam tahapan lain dalam hubungan kalian yang sebelumnya. Dan pastinya, kau harus berkorban sedikit untuknya. Kau mengerti kan maksudku?" tanya Saphire mengakhiri penjelasannya.

Mary Jane mengangguk lemah.

"Percayalah, pengorbananmu akan setimpal dengan apa yang kau dapat. Ingatlah selalu, kau melakukannya karena kau mencintai suamimu. Kau melakukannya karena kau sudah menaruh semua kepercayaanmu padanya, pada suamimu."

Kedua mata biru Mary Jane menatap Saphire dengan tatapan penuh rasa terima kasih. Sahabat adalah teman-teman yang selalu mampu meredakan rasa cemas, bahkan tanpa kau memintanya sekalipun. Saphire dan Jessie adalah dua orang sahabatnya.

"Terima kasih, Saphire. Aku tak tahu apa yang akan aku lakukan tanpamu dan juga kau, Jessie," kata Mary Jane seraya memeluk kedua sahabatnya itu.

"Ingat ya, Mary�" bisik Jessie di telinga Mary Jane, "Jangan teriak terlalu keras. Masih banyak tamu di luar," ia lalu tertawa tergelak-gelak.

Mary Jane mendelik ke arah Jessie lagi, akan tetapi kemudian memeluk gadis yang lebih tua darinya itu dengan erat.

***

Malam sudah menelan semuanya ke dalam kegelapan. Suara tamu yang sedari siang terdengar riuh rendah berangsur menghilang. Yang tertinggal hanyalah gumaman kecil yang sesekali terdengar. Juga kedua sejoli yang duduk berdampingan di atas sebuah sofa di kamar pengantin mereka.

Peter Parker duduk dengan tegang sambil menatap lurus ke depan. Ia sudah mengganti jasnya dengan sebuah kaos tipis berwarna gelap. Dahinya berkerut seperti biasa. Wajahnya menunjukkan kalau ia berada dalam pemikiran yang berat. Rasanya semua orang tahu apa isi pemikirannya saat ini.

Ia tidak tahu bagaimana harus memulai.

Mary Jane duduk di sampingnya dengan tatapan terpekur ke lantai. Baju tidur putihnya membalut manis tubuhnya yang sintal. Wajahnya masih sepucat tadi dan detak jantungnya pun sudah lebih cepat daripada saat sebelum Peter masuk kamar.

Ia hanya menunggu.

Peter mendehem. Membasahi kerongkongannya yang kering. Ia tak mau membuat suasana jadi aneh di antara dirinya dan Mary Jane. Ini bukan pertama kalinya mereka tidur di dalam ruangan yang sama. Dulu saat Mary melarikan diri dari siksaan ayahnya, ia tidur di sofa di kamar Peter. Apa bedanya dengan saat ini?

Bedanya, saat ini Mary Jane adalah istri sahnya. Langit dan bumi saksinya.

Peter menarik nafas dalam-dalam. Ia adalah laki-laki sejati. Manusia super yang mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan Mary Jane dari serangan Green Goblin, Dr. Octopus, Sandman, maupun Venom.

Masa berhadapan dengan Mary Jane saja, ia sudah panas dingin tak tahu harus bagaimana, seperti sekarang ini?

Peter menggeser duduknya mendekati Mary Jane dan dengan canggung melingkarkan tangan kirinya ke bahu gadis itu. Spontan saja Mary Jane terlonjak dari sofa dan bergegas menuju meja kecil untuk menuang champagne.

"Aku ambilkan minum ya, Peter�" kata Mary Jane berusaha mengalihkan perhatian dengan menuang isi botol champagne ke dalam gelas yang tersedia. Mary Jane tidak tahu apa isi botol itu, akan tetapi ia segera menyodorkan gelas yang satu ke tangan Peter dan gelas yang kedua ia seruput isinya sendiri.

Rasa champagne yang khas hampir membuat Mary Jane terlonjak dari tempatnya berdiri. Ia belum pernah minum sesuatu seperti itu sebelumnya dan ia kaget karena dengan cepat rasa panas menjalar ke seluruh tubuhnya.

Peter merasakan reaksi yang sama. Ajaibnya, champagne itu membuat dirinya merasa lebih percaya diri. Lebih berani. Dengan segera, pemuda berambut coklat itu menenggak habis isi gelasnya.

Mary Jane masih mengira-ngira apa kandungan minuman bernama champagne itu saat ia merasa sepasang tangan yang kekar melingkari pinggangnya yang ramping.

DEG!

Jantung gadis itu serasa berhenti detik itu juga, saat ia merasakan tubuh tegap Peter menempel di punggungnya. Ia melihat ke cermin dan dapat melihat pantulan dari dirinya dan Peter Parker yang sedang memeluknya dari belakang. Suaminya itu meletakkan dagunya di atas kepalanya. Ia lalu tersenyum ke arah bayangan Mary Jane di cermin.

"Rambutmu wangi sekali, MJ," puji Peter seraya mengusap wajahnya ke balik helaian-helaian rambut merah gadis yang belum satu hari menjadi istrinya itu.

Mary Jane tersenyum tipis mendengarnya. Ia menatap bayangan Peter di cermin.

"Apa kau takut, MJ?" tanya Peter.

Mary Jane mengangguk lemah.

Peter tersenyum dan mengeratkan pelukannya. Tangan kanannya lalu bergerak perlahan menuju wajah gadis itu. Tangan itu berhenti di pipi Mary Jane dan perlahan mengusapnya dengan lembut. Sementara tangan kirinya berlabuh di tangan kiri Mary Jane dan menggenggamnya dengan perlahan, meyakinkan bahwa gadis itu sudah berada di dalam genggaman tangan yang paling aman.

"Aku juga takut�" bisik Peter.

Mata Mary Jane membulat, seakan tak percaya akan apa yang ia dengar barusan.

"Kenapa?" tanyanya.

Peter lagi-lagi tersenyum. Berusaha menenangkan perasaan istrinya yang galau. Juga perasaannya sendiri.

"Seperti juga halnya dirimu, ini kali pertama untukku. Aku takut, aku tak mampu menyenangkanmu. Aku takut aku tak mampu memenuhi semua harapanmu terhadap malam pertama yang indah, yang menakjubkan, seperti halnya idaman semua gadis."

Mary Jane dengan cepat membalik badannya, lalu membenamkan kepalanya ke dalam dada bidang Peter. Aroma jeruk yang segar menguar dari tubuh suaminya itu, menimbulkan perasaan nyaman bagi dirinya.

"Jangan berkata begitu," ujar Mary Jane dengan mantap, "Apapun dirimu, akan kuterima dengan segenap hati."

Peter melepaskan dekapannya pada tubuh Mary Jane, lalu menangkup wajah gadis yang sudah ia cintai sejak kecil itu. Matanya menatap mata indah Mary Jane, mata yang selalu ia kagumi. Mereka berdua berpandangan untuk beberapa saat.

"Kau tahu, MJ, betapa lama aku memimpikan saat-saat seperti ini denganmu? Saat di mana kau menjadi milikku dan aku hanya akan menjadi milikmu seorang," Peter tersenyum.

Mary Jane merasa wajahnya memerah mendengar pernyataan Peter. Ataukah efek dari champagne yang ia minum?

Peter mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya, lalu menempelkan bibirnya pada bibir mungil gadis yang pernah membuatnya remuk redam karena hampir kehilangan dirinya akibat diculik Green Goblin. Perlahan tapi pasti bibirnya melumat bibir tipis sang istri, merasakan kelembutan dan rasa manisnya, menjelajahi setiap sudut bibir itu, mencari tahu di mana titik-titik sensitif di bibir itu yang akan membuatnya mendengar Mary Jane menyebut namanya.

Mary Jane membalas ciuman itu, membuka bibirnya dan memberi akses seluas-luasnya agar Peter bisa mengeksplorasi tempat-tempat terdalam bibirnya dengan bebas. Kedua lidah mereka saling menyentuh, menjelajah dan saling membelit, menandai bagian mana saja yang terasa nikmat dan akhirnya saling menghisap untuk memberikan sensasi terhebat dari pertarungan kecil itu.

Peter menghentikan ciumannya, lalu menatap wajah Mary Jane sekali lagi. Mary Jane membuka matanya yang sedari tadi tertutup, terheran-heran karena Peter berhenti. Matanya yang kebiruan bertanya tanpa kata.

"Aku hanya ingin menatap wajahmu sebentar saja, sebelum aku menjadikanmu milikku yang sebenar-benarnya," bisik Peter di telinga Mary Jane.

Lagi-lagi Mary Jane merasakan wajahnya memerah.

Peter lalu menggelitik cuping telinga istrinya dengan ujung lidah. Terdengar desahan dari Mary Jane yang hanya bisa mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami, seakan mencari kekuatan untuk bertahan. Perlahan Peter menyesap belakang telinga Mary Jane, memberi sentuhan khusus di salah satu titik sensitif bagi seluruh wanita itu. Mary Jane mengerang lirih dan lalu menarik wajah Peter ke dalam dadanya, seakan memohon pemuda itu untuk berhenti menggodanya.

"Pe-Peter�" bisiknya.

"Ya, Sayangku�"

"Kau tak tahu bagaimana rasanya," kata Mary Jane singkat.

Peter menyeringai, lalu dengan sigap menyelipkan salah satu tangannya ke pinggang Mary Jane dan tangan yang satunya lagi disusupkan ke balik punggung gadis itu. Peter membopong gadis montok itu dan membawanya ke tempat tidur. Diletakkannya Mary Jane ke atas ranjang. Mary Jane tak berkata apa-apa lagi, hanya matanya yang menatap Peter dengan penuh arti. Peter menyusul dengan membaringkan tubuhnya di samping tubuh Mary Jane lalu mengecup pipi gadis itu dengan lembut.

Mary Jane memutar tubuhnya ke samping dan wajahnya langsung berhadapan dengan wajah Peter. Jemarinya bergerak menyusuri dahi Peter yang berkerut, merasakan kulit pemuda itu yang terasa menghangat di ujung jemari mungilnya.

"Terima kasih atas segalanya, Pet."

"Segalanya?"

"Ya," jemari Mary Jane perlahan menyusuri rahang Peter yang keras, mengagumi tegasnya tulang pipi pemuda itu, "Jika malam itu kau tidak menolongku, aku tak akan pernah berada disini. Jika itu terjadi, mana mungkin aku bisa mengalami petualangan bersamamu, dan jatuh cinta kepadamu."

Peter menyeringai nakal, lalu dengan cepat meraih tubuh montok Mary Jane ke dalam pelukannya. Mary Jane merasakan hangat tubuh pemuda itu merasuk ke pori-pori kulitnya. Nyaman, itulah yang ia rasakan.

Peter lalu mencium Mary Jane dengan segenap hatinya. Gadis itu membalasnya. Ciuman Peter yang semula hanya mendarat di bibir, kemudian bergerak dengan pasti menuju leher Mary Jane, memberikan bekas memerah di lehernya. Mary Jane mendesah pelan. bibir Peter bergerak lagi menuju ujung buah dada sang istri, membuat Mary Jane mendesah lebih hebat lagi. Bibir itu menyentuh, menghisap, meremas dan mengeksplorasi seluruh bagian tubuh Mary Jane yang sedikit demi sedikit mulai tersingkap.

Peter berhenti sebentar. Ia melihat wajah Mary Jane yang memerah karena gelora dari dalam tubuhnya yang menyeruak keluar tanpa mampu ia tutupi. Ada tatapan puas di mata sipit Peter saat melihat Mary Jane bereaksi atas apa yang ia lakukan. Peter merasa memiliki kekuatan sebagai seorang laki-laki yang ingin memberikan kebahagiaan terhadap wanita miliknya. Akan tetapi, ia menangkap sebersit rasa cemas di mata Mary Jane.

"Kau takut, MJ?"

Mary Jane mengangguk.

Peter membelai pipi istrinya dengan lembut. "Jangan takut, Sayangku. Aku tidak akan menyakitimu."

Mary Jane mengerjapkan matanya berkali-kali.

"Aku tahu, Pet."

Peter tersenyum dan menenggelamkan wajahnya ke dalam lekuk-lekuk tubuh Mary Jane yang menggoda, lalu melanjutkan perjalanannya dengan menciumi  setiap inci dari tubuh mulus gadis itu. Meresapi setiap sentuhan yang ia buat di atas ladang miliknya itu. Menandai setiap inci tubuh itu sebagai hak miliknya seorang. Hanya milik Peter Parker seorang.

Pengembaraan Peter berujung pada vagina Mary Jane yang terpapar indah. Dia menatap keindahan yang selalu tersembunyi dan dijaga baik-baik oleh Mary Jane seumur hidupnya itu dengan penuh nafsu. Peter merasakan gairahnya memuncak. Penisnya yang sudah menegak terasa semakin membesar dan menegang. Dia sudah tak sabar untuk menyelami tubuh gadis itu dan merasakan kebanggaannya sebagai seorang laki-laki. Peter menghela nafas dalam-dalam. Mencoba menahan dirinya yang menggebu-gebu ingin memiliki Mary Jane seutuhnya.

Perlahan tapi pasti, Peter menempatkan penisnya di bagian bawah tubuh Mary Jane. Ujung penisnya tepat berada di depan selangkan gadis itu. Ada sesuatu yang basah dan memanas disana. Sesuatu yang mengundang Peter untuk masuk lebih dalam lagi. Dia ingin merasakan bagaimana nikmatnya penyatuan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan. Akan tetapi Peter tidak mau terburu-buru. Ia tidak mau menyakiti Mary Jane. Oleh sebab itu, ia mendaratkan ciuman lembut di bibir gadis itu. Ciuman yang penuh bujukan. Ciuman yang penuh dengan perhatian. Ciuman yang akan membuat Mary Jane merasa tenang.

"Kau siap, MJ?" bisik Peter sambil meremas-remas payudara Mary Jane dengan lembut.

Mary Jane menarik nafas panjang, lalu dengan lemah mengangguk.

"Kau percaya padaku?" tanya Peter lagi. Kini jari-jarinya menjepit dan memilin-milin puting Mary Jane yang menegak mungil kemerahan.

Mary Jane menutup matanya, isyarat bahwa ia sudah siap memberikan mahkota terindahnya sebagai seorang perempuan kepada pria yang sudah memperoleh janji dan sumpah setianya sebagai seorang istri.

Peter mendorong perlahan, mencoba menembus selubung tipis yang merupakan hadiah Mary Jane kepadanya. Pelan. Pelan sekali. Matanya tetap menatap mata Mary Jane saat ia melakukannya. Peter ingin meyakinkan Mary Jane bahwa ia tidak akan menyakitinya, akan menjaga kepercayaan gadis itu pada dirinya. Berpegangan pada payudara sang istri, Peter menusuk lebih dalam lagi dan spontan tersentak saat dirinya mampu menerobos pertahanan itu.

Selaput dara Mary Jane robek!

�Aaahhhhh!� Mary Jane menjerit tertahan. Air matanya mengalir turun tanpa sanggup ia tahan. Jemarinya memeluk kedua lengan Peter dengan erat, berharap kedua lengan yang kokoh itu dapat mengurangi rasa sakit yang terpusat di selangkangannya.

Peter berhenti sesaat. Ia tak tega menyaksikan Mary Jane meringis kesakitan. Sebersit penyesalan menyelusup dari dalam hatinya. Ia sungguh tak ingin menyakiti Mary Jane.

"MJ, apa kau mau aku berhenti?"

'Cinta juga membutuhkan pembuktian dalam bentuk lain. Bentuk yang hanya dapat kalian lakukan berdua. Sebuah bentuk hubungan yang akan mempererat hubungan kalian sebagai sepasang suami istri. Sebuah hubungan yang akan membawa kalian berdua ke dalam tahapan lain dalam hubungan kalian yang sebelumnya. Dan pastinya, kau harus berkorban sedikit untuknya.'

Perkataan Saphire terngiang-ngiang di telinga Mary Jane. Ya, Saphire benar. Selalu ada pengorbanan dalam cinta, Mary Jane membatin.

"Lanjutkan, Pet. Aku tak apa-apa," jawab Mary Jane pada akhirnya.

Peter tersenyum. Ia lalu melanjutkan tusukannya lebih mendalam. Tiap sentuhan di vagina sempit Mary Jane adalah bahasa cinta yang dikumandangkan Peter dengan segenap jiwa raganya. Tiap dorongannya adalah perwujudan cinta antara keduanya, yang akan mengantarkan mereka berdua menuju kenikmatan jiwa yang tidak dapat mereka definisikan dengan kata-kata. Tiap goyangan pinggulnya adalah cara Peter menyatakan 'betapa aku menginginkanmu'. Sentuhan-sentuhan itu adalah penjabaran cinta yang terkadang sulit Peter ucapkan dengan bahasa verbal.

Semakin lama, Mary Jane tak lagi merasa nyeri. Seiring goyangan Peter yang semakin cepat, dia merasa ada sesuatu dalam tubuhnya yang perlahan menyeruak, membuatnya mulai menikmati tiap sentuhan Peter pada tubuhnya. Sesuatu dalam dirinya menginginkan Peter untuk bergerak lebih cepat lagi dan menusuk lebih dalam lagi. Mary Jane ingin agar Peter memberinya sensasi nikmat yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

Tubuh mereka makin menyatu. Dengan pinggul saling mendorong dan menolak. Mereka berdua seperti menari. Seiya sekata dalam satu irama yang sama. Irama yang membius. Irama yang memabukkan. Irama yang menghantarkan mereka berdua ke suatu dimensi baru yang hanya mereka berdua yang dapat menjabarkan indah dan syahdunya perjalanan mereka itu.
Akan tetapi setiap perjalanan pasti akan ada akhirnya.

Peter merasa sesuatu di dalam tubuhnya ingin meledak. Mary Jane merasa ada sesuatu yang akan berdentum di bagian terdalam dirinya. Mereka kedua bertatapan dan sama-sama dapat membaca bahasa tubuh satu sama lain. Perjalanan mereka berdua akan segera sampai pada akhir tujuan.

Peter mempercepat genjotannya. Mary Jane mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami, berusaha untuk tidak lepas saat semuanya mencapai puncaknya. Nafas Peter memberat dan mendadak tubuhnya mengejang.

Dia melepas. Menyemburkan spermanya.

Di bawah, Mary Jane menyambut. Menyemprotkan cairan kewanitaannya.

�AARRGGHHHHHHHSSSSSS�� Mereka menjerit tertahan. Berbarengan. Cairan mereka yang menyatu perlahan meleleh keluar saat Peter mencabut senjatanya.

Sedetik kemudian, tubuh Peter ambruk di atas tubuh mulus Mary Jane. Nafasnya tersengal-sengal. Tubuhnya dibanjiri keringat. Butuh beberapa menit sebelum akhirnya Peter bisa bernafas dengan lebih teratur. Ia berguling ke sisi ranjang, menempatkan dirinya ke sebelah Mary Jane. Dilihatnya Mary Jane masih sibuk mengatur nafasnya yang juga memburu. Wajahnya memerah dan tubuhnya menghangat.

Mereka saling bertatapan. Keduanya saling melempar senyuman.

Peter merentangkan salah satu lengannya ke payudara Mary Jane dan meremasnya dengan lembut. Rukia menyambutnya dengan mengusap-usap penis Peter yang meringkuk dengan ujung basah. Mereka berbaring sangat dekat. Mereka tidak lagi berdua. mereka sudah menyatu. Mereka adalah satu.

"Aku mencintaimu, MJ."

"Aku juga mencintaimu, Pet."

"Kau adalah milikku seorang."

"Kau juga milikku."

Keduanya lalu menutup mata dengan senyuman tersimpul di bibir. Lelap kelelahan akibat perjalanan pertama mereka sebagai sepasang suami istri.

Malam beranjak lebih dalam. Menempatkan semua insan untuk tenggelam ke dalam tidur yang menenangkan. Menempatkan semua makhluk untuk berlindung ke dalam pangkuan malam untuk beristirahat, mempersiapkan hari esok yang lebih baik dari hari yang kemarin.

END